
" Permisi, maaf apa anda yang bernama nona indah,? tanya nya.
" Iya betul, saya indah.maaf, apa anda yang kemarin saya telepon,?
" Iya betul, saya Alex dan beliau pak Dirgantara.Kami dari perusahaan PT. Mega Utama yang ingin berbincang tentang kelanjutan mengenai rumah anda nona."
" Oh baik Pak, kalau begitu silahkan masuk."
" Terima kasih nona," ucap nya. lalu kami pun melangkah masuk dan aku mempersilahkan mereka duduk di kursi ruang tamu.
" tunggu sebentar ya pak, saya buatkan minum dulu." ujar ku. ketika hendak beranjak laki-laki yang bernama pak dirgantara langsung menghentikan ku.
" Tidak perlu. langsung berbicara pada inti nya saja, waktu ku tidak banyak dan masih banyak pekerjaan yang lebih penting sudah menanti." ucap nya dengan ekspresi dingin nya tanpa menoleh padaku. pak alex yang melihat itu langsung menoleh pada pak dirgantara dengan tatapan kikuk, lalu menatap ku seraya tersenyum.
" Maaf nona, maksud pak Dirga kita bicarakan mengenai rumah anda sekarang saja, karena kami sedang buru-buru." ucap nya. aku hanya mengangguk dan duduk kembali.
" Baiklah pak Alex, jadi bagaimana pak,? lanjut ku tanpa menghiraukan laki-laki dingin yang ada di samping nya.
" Begini nona, berapa anda akan melepas rumah anda,? tanya nya dengan suara
__ADS_1
" Jujur saja saya kurang paham tentang jual beli rumah, dan saya juga tidak tahu harga rumah saya ini berapa pak.karena ini rumah peninggalan almarhum orang tua saya, dan sebenarnya saya juga berat menjual nya. Tapi karena sesuatu hal, jadi saya berkenan untuk menjual nya." ucap ku.mendengar penuturan ku membuat pak Dirga menoleh ku dan langsung memalingkan tatapan nya lagi ke arah lain.
" maaf pak, boleh saya keluar sebentar untuk memanggil orang tua angkat saya.? tanya ku.
" Silahkan nona." jawab pak Alex. lalu aku melangkah ke rumah sebelah, dimana rumah bu nyai dan pak Nur berada. aku segera menemui mereka dan meminta mereka untuk ikut ke rumah ku. kami pun bergegas masuk ke rumah ku lalu aku duduk kembali di iringi pak nur dan bu nyai.
" Ada apa nak indah,? ucap bu nyai setelah duduk.
" Begini bu, Pak Alex dan pak dirgantara ini orang yang ingin membeli rumah ku, pak Alex bertanya mengenai rumah ini, berapa aku akan menjual nya. aku kurang paham mengenai jual rumah." tutur ku.
" Betul bu, mungkin ibu bisa menjelaskan harga rumah di desa ini pasaran nya berapa dengan ukuran rumah nona indah ini,? timpal pak Alex pada bu nyai.
" Kalau untuk rumah di desa ini pasaran nya 250 jutaan pak dengan ukuran rumah ini." jawab bu nyai, lalu pak Alex pun mengangguk seraya menatap pak dirgantara.
aku yang mendengar nya menganga dengan penawaran yang sangat fantastis itu, aku tidak pernah melihat uang sebanyak itu, jangankan ratusan juta, belasan juta saja aku belum pernah melihat nya, apalagi memegang nya. begitu pula bu nyai dan pak Nur yang terbelalak mendengar nya.
" Bagaimana nona,? pertanyaan pak Alex menyadarkan ku dari keterkejutan tadi.
" Kalau anda setuju, uang ini akan langsung saya serahkan." tutur nya seraya mengeluarkan koper yang di bawa nya dan menaruh nya di atas meja lalu membuka nya.
__ADS_1
Aku terkejut untuk kedua kali nya ketika melihat isi di dalam koper. begitu pula kedua orang tua di samping ku. lalu aku melirik nya dan mereka mengangguk padaku.
" Baik saya setuju pak," jawab ku. lalu aku melangkah masuk untuk mengambil sertifikat rumah ini dan menyerahkan nya pada pak Alex.
" Baik nona, nanti biar kami yang urus semua nya. lalu dia mengeluarkan lembaran kertas dan meminta ku untuk menandatangani nya. setelah selesai mereka pun pamit dan melangkah keluar menuju mobil, tak berselang lama mobil mereka pun sudah tak terlihat lagi. bergegas aku masuk ke dalam rumah lagi di iringi bu nyai dan pak Nur, lalu kami duduk kembali di tempat semula.
" Alhamdulillah ya nak rumah kamu laku dengan harga yang sangat tinggi, rezeki kamu bagus sekali bertemu dengan orang-orang kaya itu.ibu ikut senang, semoga dengan uang ini kehidupan mu berubah lebih baik. rencana nya akan kamu apa kan uang hasil penjualan rumah ini nak,? tanya bu nyai.
" Mungkin uang nya akan aku belikan rumah di kota bu, supaya aku nggak perlu mengontrak lagi. aku akan cari rumah yang murah aja yang penting nyaman.dan kalau uang nya masih ada sisa, aku akan menggunakan nya untuk modal usaha." ucap ku. mendengar penuturan ku membuat senyum bu nyai pudar seketika.
" Kenapa kamu harus membeli rumah di kota nak, kalau kamu membeli rumah di kota itu tanda nya kamu akan tinggal di sana seterusnya. berarti kamu nggak akan tinggal di desa ini lagi." timpal nya dengan raut muka sedih.
" Bu, walaupun aku membeli rumah di kota, aku akan sering-sering pulang ke sini. aku nggak mungkin melupakan kalian berdua. hanya kalian yang aku punya saat ini.tapi aku akan lebih senang jika bapak dan ibu ikut aku ke kota, kita bisa tinggal bersama dan nanti kita buka usaha bareng-bareng di sana." seketika bu nyai menatap pak Nur dengan wajah bingung.
" Nak keinginan ibu juga kita bisa tinggal bersama-sama, tapi kalau harus ke kota bagaimana rumah kami di sini,? tutur bu nyai.
" Iya nak, bapak juga bingung kalau harus meninggalkan desa ini, bagaimana usaha bapak di sini,? walaupun hasil nya kecil dan hanya cukup untuk makan, tapi setidaknya kami nggak kelaparan. kalau ke kota nanti kami mau usaha apa,? hidup di kota kan mahal-mahal nak." timpal pak Nur.
" Pak bu, aku ingin berbagi kebahagiaan ku bersama kalian. aku ingin berbakti dan membalas kebaikan kalian selama ini. aku juga nggak punya siapa-siapa lagi selain bapak dan ibu. untuk masalah usaha, nanti kita buka rumah makan di kota. ibu kan pintar masak, dan masakan ibu juga enak. aku yakin pasti rumah makan kita banyak yang suka dengan menu dan rasa nya." ucap ku meyakinkan mereka. aku ingin mereka menikmati apa yang aku punya saat ini. di masa tua mereka aku ingin membuat mereka bahagia.
__ADS_1
" Tapi nak... "
" Pak..Bu... di masa tua kalian, aku ingin membahagiakan kalian. Rumah bapak dan ibu tak perlu di jual,rumah itu untuk kita pulang nanti saat kita rindu desa ini. nanti aku akan meminta orang untuk membersihkan nya dengan rutin supaya rumah ini tetap bersih dan terawat." ucap ku.