
cuit cuit cuit
Merdunya suara burung menemani pagi yang indah.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi, sudah waktunya para insan untuk bangun dari mimpi indahnya. Tapi itu hanya sebagian kecil insan yang bangun jam segitu. Hanya orang tertentu.
"Hooaam" Adrianty bangun dari tidurnya, dia merenggangkan otot ototnya yang tegang karna bangun tidur.
Di sapunya seluruh ruangan, dan akhirnya matanya berakhir di sebuah tempat tidur yang sedang tergeletak manusia di atasnya.
Sudah jam segini masih belum bangun ya, bos memang seenak jidatnya aja ya, padahal hari masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. sial, aku masih belum terbiasa dengan rumah mewah ini. walaupun ini cuma karpet saja tapi ini sangat nyaman untuk tidur.
Adrianty berjalan keluar kamar, dia pergi bersiap siap untuk pergi ke tempat magangnya. Dia turun dari lantai tiga itu menuju kamar lamanya yang berada di bawah.
Kamar lama yang baru dia huni dua hari yang lalu. Dia mendapati Para pelayan yang sudah mulai membersihkan segala sesuatu yang ada di rumah ini.
Mereka semua terkejut, mengapa nona mudanya itu bangun sepagi ini?
"Se selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu pelayan yang sedang membersihkan perabotan merasa gugup.
"Hm?" terheran heran "Iya selamat pagi juga. Kalian sudah bangun jam segini?"
"Iya nona"
"Kalian benar benar rajin ya, bos kalian saja yang malas. Jam segini masih saja ngorok" Adrianty geleng geleng
Kepala sendiri. Tidak tahu kalau dia sedang diperhatikan oleh banyak orang yang mendengar perkataannya.
Nona ini begitu berani, tidak takut jika kami melapor
"Baiklah lakukan pekerjaan kalian, semangat ya, aku pergi dulu"
Akhirnya Adrianty berjalan meninggalkan pelayan itu dan berjalan ke kamarnya.
Mudah mudahan pak Portan tidak dengar
bisik bisik para pelayan.
Adrianty akhirnya tiba di kamarnya yang nyaman itu.
"Kamar sendiri memang paling tenang"
Adrianty memulai kegiatan bersiap siap untuk pergi magangnya.
........
sebenarnya tadi malam dia sempat memeriksa lemari pakain yang berada di kamar tuannya. Tapi hanya pakain laki laki di sana. Tidak ada pakaian untuk dirinya.
Akan tetapi matanya tertuju pada sebuah lemari yang berhadapan tangan lemari pakaian Sandi.
Dia membuka dan sedikit mengintipnya.
__ADS_1
"wahh, banyak sekali pakaian wanita... baju siapa ya"
pasti milik para wanita malam yang sering dia bawa kerumah kan? ujarnya bermonolog.
Karna pakaian yang ada dalam lemari itu terbuka semua. tidak ada yang sesuai dengan standar dirinya.
kalau baju haram ada nggak disini. sesekali kan nggoda si bos kaku itu. gimana sih nanti reaksinya. pasti lucu ya kan.
.......
Dia masuk kekamar mandi dan memulai ritual mandinya. Setelah mandi selama sepuluh menit lamanya akhirnya Adrianty keluar dengan menggunakan handuk kecil yang melilit di tubuhnya.
Dengan percaya dirinya dia berjalan ke arah lemari pakaiannya tanpa melihat dulu seisi kamar.
"Aaaaaaaa" Adrianty berteriak melihat sosok lelaki yang sedang duduk mematung di atas ranjang kamar ini.
"Tu tuan jangan lihat!!"
Buk
Adrianty melemparkan handuk yang bertengger di kepalanya ke wajah Sandi.
Lalu dia terburu-buru pergi ke kamar mandi bersembunyi.
"Kurang ajar! Berani beraninya kau!!....." geramnya sambil meremas handuk yang di lempar pada dirinya.
"Tuan yang salah!"
"Tuan tiba tiba masuk ke kamarku tanpa ketuk pintu dulu!!" yang di dalam kamar mandi terus membela dirinya.
"Beraninya kau meninggikan suaramu padaku!" padahal sama sama meninggikan suara sehingga menggema di ruangan itu. "Lagi pula kau tidak menutup rapat pintumu jadi aku yang salah?" Tidak terima disalahkan.
"Tentu saja tuan yang salah, mengapa main masuk masuk saja kekamar seorang gadis? Bukankah itu pelanggaran?" Adrianty kehilangan rasa takut dan tetap mengeraskan suaranya. entah keberanian dari mana, mungkin dari harga diri seorang wanita yang sedang dia pertaruhan.
"Pelanggaran? Haha kau lucu sekali, siapa suruh kau mandi jam segini? Hari masih pagi kau sudah mandi, siapa yang salah"
Sandi geram menahan kesal karna di salahkan.
"Itu terserah saya donk, kan ini tubuh saya saya mau mandi jam berapa apa hubungannya dengan anda? Intinya anda yang salah!" Berteriak tidak mau kalah.
"Keluar dari sana! " Sandi berteriak memenuhi langit langit.
"Tidak mau!
"Keluar!"
"Tidak mau!!!!!"
Tidak kalah keras kepalanya.
Sandi menghela nafas kasar, ternyata masih ada orang yang berani melawannya ya.
__ADS_1
"Jika kau tidak mau keluar aku yang masuk kekamar mandi. Hehehe mari kita lakukan yang harusnya di lakukan sebagai suami istri" seringai licik muncul di bibir Sandi.
nih orang udah gila ya. bagaimana jika dia melakukan apa yang dia katakan tadi. habis aku nanti. hiks, tubuhku tidak boleh terlihat.
"Baik saya keluar"
Sudah pasrah dengan keadaan, sekarang Adrianty keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kecil yang melilit tubuhnya. Sangat pas untuk tubuhnya dan hanya bisa menutupi tubuh hingga batas paha.
Kakinya dia bawa malas menuju ranjang.
"Kau mau menggodaku?"
Wajahnya menyeringai.
"Tidak!!" Di jawab secepat kilat.
"Tidak? Tapi wajah mu sudah merah lho" Sandi mendekat kearah Adrianty yang berdiri kaku.
Jangan mendekat mesum!!
"Saya? Sa saya tidak" Adrianty semakin mundur ke belakang.
"Tidak? Apanya yang tidak?"
Semakin dekat...
"Tu tuan. Haha tuan saya mau pakai baju jika ada yang di perlukan saya bisa...."
Sial mengapa wajahnya sedekat ini denganku? Aku tidak pakai baju sialan!
Tuhan selamatkan hamba mu ini
"Kau pikir aku akan tergoda dengan tubuhmu yang serba kecil dan rata itu? Heh" Sandi berbisik di telinga Adrianty. Membuat kuduk merinding saja.
baguslah pikir Adrianty
"Hehe tuan saya tidak berpikir menggoda Anda"
"Terserah kau!" Sandi beralih pandangan.
"Cepat pakai bajumu! Membuat mata polosku kotor saja" langsung berbalik dan meninggal Adrianty yang sedang mematung.
Syukurlah
"Baik tuan"
Adrianty langsung pergi menuju lemari pakaian.
Tapi apa maksudnya matanya polos. Seorang Casanova itu matanya polos. bahkan bakteri yang hinggap di tubuhnya pun sudah tidak polos.
Sedangkan Sandi langsung keluar dari kamar itu dengan wajah bersemu merah.
__ADS_1
Sial, hampir saja aku terjerumus