
Tidak di sangka dia sudah menikah dengan orang yang bahkan tidak dia kenal, dan impian dia menjalani pernikahan yang bahagia sudah hilang dari pelupuk matanya.
Perasaan sedih juga menghampirinya karna impiannya menikah dengan orang yang dia cintai dan melakukan pernikahan sederhana dan bahagia sudah hilang, di telan oleh ketamakan keluarganya.
Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi. Mungkin karna malam perjalanan menjadi sedikit lebih lengang. Karna para pemilik mobil sudah mengistirahatkan tubuhnya di kasur masing masing.
Adrianty merasakan perasaan yang sedikit asing dengan dirinya, sepertinya ada yang kurang.
"Sekretaris Ken"
"Iya nona"
"Bisakah aku pinjam uang mu?"
"Untuk apa nona?"
Belum apa apa sudah minta uang, dengan alsan minjam lagi
"Ah, itu, mataku sedikit rabun, aku tidak bisa melihat dengan jelas. bisakah kita singgah ke toko optik sebentar? Aku akan mengganti uang anda ketika barang barang ku sudah sampai"
Ken diam sebentar, merasa bersalah dengan hipotesisnya.
"Baik nona"
Sekarang tibalah Adrianty di toko optik. Tempat menjual kacamata. Hari ini masih jam setengah sepuluh, jadi masih banyak toko yang masih buka.
Adrianty terlihat sedang bincang bincang denagn petugas optik. Dia mengatakan segala sesuatu yang bermasalah dengan matanya. Berapa minusnya.
mereka berdua berbincang cukup lama hingga tercapailah sebuah kesepakatan.
Adrianty memilih sebuah kacamata. yang bisa berubah warna tergantung cuaca. potokromik.
"Ini saja pak terimakasih"
"Baik nona" kata pelayan toko.
"Ini tagihan anda" menyodorkan . secarik kertas yang berisi jumlah pembelanjaan Adrianty.
"Ini" sekretaris Ken dengan gampangnya menyodorkan black card-nya kepada pelayan.
"Terima kasih, silahkan berkunjung lagi tuan, nona" kata pelayan toko ramah.
"Tidak akan, emangnya kau berharap mata kami rabun?" Ken
__ADS_1
"Eh, ti tidak tuan. Selamat tinggal tuan" menundukkan kepala.
Hei, pelayan itu hanya basa basi, kenapa kau sensi sekali, lihat pelayan itu dia bahkan tidak bisa menatap lagi, kenapa kau begitu ganas
Sekarang mereka memasuki mobil yang sudah ingin melaju sedang membelah kesunyian di kota besar ini.
Beberapa menit kemudian sampailah dia di rumah besar yang bergaya kelas atas itu. Mereka berhenti tepat di depan pintu utama. Adrianty turun dari mobil yang sudah berhenti itu dan menuruti langkah sekretaris Ken yang keluar dari mobil itu.
Adrianty masih belum terbiasa, padahal ini sudah yang ke dua kalinya dia melihat rumah besar itu dengan matanya yang bulat.
Sampai di dalam rumah, ada seorang pria paruh baya yang sedang menundukkan kepala kepada sekretaris Ken itu.
"Selamat datang tuan, tuan muda sekarang berada di ruang kerjanya" pria paruh baya itu melirik ke arah Adrianty, sepertinya dia belum melihat wanita ini sebelumnya.
"Iya pak," dan sekretaris Ken pun mengetahui arti tatapan itu.
"Dia nona Adrianty, mulai hari ini dia nyonya rumah ini. Untuk lebih jelasnya, tuan muda sendiri yang akan mengatakannya nanti pada kalian semua. Kau kawal dia sebentar dulu, aku ingin menemui tuan muda sekarang"
Sekretaris Ken sekarang berjalan meninggalkan kedua insan tersebut.
Tampaknya pria itu sangat terkejut dengan perkataan sekretaris Ken. Sepertinya dia baru mengetahui berita ini. Selama ini sudah banyak wanita yang di bawa tuan mudannya, akan tetapi para wanita itu di bawa sendiri oleh tuan muda dengan gandengan tangan yang mesra. Disertai cumbuan panas ketika berada di pintu utama.
Akan tetapi sekarang dengan sekretaris Ken. Dan bahkan sekarang bukan pacar tuan muda, akan tetapi sebagai nyonya muda mereka!!
Hahaha, bahkkan bapak ini sangat terkejut dengan kehadiran ku
"Anda bisa memanggil saya kepala pelayan nona" sambil memberi hormat.
" haha iya pak, kenalkan saya Adrianty haha" dia sudah mengancungkan tangannya untuk menjabat tangan pak pelayan itu terlebih dahulu.
Eh kenapa nona ini? bingung karna dia tidak terbiasa berjabat tangan.
"Pak?"
"Iya nyonya" tidak menghiraukan sapaan tangan itu dan hanya memberi hormat dengan menundukkan kepala.
Kenapa pelayannya bingung? Apa dia tidak tahu cara berjabat tangan
"Haha tidak perlu seperti itu kok, oke panggil saja saya Riant saya merasa canggung jika dipanggil seperti itu hehe" dia melihatkan semua gigi putihnya.
Adrianty memegang kepala belakangnya dengan canggung sambil tersenyum.
"Mari nona"
__ADS_1
Kepala pelayan itu mengajak nyonya mudanya dengan sangat hormat.
Sekarang Adrianty duduk di sebuah sofa yang pernah dia duduki waktu itu. Di titik yang sama dan di posisi yang sama. Hanya saja sekarang dia mengenakan pakaian yang berbeda. Hanya sebuah piama tidur yang melekat pada dirinya sekarang.
Adrianty masih linglung, antara mode sadar dan tidak sadar. Bukan kena mengantuk akan tetepi karna tidak menyangka dia dalam semalam berpindah dari rumah sederhana menjadi rumah yang sangat mewah ini.
Ingin rasanya bangun dari mimpi ini.
Seperti Cinderella saja aku ini. Dan sekretaris Ken adalah ibu perinya. hihihi
Adrianty menimang nimang, sekarang berapa lama dia akan menunggu tuan muda itu untuk menemuinya, satu jam, dua jam atau bahkan semalaman.
Jika mengingat pertemuan pertama kalinya dengan tuan muda itu, dia hannya bisa bersabar menahan amrahnya untuk memukul orang itu.
Tidak lama kemudian datanglah sekretaris Ken yang menghampiri nona mudannya itu.
"Mari nona, saya antar nona ke kamar anda"
"Bapak ken, anda dari mana saja? Apa saya akan bertemu dengan tuan muda anda?"
Seketika sekretaris itu melototi Adrianty yang masih tampak bingung.
Cih dia pasti ingin tidur dengan tuan muda, dia pikir dia siapa? beraninya.
"Jangan pernah berharap untuk tidur dengan tuan muda nona. Karna tuan muda tidak suka di sentuh wanita yang bukan seleranya. ingat itu"
Eh? Kok perginya ke situ sih, siapa juga yang mau, aku kan hanya ingin mengucapkan salam. Cih geernya lagi, emangnya tuanmu itu siapa hingga dimintai tidur olehku? hng.
"ooh jadi kalau seleranya boleh disentuh toh. Murahnya jadi orang bos mu itu yaa"
"jaga mulut anda nona kalau masih ingin hidup" dia menatap tajam Adrianty. Dan orang yang ditatap langsung menunduk kan kepala sambil mengalihkan pandangannya.
"Baik sekretaris tua" guman guman Adrianty, perkataan itu terdengar oleh sekretaris Ken.
Dia hanya mengacuhkan Adrianty, terserah mau melakukan apa. sekretaris itu tidak akan peduli.
selagi masih menjaga ketentraman dan ketenangan rumah ini. Sekretaris Ken tidak akan pernah peduli kecuali pada tuan mudanya. Dan satu orang lagi.
ibunya.
Walaupun di begitu kaku dia adalah anak penyayang pada orang tua. Dan dia paling tidak suka ada orang yang menyakut pautkan urusan pribadi orang lain dengan dirinya.
Aku bersumpah. jika sampai wanita ini bertahan lama memiliki hubungan dengan tuan Sandi. Akan ku cium telapak kakinya.
__ADS_1