
"Diam kau!! Sekali kau menyentuh dapur ini maka kau salah, mengerti!!!!" Suara Sandi menggelegar di seluruh ruangan ini. Bahkan satu rumah ini merasa berada di neraka karna amukan tuan muda mereka.
"Ta tapi tuan..."
"Ini makanan yang kau buat?" Sandi menunjuk hidangan yang berada di atas meja dengan ujung matanya.
"I iya tuan" jawab Adrianty gugup
"Beraninya kau menggunakan dapur ini untuk makanan rendahan ini!!"
Byyuuuurrrrrr
Sandi menumpakan semua makan yang berada di atas meja tersebut. Semua orang merasa takut. Tuannya, benar benar dalam on fire.
"Tuan!!!" Pekik Adrianty, terkejut melihat perbuatan suaminya itu. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membulat sempurna di balik kacamata itu. tidak percaya, segitu bencinya kah dia.
"Kau, makan sumua yang kau masak ini mengerti! Jangan pernah kotori dapur ini dengan tangan hinamu itu!" Sandi menunjuk Adrianty dengan ujung matanya.
Sandi berjalan meninggal kerumunan itu, sedangan Adrianty masih terlihat syok. Bukan syok berat, akan tetapi tidak menyangka jika ada orang yang melakukan hal seperti itu.
Haha, dia membuang makanan yang aku buat dengan susah payah, dan apa? Tangan hina ku ini? Mati kau brengsek!
"Diam disitu!" Akhirnya Adrianty angkat bicara, sepertinya ada sebuah perlawanan yang akan terjadi. Perkataan Sandi sangat menusuk hatinya seperti jarum. sesak, itulah yang dia alami sekarang.
"Ku bilang diam di situ!!" Adrianty bicara dengan nada tinggi, memekakkan telinga yang mendengar. Sudah tidak bisa menahan hinaan ini, jika tidak melawan, bukan Adrianty namanya.
"Kau membentak ku?" Sandi berhenti dari langkahnya dan memiringkan kepalanya melihat Adrianty yang terlihat geram dengan sinis. Suara beratnya sangat menekan orang yang mendengar.
Dia melepaskan kacamata yang sedang dia gunakan. Dia mengibaskan poninya keatas hingga dahinya yang putih mulus terlihat.
"Sekretaris Ken"
Ken juga berhenti ketika langkah tuan mudanya berhenti. Sebenarnya dia sangat kesal dengan nonanya itu karna membentak tuan mudanya. Hingga dia hanya menjawab dengan ketus.
__ADS_1
"Ya"
"Apa tuanmu tadi sudah makan?"
"Kenapa nona?" Dia melirik Sandi yang terlihat acuh tak acuh akan tatapi masih berdiri di posisinya.
"Jika dia belum makan, berilah dia makan, apa memangnya gunanya dirimu?
Sarapan pagi, dapat melancarkan kerja otak dan peredaran darah" Adrianty mendekat ke arah Sandi yang masih berdiri tegak di tempatnya.
"Kerna makan terlambat. Mungkin tuanmu ini stres dan berteriak seperti orang gila"
Deg
Semua mata melihat ke arah Adrianty yang sedang melipat kedua tangannya. Bagaimana tidak, tuan mudanya di hina tepat di depan orangnya.
Berani sekali dia
Sandi membalikkan badannya menatap tajam Adrianty.
Dengan suara dingin dia bertanya.
"Saya tuan? "
"Kau pikir aku sedang bercanda sekarang hah!"
"Kenapa tuan?"
"Jangan jawab pertanyaan ku dengan pertanyaan" katanya penuh dengan penekanan.
"Apa anda marah jika saya menggunakan dapur, anda marah melihat dapur anda di gunakan oleh tangan saya yang hina ini? Kalau begitu anda harus beritahu saya dong tuan. Bukankah anda pemilik vila megah bak istana ini? Apa saya salah jika saya istri anda, menggunakan dapur yang berada di rumah suami saya? Apa saya salah membuat makanan yang sesuai selera saya, apa itu mengganggu anda?"
Adrianty berusaha bicara setenang mungkin. Dia tengah meredam emosinya yang terasa ingin meledak. Menahan air mata yang ingin sekali keluar.
__ADS_1
"Anda pemilik rumah ini, seharusnya anda beri tahu saya dong
Saya yang hanya seorang tamu disini, apakah ada aturan yang harus saya patuhi di rumah ini sebagai istri anda? Walaupun anda jijik melihat saya melakukan hal itu setidaknya anda jangan membuang makanan yang saya buat. Walaupun itu hanya makanan untuk para rendahan, setidaknya itu yang saya makan untuk menyambung hidup saya. Saya sangat benci melihat orang orang yang membuang makan, apa tuan pikir uang banyak bisa mengenyangkan perut?"
Semua orang hanya diam mendengarkan Adrianty bicara kemana mana. Tidak ada yang berani melontarkan pendapat sedikitpun.
Adrianty melangkah mendekati Sandi yang tengah menatap tajam dirinya.
"Saya tidak tahu apa alasannya kenapa saya tidak boleh menggunakan dapur, tapi, mulai sekarang jaga sikap anda bahkan anda orang yang berkuasa mengerti!!"
"Kau..
Berhenti di tempat!!"
"Ada apa tuan, apa nasehat saya yang hina ini tidak mampan bagi anda?"
"heh, jangan munafik. Kau ingin menggoda ku dengan cara seperti ini?
Aku sudah banyak melihat wanita di luar sana yang seperti dirimu ini,
Memasak untukku, pura pura melawan diriku agar aku tertarik pada mu.
Iya kan?" Sandi bicara dengan nada mengejek, Bahakan seringainya terkembang seketika.
"Kalau anda orang pintar, gunakan otak anda yang dangkal itu untuk berpikir.
Saya bukan orang yang tidak punya kerjaan sampai melakukan hal seperti itu"
Akhirnya Adrianty berlalu tanpa memandang Sandi sedikitpun.
Sedangkan Sandi yang berdiri mematung tadi menghela napas kasar.
Nona anda benar benar
__ADS_1
Ken Yanga masih berdiri di dekat tuan mudanya hanya menggeleng kepala. Berfikir bahwa, masih banyak yang harus anda ketahui tentang tuan muda nona.