
" Kop..kop..per... yang berisi uang hilang." jawab ku terbata saking terkejut dan syok melihat kenyataan.
" Hilang,?? apa kau yakin menyimpan nya di dalam lemari itu,? tanya pak Dirgantara dengan santai nya dan masih dengan aura dingin.
" Saya sangat yakin pak, saya menyimpan nya beserta dompet bapak di sini. tapi koper nya sekarang nggak ada. sedangkan dompet bapak masih ada." ucap ku dengan tak kuasa menahan perasaan sedih. aku benar-benar bingung kenapa koper ku bisa hilang, kalau ada maling kenapa rumah ku masih dalam keadaan terkunci dari dalam, dan tak terlihat kalau ada maling yang masuk.
" Apa kamu mencurigai seseorang,? tanya pak Dirgantara kembali.
" Mencurigai seseorang,? maksud anda,??
" Mungkin ada orang yang kamu curigai yang mengambil uang mu,? aku menggeleng karena memang tidak ada yang mencurigakan. aku benar-benar bingung sekarang harus bagaimana. uang yang akan aku gunakan untuk masa depan ku hilang semua nya. aku mengambil dompet milik pak Dirgantara lalu menyerah kan nya. aku melangkah kembali ke ruang tamu. kami pun duduk kembali.
Aku masih terdiam, perasaan ku saat ini sangat sedih sekali. rumah ini sudah aku jual, dan uang hasil jual rumah ini raib tak tersisa. entah bagaimana kehidupan ku ke depan nya.Di saat sedih seperti ini, aku teringat bu nyai dan pak nur.
" Orang tua angkat mu tidak kamu panggilkan ke sini untuk menjadi saksi bahwa kamu sudah menandatangani semua berkas jual beli rumah ini. " tanya pak Dirgantara. aku pun mengangguk dan meminta ijin keluar untuk memanggil mereka.
Tok.. tok.. tok..
" Assalamu'alaikum bu.." ucap ku ketika sudah di depan rumah nya. rumah bu nyai dan pak Nur terlihat sepi sekali. tak biasa nya rumah mereka jam segini sunyi dan tak terlihat ada nya tanda-tanda orang di dalam rumah. aku merasa heran kemana mereka. tumben sekali, pikir ku.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum pak.. bu.. " kembali ku ucap kan salam lebih nyaring. ketika melihat ke gagang pintu aku melihat ada gembok di sana. kenapa rumah mya di gembok dari luar, kalau di gembok dari luar tanda nya mereka tak ada di dalam. aku semakin heran dan penasaran kemana pergi nya mereka, kenapa mereka tak membangun kan ku. biasa nya pagi-pagi sekali mereka sudah ke rumah ku untuk mengajak sarapan bersama.
Belum selesai rasa penasaran ku, Tiba-tiba datang sebuah mobil dan berhenti di depan rumah bu nyai. terlihat seperti satu keluarga turun dari mobil dan melangkah menghampiri ku.
" Permisi, kamu mencari siapa,? tanya seoarang laki-laki yang berusia sekitar 55 tahun.
" Saya mencari bu nyai dan pak Nur, pak. dari tadi saya panggil tidak ada jawaban. tapi seperti nya mereka sedang pergi karena pintu nya di gembok dari luar." sahut ku. mereka saling tatap dengan wajah heran.
" Kamu memang nya berasal dari mana,? tanya nya lagi dengan wajah heran melihat ku.
" Rumah saya di sebelah rumah bu nyai ini pak, tapi saya sudah lama baru pulang lagi ke desa ini.Bapak dan ibu ini siapa,? lalu ke sini mau mencari siapa,? tanya ku balik.
" Di jual??!! nggak mungkin pak, kemarin mereka masih ada di sini dan mereka nggak bilang apa-apa." sahut ku tak percaya.
" Mereka sudah menjual rumah nya 1 bulan yang lalu pada kami,tapi mereka minta waktu paling lama 3 bulan untuk mengosongkan rumah ini. kami pun menyetujui nya karena kebetulan kami juga tidak untuk di tempati buru-buru. karena rencana nya rumah ini akan kami renovasi untuk di jadikan villa.dan kemarin sore mereka menelepon kami kalau malam nya akan mengosongkan rumah ini. makanya pagi ini kami kemari."
Mendengar penuturan mereka membuat ku semakin terkejut, kenapa mereka tidak memberitahu ku.kenapa mereka menjual rumah nya dan pergi diam-diam.padahal aku ingin menanyakan tentang hilang nya koper ku yang berisi uang. badan ku rasanya lemas dengan kejadian hari ini.
aku pun pamit pada mereka untuk kembali ke rumah. setelah masuk rumah aku terduduk dengan lesu, rasanya aku ingin menangis sejadi-jadi nya. orang tua angkat yang selama ini selalu ada di samping ku entah pergi kemana tanpa memberi tahu ku.dan aku juga masih penasaran kenapa mereka pergi tiba-tiba dan diam-diam seperti ini.
__ADS_1
" Bagaimana,? orang tua angkat mu apa ikut ke sini,? kalau memang begitu, kita akan menunggu nya." tanya pak Dirgantara, suara nya yang tegas dan terdengar berat membuat ku buyar dari lamunan. aku berusaha menahan tangis.
" Mereka sudah pindah, dan ternyata rumah nya pun sudah di jual 1 bulan yang lalu. tadi penghuni baru nya baru saja tiba dan memberitahu ku. aku tidak tahu kalau mereka pindah dan juga sudah menjual rumah nya, karena selama ini mereka tidak memberi tahu ku dan ketika kemarin kami berbincang pun mereka tidak menceritakan apa-apa." jawab ku lesu.
" Apa mereka punya kunci rumah mu,? aku heran dengan pertanyaan pak Dirgantara.
" Tentu saja, karena selama ini mereka lah yang merawat rumah ku selama aku berada di kota."
" Apa kau tidak mencurigai mereka atas hilang nya koper mu yang berisi uang itu,? tanya nya kembali.
" Mereka selama ini sangat baik dan menyayangiku seperti anak nya sendiri, jadi tidak mungkin mereka tega melakukan itu pada ku."
" Apa kau yakin,? gadis desa seperti mu ternyata mudah sekali di bodohi," ketus nya dengan senyum menyeringai.
" Apa maksud anda,? ucap ku kesal mendengar perkataan nya. lalu dia menyodorkan handphone nya ke atas meja, dan memutar sebuah rekaman suara.
" Apa ibu sudah menemukan sertifikat rumah nya indah,? kita harus bergerak cepat bu, takut indah keburu pulang ke desa ini karena sudah 2 tahun dia tidak pulang."
" Ibu sudah berusaha mencari nya pak tapi masih belum ketemu, pintar juga anak itu menyembunyikan surat berharga nya. ibu kira dia gadis lugu."
__ADS_1
" Sudah hampir 3 tahun kita menanti untuk mengambil harta benda nya, tapi belum ada hasil nya hingga detik ini. Susah payah kita berpura-pura baik supaya dia percaya sama kita, dan mumpung sekarang ada orang yang menawar rumah itu jadi kita tidak perlu susah-susah untuk menjual nya."