First Wedding Trip

First Wedding Trip
kakak 2


__ADS_3

"apa maksud kakak?"


Sabri menatap aneh adiknya itu, maksud? tentu saja maksudnya sangat tersurat. Menanyakan keberadaan adik iparnya apakah masih ada maksud.


"aku tu nanya istri mu mana? Kata ayah kamu udah nikah. Makanya aku di suruh pulang untuk ngenalin dia ke keluarga kita, kakak mu satu lagi akan pulang juga dua hari lagi"


hah?


Ayah memberi tahu kakak kakaknya? astaga, dia lupa mengantisipasi hal satu ini. Bisa gawat kalau mulut kakaknya ember dan membeberkan semua yang dia lihat hari ini.


"Istri ku dirumah, nanti kalau kumpul kumpul aku kenalin sama kalian berdua, tapi tidak sekarang aku sedang..."


Saat bicara, perkataan Sandi terputus dengan suara seseorang.


"Sandi, kok kamu lama banget sih"


Kanisa muncul dari belakang Sandi, dan Sabri melihat itu.


Kanisa, seseorang yang hidup seenaknya di dunia ini dengan memporoti adiknya sedari kecil. Dia tidak benci wanita itu, hanya saja dia sudah sangat keterlaluan dengan memanfaatkan perasaan Sandi padanya.


"Sandi....


eh.. kak Sabri? kakak kapan pulang?" Kanisa menyapa Sabri dengan senyuman hangatnya sembari menjulurkan sebuah pelukan hangat darinya.


Sabri menolaknya dengan halus dengan cara mengangkat tangannya, dengan artian tidak usah memberi pelukan seperti ini.


Dia orang yang sudah beristri, tidak baik bagi rumah tangganya yang sudah berumur tujuh tahun itu goyang hanya karna pelukan.


Dia hanya main aman melihat kepouleran Kanisa sebagai seorang bintang papan atas itu.


"kak Sabri kapan sampai sini?" tanya Kanisa Antusias.


"kanisa, sudah lama ya tidak melihat mu. kamu bukanya sedang di luar negri?"


"ahh, aku baru saja balik hari ini"

__ADS_1


"oh, kamu langsung menghubungi Sandi ketika sampai disini?"


"ya, tentu saja, memangnya siapa lagi yang aku punya disini kak" jawabnya sambil tersenyum.


Sandi hanya melihat interaksi mereka berdua. Kanisa memang tidak sedekat dirinya pada Sabri.


Sedekat dekatnya keluarga mereka berdua dahulu, namun tidak dengan kedua kakaknya itu.


Tidak terlalu dekat dengan Kanisa maupun keluarga nya.


"sudahlah...


kakak sudah makan? ayo makan bersama, aku dan Kanisa...."


"ohh, tidak bisa, aku harus pergi langsung ke hotel. kakak iparmu sudah mengirim pesan"


Sabri melihat hpnya, dia terlihat mengirimkan pesan pada seseorang., yang pasti itu adalah kakak iparnya.


"ya sudah kalau gitu, kakak hati hati"


Sabtu mendekat pada Sandi, tampak di situ dia menepuk nepuk bahu adiknya itu sambil tersenyum.


dia terus mendekati Sandi sampai sandi mundur dari langkahnya.


"apaan sih kak!"


Sabri berbisik pelan di telinga Sandi.


"kau, istrimu tahu siapa dia? jangan buat masalah! kau seorang suami sekarang. tekan Sabri pada adiknya itu.


Sabri menjauh dari Sandi. Lagi lagi dia menepuk bahu Sandi Sambil tersenyum, dan berjalan menjauh dari mereka berdua sambil melambaikan tangan.


Sandi hanya diam, tanpa menoleh pada Sabri setelah kakaknya bilang begitu. Dia juga tahu posisinya sekarang. Tapi ini bukan saatnya menjelaskan siapa Kanisa pada Adrianty.


Kanisa hanya bisa melihat heran dengan pandangan Sabri, karna pada saat berbisik dengan Sandi Sabri sempat melirik dirinya sebentar.

__ADS_1


...----------------...


Usai kepergian Sabri, Sandi dan Kanisa memutuskan untuk menyudahi makan mereka, alasan pertama karena Kanisa sudah tidak mood lagi makan. Alasan lainnya karna Sandi banyak pekerjaan dan ingin kembali ke perusahaan. Tapi itu hanya sekedar alasannya untuk menghindari Kanisa dulu.


"aku tidak boleh ikut ke perusahaan mu?"


"tidak"


"kan sudah lama aku nggak ke perusahaan, emangnya kamu mau ngapain. Sekarang akhir pekan lho?"


"aku yang kerja kok kamu yang ngatur?" dia bicara tanpa melirik Kanisa.


"ihh, Sandi kok kamu gitu....


aku baru pulang lho kok kamu langsung kerja abis jemput aku! " Kanisa sedikit berteriak karna meresa Sandi sedikit kurang ajar padanya.


"aku mau kamu nemenin aku seharian ini aku nggak mau tahu!"


Kanisa membuang wajahnya ke kaca mobil.


"kanisa, kalau kamu mau aku temenin harusnya kamu kasih aku kabar kalau kamu pulang. Kan ini dadakan, aku lagi kerja kamu telpon aku, aku langsung jemput kami terus apalagi? Harusnya kamu minta terimakasih, bukan malah ngerepotin aku"


Sandi menjawab dengan cukup Sabar, Kanisa memang begini dari dulu kehendaknya harus di turuti.


"aku tu cuma mau kamu..."


"kamu mau ke hotel mu aja atau mau kamana?" ucap Sandi menyela pembicaraan Kanisa.


"aku mau sama kamu"


"nggak bisa!"


"bisa!"


"nggak bisa Kanisa, aku harus bilang berapa kali!" kali ini suara Sandi sudah terdengar naik satu oktaf.

__ADS_1


Ini sudah masuk hari peringatan, itu artinya Kanisa sudah harus jaga sikap.


__ADS_2