Firasat

Firasat
Bab 50 Sebuah Foto


__ADS_3

Indah terkejut melihat posisi Dirgantara yang sedang mencumbu nya kembali di saat ia tertidur.melihat Indah sudah membuka mata tak membuat Dirgantara berhenti dengan aktivitas nya. dengan posisi kepala yang masih di pegang oleh kedua tangan Dirgantara membuat Indah tak bisa menggerakkan tubuh nya walau hanya sekedar ingin menggeser sedikit duduk nya karena posisi mereka yang tanpa jarak.


Lagi-lagi Indah pun tak bisa menolak ciuman itu, dengan sangat lembut Dirgantara melakukan nya.Indah pun membalas dan menikmati nya, mereka berdua larut dalam kehangatan. Dirgantara semakin erat memegang tengkuk Indah da lpn mencumbu nya lebih dalam lagi. Dirgantara memang type laki-laki yang susah jatuh cinta, tapi jika sekali nya jatuh cinta maka dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan cinta nya.


Deru nafas mereka saling beradu, tak ada tanda-tanda ingin menyudahi nya. Dirgantara tak bisa berhenti melakukan nya, semakin lama semakin intens dan membuat Indah kewalahan di buat nya.


" Mmppphhh... mmpphhh.." melihat Indah kesulitan bernafas, Dirgantara melepas kan ciuman nya. sejenak mereka jadi salah tingkah.


" Air kompresan nya sudah dingin, aku akan mengganti nya dengan yang baru. kamu tunggu dulu di sini." ucap nya seraya bergegas bangkit dan melangkah menuju keluar ruangan.


" Kenapa tiba-tiba dia mencium ku ya, dan aku pun kenapa tak bisa menolak nya. selama ini dia yang aku kenal adalah laki-laki dingin dan cuek tapi perlakuan nya tadi membuat ku bingung, dia melakukan nya dengan sangat lembut. sampai sekarang aku masih bisa merasakan kehangatan bibir nya. sungguh sulit untuk di lupakan. apa aku sudah jatuh cinta ya,? Indah masih membayangkan kejadian tadi.


Ketika sedang melamun, pintu ruangan terbuka. terlihat Dirgantara membawa mangkuk besar yang berisi air dan meletakkan nya di atas meja. lalu dia pun duduk di hadapan ku.


" Angkat kaki mu, aku akan mengompres nya dengan air hangat agar lebih enakan." ucap nya.


" Mmm..nggak usah nanti juga sembuh kok." ucap ku.kenapa sekarang aku jadi merasa grogi dan juga canggung setelah kejadian tadi dan perlakuan nya saat ini padaku. lagi-lagi dia mengangkat kaki ku ke atas paha nya lalu mengompres nya dengan air hangat. melihat apa yang dia lakukan, aku hanya diam pasrah. ternyata di balik sikap nya yang dingin dan cuek, dia begitu perhatian. dan kalau di perhatikan dia juga sangat tampan, mapan, berwibawa, dan memiliki tubuh atletis.tapi kenapa aku tidak pernah melihat nya dekat dengan seorang wanita. mana mungkin laki-laki setampan dia tidak ada wanita yang menyukai nya. batin ku.

__ADS_1


" Sudah selesai, kalau kamu sudah bisa berjalan, biar aku antarkan pulang." ucap nya membuat ku terhenyak dari lamunan. aku hanya mengangguk kecil lalu dia kembali keluar seraya membawa mangkuk tadi. sepeninggalnya aku mencoba berdiri dan berjalan perlahan.seperti nya kaki ku sudah lebih baik dan tidak sesakit tadi, semoga saja benar-benar sudah baik-baik saja.


Aku bergegas keluar ruangan dan menuruni tangga perlahan-lahan seraya berpegangan pada besi di pinggir tangga. setelah tiba di lantai bawah aku tak melihat pak Dirgantara, sambil menunggu nya aku duduk di sofa yang ada di ruang tengah. ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, aku harus segera kembali ke rumah makan ku.


" Nona Indah ada yang bisa saya bantu,? tiba-tiba bi Asih datang dari arah dapur menghampiri ku.


" Oh nggak ada bi,terima kasih.pak Dirgantara nya kemana ya bi,? tanya ku.


" Biasa nya ada di dalam ruangan kerja nya Non, mau saya panggil kan,?


" Nggak usah deh bi biar saya tunggu aja, takut beliau lagi sibuk." tolak ku.


Ketika sedang memandangi isi ruangan ini, aku terpaku ketika melihat sebuah foto yang menempel di dinding. foto itu berukuran sangat besar, foto seorang pria yang kira-kira berusia sekitar 50 tahun lebih. walaupun sudah terlihat tua tapi perawakan nya masih sangat gagah dan berwibawa. melihat wajah nya yang begitu teduh membuat ku ingin terus memandangi nya,dan aku merasa seperti tidak asing dengan wajah itu.tapi tidak mungkin aku mengenal nya karena di kota ini aku tidak mengenal banyak orang apalagi orang-orang yang kaya raya seperti keluarga pak Dirgantara.


" Ehemm.! kamu di sini,? tiba-tiba suara bariton seorang laki-laki mengagetkan ku. pandangan ku pun langsung beralih pada nya.


" Iya.. tadi aku mencari mu. tapi kata bi Asih kamu sedang berada di ruangan kerja mu. jadi aku menunggu di sini." jawab ku. lalu dia pun duduk di sofa yang ada di hadapan ku.

__ADS_1


" Bagaimana dengan kaki mu, apa sudah lebih baik.? tanya nya dengan ekspresi datar seperti tidak terjadi apa-apa di antara kami berdua.


" Iya udah enakan kok, sekarang udah bisa di bawa jalan.Oh ya, apakah itu foto ayah anda,? tanya ku penasaran. pertanyaan ku membuat nya seketika langsung menoleh dan menunduk.


" Yah.. itu ayah saya, tepat nya ayah angkat. beliau sangat baik dan juga ramah pada siapapun."


" Lalu sekarang beliau tinggal dimana? kenapa nggak tinggal di sini,?


" Beliau sudah meninggal 2 tahun lalu,dan rumah ini peninggalan beliau. maka dari itu saya merawat rumah ini dengan baik, sesuai pesan nya sebelum meninggal.agar nanti setelah orang yang benar-benar ber hak menempati rumah ini datang,rumah ini masih dalam keadaan bersih dan terawat."


" Apa beliau meninggal karena sakit,? tanya ku masih penasaran dengan sosok nya.


" Sudah sore, sebaik nya saya mengantar mu pulang sekarang. karena sebentar lagi jam pulang kantor pasti jalanan macet." potong nya mengalihkan pertanyaan ku. lalu aku pun mengangguk dan tak bertanya lagi mengenai kehidupan nya. mungkin dia tak suka urusan pribadi nya di cerita kan pada orang lain.


Lalu dia pun bangkit dari duduk nya dan berjalan hendak melangkah menuju pintu keluar. aku yang masih duduk pun hendak ikut bangkit untuk mengikuti nya.


" Kamu bisa jalan sendiri atau mau saya bantu,? tanya nya seraya berhenti melangkah dan menoleh ke arah ku. aku yang hendak melangkah langsung menolak halus dan melanjutkan langkah ku secara perlahan.

__ADS_1


Sesampai nya di samping mobil, dia membukakan pintu depan tepat di sebelah pengemudi. tanpa banyak bicara aku pun langsung masuk lalu duduk, entah kenapa perasaan ku saat ini begitu tegang, apalagi duduk berdua di dalam mobil.


__ADS_2