Estazolam De Brown

Estazolam De Brown
Becky Private Room


__ADS_3

22.


Selesai membaca buku biru itu, kini rifa menyimpulkan banyak hal,, namun sebelumnya harus mengajak emilia bertukar pikiran mengenai masalah kehidupan becky dan lainnya


“hidupnya bisa di bilang menyedihkan, menyakitkan, terlebih memiliki orangtua namun tidak ada gunanya” jelas rifa datar pada emilia


Emi mengangguk setuju,


“lebih baik lagi kalau sebenarnya becky tidak usah memiliki orangtua bukan?” gumam emi sambil mengambil buku hijau dan coklat


“becky sebenarnya memiliki beberapa bakat terpendam. Dia mengatakan kalau dia suka melakukan eksperimen kimia sendiri, di kamar dia biasa melakukan nya. Dan menurutku, obat yang di makan itu adalah ide dirinya sendiri” jelas emilia


“kimia? Tapi dikehidupan sekolah nya, dia mengatakan kalau tidak menyukai pelajaran itu. Bahkan nilai yang di dapat nya buruk,,,” jelas rifa mengeluarkan pendapat


“dia adalah salah satu siswa terbelakang disekolah itu, namun aku tidak tahu kebenaran nya” jelas rifa lagi


Emi sedikit memproses ucapan rifa kemudian berbicara lagi


“dia bercita cita ingin menjadi seorang apoteker, dia juga mengatakan kalau ayahnya membuatkan sebuah ruangan khusus untuk dirinya. Itu sudah ada sejak dia kecil, dan sampai besar hanya dia yang bisa masuk ke dalam itu. Kode ruangan kecil itu juga ada disini…” jelas emilia sambil menunjukkan isi tulisan


“tapi, kenapa disekolah, dengan keluarga dan dirinya sendiri begitu berbeda? Bukan kah ini aneh?” bingung rifa lalu mengingat ingat bagian penting yang ada dibuku becky itu


“kau tau apa yang sedang kupikirkan?” emilia memberi pokok pikiran baru, dan rifa juga memikirkan hal yang sama


“mengunjungi rumah becky” ucap rifa sambil menatap ke arah emi, tidak sengaja namun menatap emi dengan tatapan yang tajam namun lembut


Emi sedikit bereaksi dengan tatapan itu, namun kemudian mengelak.


“alamatnya ada disini, tapi rumah itu di jaga ketat oleh pihak kepolisian akhir akhir ini, apalagi becky yang juga meninggal. Bagaimana caranya?” tanya emi


“kita lakukan saat malam hari nanti…” ucap rifa bertekad, namun farhan sejak tadi sudah memperhatikan 2 orang itu


“jangan melakukan sesuatu yang aneh” ucap farhan mengejutkan emi dan rifa,


“aku akan ikut” ucap farhan lagi, membuat kedua orang itu bernafas lega sedikit. Untung saja tidak memarahi…

__ADS_1


** ** **


Tepat jam 9 malam, ketiga orang itu sudah bergerak menuju rumah becky. Rumah nya berada di pekarangan yang cukup sunyi, jadi kali ini lebih aman.


Farhan bertugas menjadi supir untuk membawa mereka bertiga, mengelilingi area pekarangan perumahan becky terlebih dahulu, untuk memastikan bahwa mereka akan aman saja.


“pintu depan dan belakang di jaga cukup ketat, syukurnya aku sudah memesan pizza itu tadi. Bawa obat tidur yang kukatakan tadi bukan?” ucap farhan bertanya pada emilia. Dan dia mengangguk.


Rifa mengantarkan pizza itu pada petugas berjaga. Setelah aman, emi rifa dan farhan bergerak masuk kedalam dengan berganti profesi sebagai petugas keamanan di rumah itu.


Rifa menggambarkan peta rumah itu dengan seksama, sesuai dengan ulasan di buku yang dijelaskan becky.


Letaknya ada di area tempat ternak yang sudah tidak terurus itu lagi, becky mengatakan kalau semua perlengkapan itu dibeli secara diam diam, bahkan bahan nya di beli secara ilegal. Tapi dia senang


“aku tau kalian berdua yang lebih ingin tahu apa yang terjadi dengan ke 4 buku itu, kakak akan berjaga disini. Masuk lah kedalam, namun hati hati” jelas farhan memegang kepala emi, dan memberi kode pada rifa untuk menjaga emi.


Kedua orang itu masuk ke dalam ruangan, memasukkan kode yang letaknya sedikit tersembunyi. Kalau tidak dijelaskan dibuku itu, emilia dan rifa benar benar tidak akan tahu


“kita akan berputat putar sedikit, ini bisa disebut juga dengan pola labirin, karena sedikit mirip. Tetap di belakang ku, dan ikuti aku dari belakang. Nyalakan senter dan arahkah ke bawah, jangan ke depan dan dengar aba aba dariku” jelas rifa protektif. Emi mengangguk mengerti dan mulai mengikuti rifa


Rumah itu cukup besar, rumah utamanya bisa dikatakan rumah yang cukup elite, kaya dan terawat. Lapangan nya juga cukup luas, dan bagian ternak keluarga itu juga bisa dikatakan luas dari biasanya. Sekitar ukuran 30 x 10 meter.


“783561,,,” emilia menyebutkan pin yang harus ditekan rifa,


Namun sebelum menyelesaikan menekan tombol pin itu, ada suara lain yang menghentikan


Tak,,,


Dug dug dug


“matikan lampu mu!” ucap rifa dengan cepat, menarik emilia ke arah tembok yang cukup sempit lalu bersembunyi disana


Ceklek…


Pintu itu terbuka

__ADS_1


Disana sangat hening dan sepi, bahkan detak jantung pun terdengar


“kenapa aku sedikt familiar dengan posisi ini ya?” batin emi sejenak, tapi kemudian terhenyak lagi


“tarik nafas dan tenanglah sedikit” ucap rifa pada emilia, dan perempuan itu mengikuti intruksi rifa, dia tenang sekarang.


Tak tak tak,,,


Seseorang keluar dari ruangan itu, kemudian berjalan pergi. Sebelum akhirnya benar benar pergi, orang yang belum diketahui siapa itu menggunakan penciuman nya untuk mencium bau.


“hemmmm,,, hemmmm,,, hemmmm” gumam orang itu, suara itu terdengar serak dan berat, bisa di simpulkan kalau suara itu suara lelaki. Jelas bukan becky lagi…


Tak tak tak


Langkah kaki itu terdengar menjauh, namun rifa adalah orang yang anti sipasi


“oksigen disini mungkin tidak terlalu banyak. Kau harus bisa mengendalikan dirimu, orang itu belum pergi.” Ucap rifa berbisik dekat dengan emi, tidak ada urusan jantung berdetak dengan cepat atau urusan percintaan… yang pasti saat ini adalah saat yang cukup menegangkan.


Rifa memberikan sebuah kacamata infrared, yang bisa melihat kegelapan… mereka menggunakan benda itu, dan berbicara menggunakan bahasa tubuh, cara berbahasa para tuna rungu…


“dia mencium bau kita, berarti dia orang yang sensitif. Kita harus bertahan sampai kira kira dia akan kembali lagi nanti kedalam, baru kita bisa keluar dari sini” ucap rifa kepada emi


“tidak rifa! Bagaimana kalau orang itu mengganti sandi dari pintu nya? Kita tidak bisa diam saja disini! Kita harus bergerak” jawab emi berpikiran lain.


Rifa sedikit terhenyak, kemudian berpikir panjang


“pistol ini untukmu, dan hanya bisa digunakan oleh mu. Aku sudah mengaturnya, jadi kau harus tetap ada di belakang ku,mengawasi dan bersiaga. Jangan hidupkan senter itu” perintah rifa yang di angguki OK oleh emi.


Setelah menyiapkan mental, emilia dan rifa akhirnya berdiri kemudian berjalan keluar dari area ruangan becky…


**


**


**

__ADS_1


Salam hangat


Ismi hana rizky


__ADS_2