First Wedding Trip

First Wedding Trip
menyerah


__ADS_3

"Kalian yang tamak mengapa harus aku yang jadi korban?"


Tidak terasa seisi ruangan menjadi sunyi seketika.


Beraninya dia memotong pembicaraan ku Ken


"Beraninya kau bicara seperti itu!! kau pikir kau itu siapa? Kau sudah ku besarkan disini seharusnya kau tahu apa itu perlakuan balas Budi kan! Lalu uang siapa yang sebenarnya yang akan di selamatkan di sini hah!"


Hahaha balas Budi palamu!! kuremukkan mulutmu itu nanti bapak renta


hati berkecamuk, tak rela dia diperlakukan seperti ini.


Karna Tidak ingin lama menunggu, seorang utusan yang di utus oleh keluarga Sorno sudah mendesak.


"Nona, sebaiknya anda menanda tangani ini sebelum perusahaan


Anda kami tutup!"


Nada bicaranya mulai menegaskannya seketika.


Kenapa, kenapa selalu aku yang menjadi tumbalnya, bahkan aku tidak di beri jajan dan tidak pernah menggunakan uangnya untuk apapun keperluan ku sejak SMA. aku membiayai kehidupan ku sendiri mengapa aku yang harus membayar atas kehidupan royal mereka?


"Nona!" Himbauan satu kali


"Nona Adrianty!" Suara sudah datar dan dingin.


Dia tampan, tapi dia tidak tahu sopan santun, es batu berbentuk monster saja, mengerikan.


"Bagaimana jika aku menolak?"


"Maka imbasnya tak hanya pada perusahaan ayah anda, tapi juga pada orang orang anda, tak tahu itu mungkin bisa membuat mereka sekeluarga hancur"

__ADS_1


Deg, seperti di sentrum oleh petir yang mengandung muatan listrik beribu ribu volt. Tidak di sangka ternyata sekretaris batu itu berani mengancam orang sekitarnya. Sebenarnya berapa kuatnya tuan Sorno itu? Hingga bisa menghancurkan hidup orang sekitarnya.


"Ayah, minta kakak pertama yang menandatangani ini atau perusahaan kalian akan hancur, toh cuma menikah dengan orang tua kan? Jika itu kakak yang melakukannya dia tak akan mempermasalahkannya kan? Toh kalian cuma butuh uang nya tuan Sorno kan? Lagi pula pacar kakak Edward, sudah berada tahun kalian pacaran? Sampai sekarang kau masih saja belum di lamar" Dengan tersenyum sinis kepada ayahnya.


Sebenarnya sekretaris itu sudah heran melihat sikap Adrianty. Adrianty sangat berani, tidak seperti tampangnya yang malu malu. Ternyata dia punya watak yang sangat menentang.


" Nona, tidak baik mengulur waktu. Tanda tangani ini maka kalian akan bebas"


Adrianty hanya diam menatap amplop itu, semua orang menunggu bagaimana keputusannya.


Suasana yang hening mencengkram ini cukup mencekik. Kenapa mereka tak ingin bicara satu pun, tentu saja karna orang orang yang berpakaian hitam ini. Mereka mengeluarkan aura sensitif di sekitarnya.


Atmosfir bercampur aduk satu sama lain. Tergantung pribadi masing masing. Ada yang senang karna sebentar lagi Adrianty akan menghindar dari rumah ini, ada yang merasa lega karna sebentar lagi perusahaan masih bisa selamat. Dan ada yang ingin mengubur dirinya hidup hidup, lari dari kenyataan yang pahit tak berujung ini.


Adrianty mencengkram kedua tangannya meremas pakaiannya di atas paha. Tak menyangka dia begitu bodoh dan menjadi seorang pecundang. Dia di ancam dan terus di paksa oleh sekretaris itu.


"Jadi bagaimana tuan? Apa kita lanjut kesepakatan ini tuan?" Sekretaris itu sudah menekankan kalimatnya yang membuat ayah Adrianty reflek berpaling membujuk anaknya.


"Adrianty, jika kau menandatangani surat ini, ku pastikan milik ibumu menjadi punyamu, jalani saja hidup sesuka mu, aku tak akan membatasi kebebasan mu lagi, jadi ayah mohon, tolong ayah kali ini ya" lemah lembut kata yang keluar dari mulutnya. Membuat Adrianty tak habis pikir melihat sikap ayahnya.


Tua bangka sialan. Jangan kau kira kau akan hidup senang setelah ini!"


Adrianty menatap kertas yang berada di depanya. Tak terasa ujung matanya sudah bergulir kristal bening . Dia menyeka matanya dan langsung mengambil pulpen yang berada di hadapannya.


Sret sret sret


Goresan demi goresan menjadi saksi bahwa Adrianty sudah menjualkan dirinya sendiri demi perusahaan ayahnya. Tentu saja itu bukan masalah perusahaan ayahnya, yang dia pentingkan sekarang adalah bagaimana terlepas dari belanggu ikatan keluarga yang tak di inginkan ini


Heh aku sangat bodoh ya, kenapa aku mau menandatangani kesepakatan sialan ini, aku tak tau apa yang di pikirkan hidung belang Sorno itu, kenapa dia mau memberikan hartanya untuk hal seperti ini?


Adrinaty meletakkan pulpen di atas meja.

__ADS_1


"Sudah nona, anda bisa membaca seluruh ketentuan ini nona, ini adalah hal yang harus anda patuhi selama anda menjadi istrinya tuan kami nona, dan sebaikanya anda menghafalnya" seringai ejekan langsung bersemi di wajah sekretaris itu.


Lihatlah sekretaris itu, dia tampan dan muda, terlihat sangat menjanjikan, tapi kenapa mulutnya itu seperti pisau ya, jika ku adu dengan pisau mana yang menang tuh.


Adrianty melototi sekretaris itu cukup lama hingga dia berdiri mengemasi dokumen yang sudah disepakati di atas meja.


apa apaan dia, beraninya dia melototi ku, bahkan dia tak berkedip satu mata pun Ken.


"Tuan sekretaris" Adrianty sudah tak tahan lagi, ada rasa yang menyesak di tenggorokannya jika dia tidak bicara.


"Iya nona" tersenyum cerah berjuta Watt.


"Apa rahim ibu anda dulu sangat dingin, apa anda di lahir kan di atas balok es?" terlihat Adrianty menggeram kesal dengan mulut yang sudang mayun.


" Maf nona, Kenapa nona bertanya pertannyaan kurang ajar itu" jengkel dan mulai tersenyum jahat.


Lihatlah dia masih saja tersenyum menyebalkan seperti itu. Ken


"Tak apa, jika anda tidak di lahir kan di atas balok es, berarti anda pasti di lahir kan di dalam balok es iyakan? Hahaha, kenapa tidak, sifat anda yang dingin itu membuat orang ingin melempar anda dengan tangkai sapu saja, anda tahu sekretaris Ken? Haha"


Adrianty langsung berdiri berjalan cepat menuju kamarnya. Tentunya dia tidak melihat reaksi sekretaris ini sudah seperti apa.


Wajah marah nya sudah muncul jelas terukir.


Tak ada orang yang berani mengatakan hal itu kepadanya secara langsung. Apa lagi orang orang di depanya.


Kesepakatan bersama antara dua belah pihak sudah tercapai. Sekretaris Ken bersama empat pengawal lainya langsung keluar dari rumah itu.


"kalau begitu saya pamit tuan"


mereka keluar memasuki mobil dan melancarkannya menuju jalan raya yang heboh dengan klasonan dan dentuman suara mobil lainnya.

__ADS_1


sekarang Adrianty sudah menjadi calon istri tuan Sorno itu. sebagai calon istri sah sekaligus calon nyonya muda Sorno entah yang ke berapa kalinya, dalam pikirannya.


Inilah suatu kesepakatan yang pernah dia buat dengan bodohnya. Biasanya Adrianty selalu menolak apa pun permintaan orang yang merugikan dirinya. tetapi sepertinya dia kali ini kalah telak, karna satu alasan di balik kejadian ini. Yaitu menyelamatkan peninggalan ibunnya, yaitu saham perusahaan dengan jumlah 60% saham.


__ADS_2