First Wedding Trip

First Wedding Trip
dilema


__ADS_3

Lantai 39 Y.A grop


Sandi duduk di kursi kekuasaanya sambil memijat pelipisnya, dengan banyak tumpukan kertas yang harus dia tanda tangani dan periksa satu persatu. ya itu adalah tugas seorang atasan untuk memikirkan rencana kedepanya untuk masa depan perusahaan.


"Tuan, ini berkas hasil rapat kemarin tuan"


"Hm"


Ken meletakkan berkas yang dia bawa dari ruangannya ke atas meja Sandi.


"Anda baik baik saja tuan?"


"Hm"


Sandi terlihat sangat tidak baik hari ini, seperti ada yang salah menurut ken tentang tuannya itu.


"Apa perlu saya hubungi dokter Jond tuan?"


"Kau pikir aku sakit?" Dia mendongakkan kepalanya melihat Ken dengan kesal.


"Hanya untuk berjaga jaga tuan, anda terlihat tidak baik"


"Apa terlihat seperti itu?"


"Ya tuan" Ken memberi anggukan.


Huuft


Sandi meletakkan pulpennya dan mengela napas dengan kasar. Dia menyandarkan kepalanya di kursi kekuasaan nya itu.


Terlihat dia tampak memejamkan mata seperti merenungkan sesuatu. sesuatu yang mengganggu pikirannya akhir akhir ini.


"Apa yang anda pikirkan tuan?"


"Tidak ada. Hanya saja..."


Kata katanya terhenti, seperti ragu akan mengatakan apa yang di pikirannya.


Apa ini tentang nona Kanisa lagi? Aku bahkan sudah muak melihat wanita itu kenapa tuan tidak bisa melupakannya


"Ken"


"Ya tuan"


"Apa hari itu aku sangat keterlaluan?"


Yang mana yang anda maksud tuan


"Tidak menyangka reaksinya seperti itu, Bahakan menghina diriku tepat di depan ku. Heh, begitu beraninya dia. saat kami berpapasan pun dia tidak memandangku sedikit pun. Hahaha"


Sandi menutup matanya dengan tangan, dia terlihat tertawa dengan keras. Menertawakan dirinya sendiri.


Oo nona Adrianty ternyata


"Ya tuan, jika dipikir lagi itu memang benar"


"Apa yang benar?" Tanyanya kesal.


"Kalau anda kurang ajar" Timpal Ken dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Sandi langsung memutar kursinya dan melihat Ken dengan sinis.


"Sudahlah aku malas membahasnya"


Lagi lagi Sandi duduk dengan mata tertutup dan menyender di kursinya.


Hari ini kenapa terasa berat ya. Padahal hari hari biasa dia bisa fokus melakukan pekerjaannya. Bahkan yang biasanya dalam bekerja dia tidak pernah bicara, sekarang dia mengeluh kesah saja sejak meeting tadi pagi.


Meeting berjalan dengan baik, walaupun ada kesalahan, maka akan berakhir seperti biasanya. Dapat amukan dari sandi, pukulan dari Ken, dan ejekan dari karyawan lainnya, dan gajinya dipotong.


"Hahh"


lagi lagi Sandi mendesah dan menghela napas kasar, entah apa yang dia pikirkan.


Tok tok tok


Suara pintu terdengar, dia langsung mengubah gaya duduknya yang seenaknya.


"Masuk!"


"Selamat siang tuan"


Deg


Seperti rasa di sentrum, tidak menyangka siapa yang akan masuk ke ruangan ini.


Dia adalah Adrianty, anak magang perusahaan Y.A grop yang baru diterima seminggu yang lalu. Dan orang yang hadir dalam hidup Sandi dengan segala keterpaksaan beberapa waktu yang lalu.


Sandi tidak menyangka, dan mengapa alasannya. Akan tetapi percayalah, dia berusaha tenang untuk menanggapi Adrianty yang masuk dengan membawa dokumen tebal di tangannya.


"Maaf tuan mengganggu waktunya, saya kesini ingin meminta tanda tangan anda tuan" dia menyerahkan dokumen itu dan menyodorkannya ke arah Sandi.


"Hmm"


Jawabannya sangat sangat sangat menyebalkan walaupun mendongkak dalam hati Adrianty selalu tersenyum secerahnya.


"Dokumen apa ini?"


tanya nya cuek.


" itu dari departemen perencanaan tentang desain interior kantor cabang perusahaan yang akan di buka tuan"


"Siapa yang memintamu kesini?"


"Menejer Arik" jawabnya singkat.


Sandi membalik balik halaman demi halaman document tersebut. Dia nampak fokus dengan apa yang dia lakukan.


Wahhh ini ruangan presedir? Sangat sangat luas, ku tebak pasti ada sesuatu yang disimpan didalam ruangan ini. Aku tidak menyangka kalau dia itu adalah CEO disini. Dan tak menyangka lagi dia suamiku. Adrianty tersenyum miris melihat nasip buruk yang menimpa dirinya itu.


Berstatus istri Sandi, tapi suaminya sendiri menganggap dirinya orang yang hina. Menyedihkan sekali hidupmu Adrianty.


"Kenapa kau senyum senyum"


"Saya tuan?"


"Kau tuli?"


"Tidak" jawabnya singkat.

__ADS_1


"Jawab dengan benar jangan buat ku kesal"


Kok kesal sih kan jawabnya udah benar kok


Huuuh, Sandi mendengus kesal, perlakuan seperti ini sangat jarang dia terima.


Apa aku tanya saja ya, apa aku boleh pulang terlambat nanti malam, sudah dua hari ini aku tidak mengunjungi kafeku. Hehe aku mau ketemu juga sama kak Berlian.


"Tuan" sapa Adrianty gugup.


"Hmm"


"Apa saya boleh pulang telat malam ini?"


Sandi menatap tajam Adrianty, tangannya yang awalanya di sibukkan menandatangani dokumen itu terhenti seketika.


"Kalau tidak boleh ya tidak apa apa tuan, hehe" sangking takutnya Adrianty mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Aku tahu pasti tidak akan bisa


Menangis dalma hati meratapi nasib.


"Apa urusannya denganku, kalau kau mau pulang malam siang pagi atau tidak pulang sekalipun tidak ada hubungannya denganku. Jalani saja kehidupan kita masing masing seperti hari hari biasanya. Tidak perlu izin dariku, jalani saja sesuai perjanjian yang sudah kau tanda tangani."


Huh aku jadi banyak bicara jadinya kan


Mendengar kalimat panjang itu Adrianty gembira kepalang, dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya lagi. Hanya ini saja dia Jedi gembira apalagi jika Sandi menceraikannya suatu Pasti aku akan sangat sangat bahagia, pikirannya.


"Benarkah tuan. Kalau begitu terima kasih tuan" menunduk memberikan hormat kepada Sandi sebagai alasan berterima kasih. Dia tersenyum gembira, wahh sudah lama tidak bertemu teman teman ku yang mengasikan itu pikirannya.


"Kenapa kau senyam senyum?"


Membuat ku jengkel saja


Sandi memperhatikan gerak gerik Adrianty sejak tadi, dari dia mengatakan pergilah, walaupun kelihatan dia sedang mengamati documen yang ada di tangannya. Akan tetapi sebenarnya sejak tadi dia memperhatikan Adrianty.


"Eh, haha tidak ada tuan, apakah sudah siap tuan documennya" berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak berlarian kemana mana.


"Kau menyesakku? " Katanya sinis. Sepertinya Sandi benar benar kesal sekarang, dari suaranya saja sudah bisa di tebak.


"Ti tidak tuan mana mungkin saya berani, saya hanya mengatakan jika_"


"Berisik!"


Bugh, Sandi melemparkan documen tersebut keatas mejanya dengan kasar.


"Sudah selesai, bawa documen itu dan pergi dari sini kau menganggu ku saja"


Sandi memutar kursinya dan membelakangi Adrianty yang tengah kebingungan.


"Kenapa dia? Dia amankan? Kok merah marah nggak jelas, padahal aku sudah mempersiapkan diriku untuk bertemu dengannya tadi. Huh" guman guman Adrianty. akan tetapi hal itu dapat di dengar oleh dua pasang telinga itu.


"Heii. aku mendengarnya!"


"ada apa tuan"


"sudahlah pergi sana" Sandi melambaikan tangannya tanda mengusir.


kusumpahi otak kau jadi kecil!.

__ADS_1


akhirnya Adrianty menggerutu dalam hati. Melihat kelakuan bis sekalian suaminya itu yang se enaknya itu.


__ADS_2