Firasat

Firasat
Bab 27 bertemu kembali


__ADS_3

Tak lama bu nyai masuk kembali di iringi pak Nur, aku langsung menyalami nya.


" Bapak senang akhir nya kamu pulang nak.sekarang ayo kita makan siang dulu nanti kita ngobrol-ngobrol lagi." ucap pak Nur, aku hanya mengangguk dan mengikuti ke ruang makan.


selesai makan kami menuju ruang tamu kembali.


" Nak kamu pasti udah nggak sabar ingin ke rumah mu kan,? ibu ambilkan kunci rumah mu dulu ya, nanti kita sama-sama ke sana."


" Iya bu."


setelah bu nyai menyerahkan kunci rumah, kami pun melangkah keluar menuju rumah ku. begitu rumah terbuka, aku langsung menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk. melihat ku berkaca-kaca, bu nyai langsung menghampiri dan mengusap punggung ku.


" Ayo nak kita masuk, ada yang ingin ibu dan bapak sampaikan sama kamu." lalu kami bertiga pun duduk di ruang tamu, rumah ini terlihat bersih dan tidak terlihat rumah tak berpenghuni.pasti pak Nur dan bu nyai yang selalu membersihkan rumah ku.


" Ada apa bu,?

__ADS_1


" begini nak, sebulan yang lalu ada orang datang kesini, dia sedang mencari lahan untuk di jadikan pabrik di desa ini. kebetulan tanah milik warga yang ada di belakang dan samping rumah mu sudah di jual ke mereka, hanya tinggal rumah mu yang berada di tengah-tengah nya.jadi mereka menanyakan tentang rumah mu, mereka berencana ingin membeli nya.mereka juga bilang berani dengan harga tinggi. kebetulan handphone ibu waktu itu rusak jadi ibu tidak bisa menghubungi mu. tapi mereka sudah memberikan kartu nama supaya nanti kamu bisa menghubungi nya."


" Mmm.. gimana ya bu, indah bingung. sebenarnya indah juga memang lagi butuh biaya. indah ingin mengurus surat cerai ke pengadilan karena mas reza nggak mau ngeluarin uang sepeser pun untuk mengurus nya. indah juga nggak tahu biaya ke pengadilan berapa. tapi rasanya berat harus menjual rumah peninggalan ayah dan ibu."


" Nak apa selama kamu menikah, kamu nggak bahagia,? tanya bu nyai.aku menunduk mendengar pertanyaan bu nyai.


" Awal nya pernikahan kami sangat bahagia, dan keluarga nya pun sangat menyayangi ku. tapi setelah setahun berjalan, pernikahan kami mulai banyak masalah, terlebih ibu mertua selalu ikut campur.awal nya aku ingin bertahan, tapi aku nggak kuat dengan hinaan mereka."


" Dan mas reza pun udah punya wanita lain, bahkan dia udah berani membawa ke rumah ibu nya untuk di kenalkan sebagai menantu baru di saat kami maiah sah suami istri." tutur ku dengan menahan sesak, mengingat kembali membuat ku sakit. tapi di depan mereka aku berusaha baik-baik saja.


" Tapi syukur lah sekarang kamu udah bebas dari mereka, kamu harus tunjukin pada mereka nak supaya mereka menyesal telah mencampakkan mu, ibu geram mendengar nya." timpal bu nyai yang di anggukin oleh pak Nur di samping nya.


" Lalu sekarang gimana nak keputusan mu,? apa kamu mau menjual nya,? ibu tahu pasti kamu sangat berat menjual rumah ini, tapi kehidupan mu pun terus berjalan. kamu nggak perlu khawatir,jika kamu menjual rumah ini,kamu masih tetap bisa tinggal di kampung ini. rumah ibu terbuka lebar untuk mu nak, kamu bisa pulang dan tinggal sama kami. kami akan sangat bahagia jika kamu mau tinggal bersama bapak dan ibu, rumah kami terasa sepi karena hanya berdua, dengan kehadiran mu pasti kebahagiaan kami terasa lengkap." ucap bu nyai dengan lembut sambil mengusap rambut ku.


" Beberapa hari lalu, indah mimpiin ibu. di dalam mimpi indah, ibu bilang jika indah ingin menjual rumah ini, ibu dan ayah nggak keberatan. indah masih penasaran kenapa dalam mimpi itu ibu mengatakan hal itu."

__ADS_1


" Mungkin itu pertanda baik nak untuk kehidupan mu ke depan nya. dan mungkin almarhum ayah ibu mu setuju kalau rumah ini di jual. ibu bukan nya memaksa mu untuk menjual nya, hanya saja ibu merasa rumah ibu pun cukup untuk kamu tinggal di sana."


" Dan kami ini udah tua, tak ada sanak saudara, jika kami pergi dari dunia ini, rumah kami nggak ada yang mengurus nya. dengan ada nya kamu, ibu bisa menyerah kan nya padamu nak karena harta nggak di bawa mati.lagi pula kami tulus menyayangi mu, kami udah mengenal mu sedari kamu masih bayi," ucap nya membuat ku terharu mendengar penuturan bu nyai.


" Kalau kamu berminat, kamu bisa menghubungi nomor yang ada di kartu nama ini," bu nyai menyodorkan kartu nama yang telah dia simpan, lalu aku pun mengambil nya. mungkin bu nyai benar jika aku menjual rumah ini, itu akan membuat kehidupan ku lebih baik ke depan nya. segera ku simpan kartu nama yang bu nyai berikan tadi. aku akan menghubungi nya nanti.


sekarang sudah jam 4 sore, bu nyai dan pak Nur sudah kembali ke rumah nya satu jam yang lalu, aku merenung di dalam rumah seraya memindai seisi rumah. aku masih membayangkan jika rumah ini aku jual. dan sebaik nya mungkin aku jual saja, aku ingin memperbaiki kehidupan ku. dengan uang hasil jual rumah, aku bisa membuka usaha. Ya... aku akan membuktikan pada mas reza dan keluarga nya yang selalu menghina ku dengan sebutan gadis kampungan dan miskin. akan ku tunjukan pada mereka siapa diriku yang sekarang. aku akan membalas kan sakit hati ku.


aku langsung menghubungi nomor yang ada di kartu nama yang bu nyai berikan tadi. dan mereka akan menemui ku besok. semoga keputusan ku kali ini tidak salah.


***


jam 10 pagi setelah sarapan aku membersihkan rumah mulai dari dalam sampai teras, sambil menunggu kedatangan orang yang ingin membeli rumah ku. tak berapa lama ada mobil berhenti di depan rumah, terlihat seorang laki-laki turun dari mobil dan membuka kan pintu mobil baris ke dua. kemudian turun lah laki-laki dengan setelan rapi memakai kemeja dan jas hitam. dengan aura dingin dan tatapan tajam laki-laki itu menatap ku dengan tatapan yang sulit di artikan. melihat wajah lelaki itu,aku seperti tidak asing. tapi entah pernah melihat nya dimana.


Ketika aku sedang berpikir seraya menatap wajah lelaki itu,terdengar suara deheman dari laki-laki yang membuka kan pintu mobil tadi, seperti nya dia ajudan nya. lalu dia melangkah menuju tempat ku berdiri dengan tersenyum ramah, berbeda dengan lelaki yang bersama nya. tidak ada senyum sedikit pun di wajah nya.

__ADS_1


__ADS_2