
Adrianty melongo mendengar perkataan Sandi.
Dia memanggil nama ku?
biasanya memanggil ku dengan sebutan 'hai' sekarang Rian?
"Waaaahhhh"
Dengan cepat Adrianty kembali mengempul dalam selimut karena malu.
wajahnya memerah.
"Riant ingat! jangan sampai terpukau! teguhkan dirimu..
lelaki itu, bukan milikmu, dia milik orang lain!"
...........
"Wanita itu benar benar
Pilihan ku meminta dirinya tidur di kamarku adalah salah. Harusnya aku mengusir dirinya saja"
Sandi sekarang sudah berada di dalam bathtub kamar mandi. Dia menutup matanya, merasakan sensasi segarnya air hangat setelah lelah bekerja.
Dalam pejaman mata itu, dia menelaah cerita masa lalu dirinya satu persatu.
Dan mengingat kan dirinya kalau dia sudah tidak bisa seperti dulu lagi.
Umurnya sekarang hampir di ujung kepala 2, dua tahun lagi dia akan menginjak umur tiga puluh tahun.
Pikiran yang menerawang jauh pada orang terdekatnya. Ayah, ibu, dan seorang wanita yang jauh di sana.
Dan tidak lupa, memikirkan nasib pernikahan singkat yang dia rancang sendiri. Menceburkan dirinya dalam tali pernikahan yang sebentar lagi akan kandas.
benar, ini adalah batas yang tidak boleh di sentuh di antara kita
Tujuan utama melakukan pernikahan kontrak ini hanya untuk memenuhi janji yang di buat dengan ayahnya. Tuan Sorno yang bersikeras dan memaksa dirinya untuk melangsung kan pernikahan karna merasa hidupnya tidak lama lagi.
Dokter telah memprediksi, penyakit gagal jantung yang di alami oleh tuan Sorno sudah memasuki stadium 2. Walaupun orang bicara itu masih bisa di obati dengan di rawat dengan intensif, tapi dia merasa cepat atau lambat dirinya tidak akan lama dalam bertahan hidup.
Sudah saatnya baginya melihat Sandi untuk bersanding dengan wanita yang pantas.
Tapi..
Sandi tidak ingin melakukan hal itu, lihatlah ibu kandungnya.
Menelantarkan dirinya ketika berumur sepuluh tahun, pergi begitu saja dengan alasan kebahagiaan dirinya, tapi kembali bersama seorang anak lelaki.
Ketika dia menginjak sekolah menengah pertama, dia di paksa menerima semua keadaan itu. Luka masa lalu yang harusnya sembuh, terbuka kembali dengan kehadiran ibunya.
Walaupun waktu sudah berlalu. Namun cerita dulu tidak akan pernah hilang dalam ingatannya bahkan akan membekas seterusnya.
Dia bukannya tidak percaya pada wanita, tapi hanya saja dia belum siap bersanding nyaman dengan seorang wanita.
Walaupun dia sudah punya banyak mantaan, tidak ada satupun wanita yang cocok dengan kategori seorang istri.
Memang ada nama yang telah tertulis di dalam perasaanya. Tapi dia tidak yakin dengan wanita itu.
Apakah wanita itu pantas untuk dirinya atau tidak. Sampai saat ini, dia masih menunggu orang itu.
..........
__ADS_1
30 menit sudah Sandi berada di kamar mandi, sudah cukup lama dia berendam di bathtub, dia mulai membersihkan dirinya di bawah guyuran shower.
Setelah selesai, dia melilitkan handuk hingga pinggangnya. Dan keluar dari kamar mandi.
Cklek
Sandi menutup pintu kamar mandi.
Sambil mengusap rambutnya menggunakan handuk, dia menyapu pandangan pada seluruh ruangan.
Dilihatnya kasur tempat Adrianty berkelumun tadi, tapi tidak di temukan seorang pun.
Kemana dia?
Sandi berjalan cepat menuju kasurnya.
Dia tidur disitu? Tidak disini?
Dia melihat Adrianty yang sedang meringkuk di sofa menggunakan selimut tebal yang dia gunakan tadi.
"Kalau akhirnya kau tidur di situ kalau kenapa kau ngotot tidak jelas tadi?
Membuat ku kesal saja"
Adrianty setelah dia pikir pikir, tidak baik baginya untuk tidur satu kasur dengan Sandi, seharusnya dia tidak sok sok an melawan Sandi hanya karna merasa kesal. Seharusnya dia langsung saja memilih dengan mengatakan kalau dia bisa tidur di sofa.
"Haha"
Sandi tersenyum kecil melihat Adrianty yang terbaring di atas sofa menggunakan selimutnya.
"Kau pakai selimut ku lalu aku pakai apa untuk tidur.."
Sandi menggelengkan kepalanya.
Kau orang yang paling membuatku sakit kepala..
Aku yakin besok pagi kau akan kembali merubah raut wajah mu yang tenang ini pada mode galak. Haha
Bisiknya pelan, dia bergumam pelan sambil berjalan meninggalkan Adrianty dan pergi ke ruang ganti baju.
..........
Pagi hari
Waktu sudah menunjukkan pukul jam 6 pagi. Sudah waktunya bagi semua orang untuk bangun, memulai segala macam aktivitas.
"Hoaamm"
Adrianty bangun dari tidurnya, tampaknya ketakutan awal yang dia rasakan ketika memasuki kamar Sandi sekarang sudah mengkhianati dirinya.
Buktinya dia tertidur dengan baik, pulas, dan nyenyak semalam tanpa merasa terusik.
Sofa mahal memang beda.
Dia bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Dia melihat ada manusia yang tergeletak kedinginan di atas kasur karna selimutnya di gunakan Adrianty.
Sandi tertidur meringkuk di atas kasur, tampak menyedihkan. Dia seperti seseorang yang di tidak di pedulikan di dunia ini. Sebelumnya dia memiliki bantal yang menyangga kepalanya. Guling yang awalnya dia gunakan sebelum tidur sudah terlempar entah kemana.
Apaan, dia kenapa?
__ADS_1
Adrianty mendekati Sandi dan merasakan tubuh Sandi yang dingin seperti mayat.
"Sudah tahu dingin begini kenapa tidak pakai selimut"
Mata Adrianty menelisik di sekitar kamar itu.
"Jangan bilang dia cuma punya satu selimut? Miskin sekali"
Alhasil Adrianty mengambil selimutnya yang teronggok menyedihkan di atas sofa. Dan menyelimuti Sandi dengan baik. Menutupi tubuh suaminya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hingga tidak terlihat sehelai rambut pun.
Sudah
Puk puk puk
Adrianty menepuk pelan kepala Sandi dengan lembut. Entah sebagai tepukan pengantar tidur, atau tepukan membangunkan Sandi dari tidurnya.
Tidurnya nyenyak sekali, apa karna pulang larut malam yaa, atau karna dia tahu ini akhir pekan? Makanya dia betah berlama lama?
"bangun lah cepat tuan" guman Adrianty pelan.
Ceklek
Adrianty masuk kamar mandi dan meninggalkan Sandi yang terbaring pulas di tempat tidur.
Aku masih belum terbiasa melihat kamar mandi ini.
Kamar mandinya seluas kamarku yang ada di lantai bawah.
Akhirnya Adrianty mandi dengan tenang tanpa terusik.
Benar..
Nikmati saja hal yang sementara ini. Setelah di depak dari sini aku tidak akan menyesal.
..........
Hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Tapi si bos besar rumah ini masih belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Adrianty usai mandi tadi, pergi ke kamar bawahnya dengan baju tadi malam untuk berganti pakaian.
Dia melihat Sandi masih betah berada di balik selimutnya hingga Adrianty tidak ingin membangun kan seekor beruang kutub itu.
Dan akhirnya dia meninggal kan suaminya dikamar sendirian.
Setelah berganti pakaian tadi, Adrianty bingung ingin melakukan hal apa.
Usai pertengkaran hebat yang terjadi di dapur waktu itu, membuat wanita ini menjadi sedikit takut untuk melakukan hal lebih sebelum meminta Izin sang pemilik rumah.
Pikir berfikir, Adrianty memutuskan untuk mengecek persediaan barang, mengecek keuangan 2 buah kafe miliknya, menghubungi kedua sahabat terdekatnya, serta sedikit mengansur tugas dari seorang senior di perusahaan.
Cukup menghabiskan waktu lebih dari satu jam.
Alhasil dia jadi bingung sendiri ingin melakukan apa.
"Padahal dia setuju dengan ku dengan senang, tapi apa ini? Dia bahkan belum bangun Sampai sekarang dasar Lelaki...."
"Apa yang bicarakan?"
Sebuah suara bariton memecah pikirnnya.
__ADS_1
Akhirnya...
Sandi yang di tunggu hadir di depan Adrianty tegak menjulang mengintimidasi Adrianty yang lebih kecil dari dirinya.