Firasat

Firasat
Bab 9 mimpi


__ADS_3

" Dan tadi pagi nggak sengaja aku lihat pesan masuk di handphone mas reza ada wanita yang mengirimi pesan dengan kata-kata kangen," susah payah aku menahan, air mata ini akhir nya jatuh juga.Rahma yang melihat itu langsung mengusap lengan ku untuk menenangkan.


" Kamu yang sabar ya, coba kamu bicarakan baik-baik sama suami kamu tentang siapa wanita itu. siapa tahu itu hanya salah paham. untuk penampilan, mungkin kamu bisa sedikit merubah penampilan mu dengan sedikit make up dan pakaian yang kamu kenakan bisa di sesuai kan dengan usia mu supaya terlihat lebih fresh." saran nya.


" Masalah nya semua butuh modal kan Ma, jangan kan untuk membeli semua itu. buat makan aja pas-pas an."


" Ya ampun indahh..kamu minta di modalin dong sama suami kamu, kalau dia mau istri nya cantik yah harus mau ngeluarin duit. emang nya cantik nggak butuh modal." sungut nya.


" Tapi aku nggak yakin kalau mas reza mau ngasih aku uang tambahan buat perawatan, buat kebutuhan dapur aja nggak mau tahu.gaji nya habis di bagi-bagi untuk ibu dan adik-adik nya."


" Yaudah bilang sama suami kamu, kalau gitu jangan banyak protes terima aja apa ada nya.kok aku jadi gemes ya sama suami kamu, udah pelit banyak nuntut lagi," tambah nya sambil geleng geleng kepala.


Waktu berjalan, jam sudah menunjukan pukul 3 sore. semua pesanan sudah di ambil oleh para pemesan, sekarang saat nya kami bersiap-siap tutup toko. karena hari ini memang khusus untuk menyiapkan pesanan saja.


setelah menutup toko kami berpisah beda arah.


selang tak berapa lama angkutan yang biasa aku tumpangi lewat, segera aku naik.


tepat jam 4 sore aku sampai di rumah.ku lihat pintu teras terbuka lebar, mungkin mas reza. pikir ku.


segera ku langkah kan kaki masuk. tiba-tiba...


" Eh masih inget pulang juga kamu,? hari libur bukan nya ngurusin suami di rumah, malah keluyuran.enak banget ya jadi kamu, suami cape nyari uang, kamu malah enak-enakan ngabisin uang suami." belum sempat aku mengucapkan salam, mertua langsung mencecar dengan berbagai tuduhan.

__ADS_1


" Saya habis pulang kerja bu, pemilik toko meminta saya masuk hari ini karena ada pesanan banyak yang akan di bawa ke acara besar," tutur ku pelan.


" halahhh... alasan,! bilang aja kamu nggak betah di rumah. mertua datang mau makan tapi nggak ada apa-apa di meja makan.bahkan di dapur tak ada apapun untuk di masak. kasihan sekali anakku punya istri tapi nggak bisa ngurus suami dan ngurus rumah. untung anak ku sabar, kalau tidak udah di ceraikan kamu dari dulu.! Udah nggak bisa kasih anak, apa yang bisa di harapkan deri istri model kamu."


" Dulu saya kira kamu menantu baik, makanya saya setuju reza nikahin kamu. nyata nya kamu menantu picik, kamu nggak rela kalau saya sebagai ibu nya reza dan juga adik-adik nya reza menikmati gaji nya,hah??!


" kami ini keluarga nya, sedangkan kamu siapa,? kamu itu hanya orang lain di sini, kalau reza ceraikan kamu jadi nya mantan, tapi kalau yang nama nya keluarga nggak ada kata mantan.jadi kamu tidak usah iri pada kami." kamu harus nya bersyukur dan berterima kasih karena reza rela menikah dengan gadis miskin dan kampungan seperti kamu.jadi orang kok nggak tahu diri." cerocos ibu mertua tanpa jeda, aku yang tidak di kasih kesempatan untuk bicara hanya bisa diam.


Dari perkataan ibu mertua yang membahas gaji,seperti nya mas reza sudah mengadu.


aku harus meluruskan agar tidak ada salah paham.


" Bu, ibu jangan salah paham. saya nggak ada iri atau pun nggak rela kalau mas reza memberikan gaji nya untuk ibu atau pun rena dan reva, saya ikhlas kok.saya juga paham kalau anak laki-laki sampai kapan pun tetap milik ibu nya."


mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut ibu mertua membuat perasaan ku sakit, apa lagi yang mertua bahas salah satu nya selalu masalah anak. padahal semua nya itu bukan keinginan ku. kalau Tuhan belum mempercayakan, manusia bisa apa.


Akhir nya aku diam, tak membalas ucapan mertua.kalau aku bersuara lagi bisa makin panjang.


karena percuma saja apa pun yang aku katakan tetap salah di mata mertua,


tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah, belum sempat ku langkah kan kaki menuju pintu, pemilik motor tadi langsung tergesa-gesa masuk ke rumah tanpa salam dan mengabaikan ku yang berdiri dekat pintu.dengan sinis nya dia melirik ku sekilas.


" Bu, handphone aku jatuh di jalan. terus layar nya retak. pokok nya aku nggak mau tahu, harus beli handphone yang baru,! rengek rena adik ipar ku yang masih duduk di bangku SMA.

__ADS_1


Melihat itu, aku memilih pergi ke dalam kamar untuk merebahkan diri. dari kemarin hingga hari ini badan rasa nya lelah,serasa remuk. di tambah lelah pikiran.


ketika baru beberapa langkah, terdengar suara ibu mertua, nada bicara nya seperti sengaja dibuat nyaring agar terdengar oleh ku.


" Iya nanti minta belikan sama mas mu, dari pada uang nya di kasih ke orang lain. lebih baik buat nyenengin keluarga nya," sindir nya.


aku terus melangkah pura-pura tak mendengar ucapan nya.


setiba nya di kamar, ku rebahkan badan.


mas reza tak ada di rumah, entah pergi kemana. apa pergi dengan wanita yang mengirimi pesan tadi pagi ya,gumam ku dalam hati.


ku lirik jam sudah setengah 5 sore, rasa lelah membuat ku tak bisa menahan rasa kantuk, tak menunggu lama aku pun tertidur.


**


" Nak, yang sabar. kamu harus kuat ya.. jangan menyerah dan putus asa. kamu harus bangkit, ibu yakin kamu bisa menghadapi semua nya sendiri. jangan biarkan orang lain menginjak-injak harga dirimu. ayah sama ibu nggak apa-apa jika rumah itu mau di jual. kamu gunakan lah buat kehidupan mu agar kamu tidak di remehkan lagi." elus an lembut di kening membuat ku terbangun.


" Ibuu...,!! panggil ku setengah sadar.


aku terperangah karena melihat ke sekeliling kamar tidak ada siapa-siapa.


ternyata tadi hanya mimpi, tapi kenapa terasa nyata. ku lihat jam sudah menjelang maghrib.

__ADS_1


__ADS_2