
" Tapi nak, apa bapak dan ibu tak merepotkan mu nanti nya,?
" Pak..Bu..Aku nggak merasa di repotkan sama sekali, justru aku akan merasa senang.karena di saat aku terpuruk atas kepergian orang tua ku, bapak dan ibu selalu ada di samping ku. aku serasa masih memiliki orang tua." ucap ku seraya mengelus lengan bu nyai. beliau terlihat tampak terharu.
" Ya udah nak..nanti biar bapak dan ibu pikirkan dulu. kalau begitu kami pulang dulu ya.. ibu mau masak untuk makan siang.nanti kita makan siang bersama,setelah masakan nya matang akan ibu panggil," tutur bu nyai seraya bangkit dari duduk nya. Lalu mereka pun melangkah hendak keluar rumah.
" Baik bu..terima kasih banyak ya bu., setelah merapikan ini nanti aku ke rumah ibu." ucap ku langsung gegas merapikan semua nya. ketika sedang rapi-rapi aku melihat di pojokan sofa ada domoet, merasa heran langsung aku ambil dompet itu. aku memperhatikan dompet yang aku pegang, seraya mengingat dompet siapa yang tertinggal di sofa rumah ku. kalau dompet pak Nur rasanya tidak mungkin karena sedari tadi pak Nur duduk di sebrang sofa ini.batin ku.
untuk menghilangkan rasa penasaran, ku berani kan untuk membuka dompet itu. siapa tahu di dalam nya ada data pemilik nya. setelah membuka nya lalu aku perhatikan tanda pengenal di sana.
" DIRGANTARA SADEWA "
Aku terpaku melihat tanda pengenal nya, ternyata dompet ini milik si pria dingin tadi. aku masih penasaran dengan laki-laki itu yang serasa tidak asing bagi ku. aku perhatikan kembali foto di tanda pengenal nya. setelah memperhatikan dengan seksama, aku baru ingat kalau si pria dingin itu yang pernah bertabrakan dengan ku saat di restoran waktu itu. tak di sangka dunia begitu sempit, ternyata dia orang yang membeli rumah ku.
Tanpa menunggu lama, aku langsung mengambil gawai ku untuk menghubungi orang yang sama ketika aku menelepon kemarin. berulang kali aku menelepon nya tapi tak tersambung. aku pun memutuskan untuk menghubungi nya lagi nanti.
sekarang sudah jam 1 siang, setelah selesai membereskan semuanya, aku melangkah keluar rumah menuju rumah bu nyai ingin membantu nya memasak untuk makan siang kami.ketika aku masuk, ternyata makanan sudah terhidang di atas meja, lalu kami pun makan siang bersama dengan penuh kehangatan. setelah selesai makan aku pun merapikan bekas makan kami dan mencuci nya. setelah selesai aku menuju ruang tamu, di sana sudah ada bu nyai dan pak Nur sedang duduk seraya berbincang.
" Pak., bu.., bagaimana tentang penawaran ku kemarin,?apa kalian sudah memikir kan nya,? tanya ku ketika sudah berada di hadapan mereka.
__ADS_1
" Nak kami belum bisa memutuskan nya sekarang, karena kami harus memikirkan semua nya matang-matang.kami sudah nyaman dan terbiasa hidup di desa, jadi kalau untuk hidup di kota kami masih belum siap saat ini.tolong kamu kasih kami waktu beberapa hari ke depan ya nak.Iya kan pak,?
" Iya nak, nanti kami akan memberi tahu mu kalau kami sudah ada jawaban," timpal pak Nur.
" Baiklah pak, bu. kalau kalian berat tinggal di kota, tak apa-apa. aku nggak akan memaksa. nanti aku akan memberi modal untuk bapak dan ibu buka usaha di desa ini.aku juga nanti akan sering-sering berkunjung ke desa ini.tapi harapan ku semoga bapak dan ibu mau ikut tinggal bersama ku di kota."
" nggak perlu nak, kamu nggak usah kasih kami modal, kami masih bisa makan walaupun penghasilan bapak di bengkel pas-pas an."
" Nggak apa-apa pak, bu. itu sebagai ucapan terima kasih ku karena selama ini udah menyayangi ku seperti anak kalian sendiri."
" Nak., tapi kami benar-benar tulus menyayangi mu, jadi kamu nggak perlu melakukan apapun untuk kami.lebih baik uang nya kamu gunakan untuk keperluan mu, untuk masa depan mu." ujar bu nyai.
" Nggak apa-apa pak,bu.nanti tolong jangan di tolak ya. pokoknya kalau ada apa-apa jangan sungkan."ucap ku seraya tersenyum menatap mereka. setelah puas berbincang dengan mereka, aku pun kembali ke rumah. sekarang sudah jam 2 siang. ku rebahkan tubuh ku di atas kasur, aku teringat kembali dengan dompet pria tadi,lalu aku mencoba untuk menghubungi nomor yang tadi dan ternyata masih belum tersambung. makin lama mata ku semakin berat, entah kenapa ketika masih di rumah bu nyai pun mata ku rasa nya ngantuk sekali. karena sudah tak tahan akhir nya ku pejamkan mata.
***
Esok hari, aku terbangun karena mendengar suara ketukan pintu. ku lirik jam ternyata sudah jam 10 pagi, kenapa aku tidur sangat pulas sekali. batin ku.
Dengan sempoyongan ku langkah kan kaki keluar kamar untuk membuka kan pintu. Saat pintu terbuka, di sana sudah berdiri pak Dirgantara bersama pak Alex, dengan masih setengah tersadar aku hampir terjatuh, dengan sigap pak Dirgantara menopang tubuh ku.
__ADS_1
" Maaf., silahkan masuk." ucap ku dengan perasaan kikuk. lalu aku pamit ke belakang untuk membuat minuman. sekalian aku ingin membasuh wajah ku supaya segar. setelah nya aku kembali ke depan dengan membawa dua gelas minuman.
" Silahkan di minum." ucap ku kembali.
" Terima kasih nona," sahut pak Alex, pak Alex memang lebih hangat dan ramah sikap nya di banding laki-laki yang bernama pak Dirgantara yang sangat kaku dan dingin.
" Maaf nona mengganggu waktu nya, kedatangan kami ke sini ingin mengurus surat-surat pembelian rumah yang harus anda tanda tangani,dan juga kami ingin menanyakan apa kah ada yang tertinggal di sini,? ucap pak Alex.
" Iya kemarin saya menemukan dompet di sofa, dan kemarin juga saya sudah menghubungi nomor yang tertera di kartu nama itu. tapi sudah di coba berkali-kali tetap tidak tersambung." tutur ku.
" Syukur lah kalau dompet nya benar ada di sini, mengenai telepon yang tidak bisa Anda hubungi itu karena handphone nya sedang di perbaiki."
" Kalau begitu sebentar saya ambilkan dulu dompet nya," lalu aku melangkah ke dalam kamar dan membuka lemari tempat aku menyimpan uang serta dompet milik pak Dirgantara.
" Aaaaagghhh... "
Betapa terkejut nya aku setelah membuka isi lemari, koper yang berisi uang yang sudah aku simpan di dalam sana raib. hanya ada dompet pak Dirgantara yang tersisa di sana.
"Ada apa nona,??? Terlihat pak alex dan pak Dirgantara berdiri di depan pintu kamar dengan tatapan heran.
__ADS_1