
samar-samar aku mendengar perbincangan mereka di ruang tamu. rumah kontrakan ini tidak terlalu besar sehingga suara mereka terdengar jelas.
" Cantik ya mas anak bu rita tadi. kulit nya putih mulus, penampilan nya juga modis banget." terdengar suara rena.
" Iya nggak kaya istri kamu tuh, penampilan nya kampungan banget, dasar nya miskin makin keliatan miskin nya. malu-maluin aja.! usia masih 20 tahun tapi penampilan nya kaya emak-emak. muka kusam, penampilan lusuh, nggak bisa ngerawat diri banget bikin nggak enak di pandang mata," timpal ibu mertua.
" bener tuh mas, aku aja malu ngakuin dia sebagai kakak ipar ku," rena masih melanjutkan hinaan nya.
" Ibu sama kak rena nggak boleh gitu, bagaimana pun mba indah kan istri nya mas reza," tegur reva adik bungsu mas reza.
" Eh diam kamu anak kecil, jangan ikut campur,! rena memarahi reva.
Mendengar hinaan mereka,buru-buru aku meletakkan piring bekas makan ku,lalu berlari masuk ke dalam kamar.hati ku sakit sekali mendengar nya,dada sesak rasa nya.
tapi aku hanya bisa menangis meratapi nasib ku,tidak ada tempat untuk mengadu.satu-satu nya orang yang harus nya bisa untuk tempat aku berkeluh kesah, nyata nya tidak membela ku.
***
Aku membuka mata melihat ke arah luar jendela,suasana di luar sudah gelap.tenyata dari sore tadi aku ketiduran.dan ku lirik jam sudah pukul 7 malam.mungkin karena banyak menangis jadi aku lelah lalu tertidur.
Di luar kamar begitu sunyi,tidak terdengar suara mertua dan adik ipar ku.bahkan mas Reza pun tidak ada di kamar.
dengan langkah gontai aku berjalan menuju ruang tamu,benar saja mereka semua tidak ada.aku intip keluar rumah dari celah jendela,dan ternyata motor mas Reza pun tidak ada di luar.lalu aku menuju dapur,piring bekas makan tadi masih berada di posisi nya.mereka pergi tanpa membereskan bekas makan terlebih dahulu.
lekas aku beres-beres dan mencuci piring.setelah selesai aku kembali ke kamar.
__ADS_1
aku kembali merebahkan diri di kasur,saat ini pikiran ku berkecamuk.aku menerawang memikirkan sikap mas reza yang tidak pernah ada di rumah saat libur kerja bahkan saat pulang kerja pun selalu pulang larut malam,entah apa yang di lakukan nya di luar sana.jika aku bertanya pun percuma saja,yang ada makian lah yang keluar dari mulut nya.aku seperti istri yang tak di anggap,jika mas reza sudah tidak mencintai ku lagi tapi kenapa dia tidak menceraikan aku.
mas reza sikap nya sangat dingin, bahkan kami sudah lama tidak pernah berbincang hangat layak nya suami istri. setiap bertemu, kami seperti orang asing.
padahal dulu sangat perhatian dan lemah lembut.
aku bingung apa yang harus aku lakukan, seandainya masih ada ayah dan ibu pasti aku tidak akan sesedih ini, dan aku tidak akan merasa kesepian.
aku kira yang namanya pernikahan itu penuh dengan kebahagian, karena sedari kecil hingga dewasa aku melihat ayah dan ibu selalu hidup rukun, bahagia, dan saling menyayangi. tidak pernah sekalipun melihat mereka bertengkar.
tapi pernikahan yang aku jalani sangat jauh berbeda dengan pernikahan ayah dan ibu ku.
aku rindu dengan ayah dan ibu, aku juga rindu dengan sikap mas reza yang dulu.
Tok.. tok.. tok.. Assalamu'alaikum.,"
" Waalaikum salam." balas ku sambil melangkah ke arah pintu.
" Eh mba ida, ada apa mba,? tanya ku ketika melihat tetangga ujung rumah di depan pintu.
" indah saya mau antarkan bingkisan.
kebetulan di rumah saya sedang ada syukuran kecil-kecilan, tolong di terima ya. kalau begitu saya permisi dulu, Assalamu'alaikum." pamit nya
" Waalaikum salam.. makasih banyak ya mba." sahut ku
__ADS_1
setelah mba ida berlalu, segera ku tutup pintu. kebetulan sekali tadi sore aku makan sedikit itu pun hanya dengan garam, bersyukur disaat perut sedang lapar ada yang mengantarkan makanan.
gegas aku buka bingkisan tadi, isi nya ada nasi dan ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapan nya. ada 1 buah pisang dan jeruk juga. aku yang melihat isi makanan itu makin terasa lapar, tak menunggu lama aku langsung menyantap nya sampai habis. sekarang perut ku terasa kenyang sekali. buru-buru aku merapikan bekas makan ku sebelum mas reza pulang.
sambil menunggu mas reza pulang, aku duduk bersantai di depan TV. setengah jam menunggu masih belum pulang juga. ku lirik jam di dinding menunjukan pukul 9 malam. sesaat terdengar suara deru motor di depan teras, ku intip dari celah jendela. ternyata rena dan ibu mertua, tak lama menyusul motor mas reza di belakang nya yang membonceng reva.
buru-buru aku masuk ke dalam kamar, aku akan pura-pura tidur saja. jangan sampai aku bertemu dengan mertua ku malam ini, karena pikiran ku sudah lelah.
suara pintu depan di buka, tanda nya mereka sudah masuk ke dalam rumah. mereka terdengar ceria sekali dengan suara canda di iringi tawa ke tiga nya. aku yang mendengar nya merasa semakin sedih, seandai nya mereka memperlakukan ku layak nya keluarga pasti saat ini aku sudah bergabung dengan mereka.
" Makanan di restoran tadi enak-enak banget ya bu, kapan-kapan aku jadi pengen kesana lagi.
nanti kalau mas reza gajian ajak kita kesana lagi ya mas, seru banget satu keluarga berkumpul menikmati makanan lezat di restoran mewah," suara rena terdengar nyaring sampai ke dalam kamar.
" Iya tenang aja nanti kalau mas udah gajian, akan mas ajak kesana lagi." balas mas reza.
" Oh ya bu, baju yang tadi ibu beli mana,? coba aku lihat. tadi baju nya bagus-bagus banget ya bu tapi sayang kita hanya boleh beli 1 baju saja. padahal tadi ada yang bagus juga harga nya hanya 300 ribu."
" Iya nih kamu pelit banget sih za, masa ibu minta beli 2 baju saja tidak boleh. kan harga baju nya juga murah hanya 500 ribu untuk 2 baju."
" Bukan nya pelit bu, tapi tadi kita kan habis makan di restoran mewah. tadi ibu lihat sendiri kan daftar menu nya mahal-mahal semua. jadi uang ku nggak cukup untuk membelikan ibu dan rena baju yang lebih. aku janji nanti kalau aku gajian, akan aku belikan."
" Kamu janji ya..?" ucap ibu.
" Aku juga dong mas, masa cuma ibu aja."
__ADS_1
" iya nanti aku beliin, tenang aja."