First Wedding Trip

First Wedding Trip
kakak


__ADS_3

"halo? ini bersama tuan Sandi? saya istrinya"


"hah?" langsung saja Sandi mematung mendengar kan itu. Istrinya? apa apaan wanita ini.


"halo halo" ucap wanita di seberang sana.


sialan, buat ku kaget saja. Ini pasti wanita itu yang mencoba iseng kan


huft


Sandi memijit pelipisnya, dia agak merasa kesal namun juga lega. Itu bukan panggilan dari dokter melainkan Riant istrinya. Bukan panggilan darurat tentang ayahnya.


"aku keluar dulu" dia berpamitan pada Kanisa yang sedang menatapnya.


"Sandi ada apa?"


"bukan apa apa"


"apa Terjadi sesuatu?"


Tapi Sandi tidak menjawab pertanyaan Kanisa dan langsung saja keluar dari restoran itu untuk mengangkat telpon.


"apa an sih, emang ada apa sebenarnya" Kanisa memijit pelipisnya. Dia agak kesal, Sandi meninggalkan dirinya begitu saja.


hah, buat mood ku turun aja, aku jadi nggak selera kan


Kanisa sedikit membanting kesal sendoknya ke arah piring, hingga terdengarlah dentingan antar kedua benda tersebut.


Dia akhirnya mengambil hpnya, dan tidak melanjutkan acara makannya. Dia lebih baik berselancar ke media sosialnya dan mulai melihat toko online barang brended.


...----------------...


"ada apa? kenapa menelpon ku menggunakan no ini? apa terjadi sesuatu pada ayah?"


"jadi ini benar tuan Sandi, maafkan saya tuan lancang menelpon anda"


"kau tahu itu" jawabnya sedikit kesal.


"ayah baik baik saja tuan, ayah anda sedang makan sekarang"


ahh, wanita ini memang bisa di andalkan, ayahnya sepertinya sudah ingin mencari hidupnya.

__ADS_1


"maafkan saya tuan. Sebenarnya saya ingin menghubungi anda tuan, tapi saya tidak punya nomor anda"


"lalu?"


"lalu, saya tidak mungkin meminta pada sekretaris Ken yang sedang libur di akhir pekan, makannya saya menghubungi anda pakai hp darurat ini tuan. karna mungkin anda akan langsung mengangkatnya"


"kau berani mengerjai ku ya"


"bukan tuan" sanggah Adrianty cepat.


"itu karna anda yang pergi tanpa pamit pada saya"


glek


Sandi terdiam, dia memang salah sih. Seharusnya dia pergi berpamitan dulu pada istrinya, tapi mau pakai alasan apa dia pergi, tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Adrianty.


"padahal anda hanya perlu berpamitan pada saya tuan"


lagi lagi Sandi hanya diam mendengarkan.


"tuan? Anda masih di sana?"


"kalau begitu tuan saya akan pulang sendiri tuan. Selamat siang tuan"


Tut Tut tut


Telpon dimatikan secara sepihak oleh Adrianty. Tanpa aba aba, tanpa banyak cerita dan Adrianty langsung saja memutuskan panggilan itu.


"halo, halo?" Sandi masih melekatkan telpnn pada telinganya.


kurang ajar, beraninya dia memutuskan panggilan duluan


lalu Sandi memasukkan hpnya dalam sakunya.


Dia berbalik arah dan masuk lagi ke dalam restoran. Kanisa pasti menunggu dirinya sendiri.


Tapi seketika langkahnya terhenti, matanya menyeringit melihat sosok pria yang dikenalnya didekat sini.


"kakak?" gumanya pelan.


seketika saja Sandi ingin menghampirinya. Dia berjalan cepat karna laki laki itu tampak sudah menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


"kak Sabri!" Suaranya terdengar sedikit berteriak.


Lalaki itu langsung saja menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Sandi.


"ini benar kakak ya" Langsuang Sandi berjalan cepat dan langsung memeluk pria itu.


lelaki itu juga tampak terkejut ketika di peluk dengan tiba tiba.


"Sandi! Kenapa kamu bisa di sini?"


"seharusnya aku yang tanya kayak gitu, kakak ngapain kesini? kakak udah pulang? sejak kapan? kok nggak kasih kabar kak?" pertanyaan beruntun yang membuat orang yang ditanya jadi merasa tersudut dengan banyaknya pertanyaan.


"apaan, aku juga baru sampe hari ini" Sabri melepaskan pelukan adiknya itu. Dia tampak lelah, kaca mata yang menggantung di wajahnya dan tas ransel yang sedang dia sandang di punggungnya. Dia tampak mengenakan pakaian kasual.


"aku pulang karna di suruh ayah"


"ayah? kok ayah nggak bilang?"


"lupa ayah kali" ucapnya cuek.


"kakak ipar mana? Asil keponakan ku?"


"kamu itu kenapa sih? aku mau tanya kami ngapain di sini? nggak sama ayah ya kamu?" Sabri menunding bahu Sandi dengan sedikit keras hingga Sandi terhuyung kebelakang.


"apaan, siapa juga yang gak kesal kakak datang tiba tiba kayak gini?"


huh


Sabri mendengus kesal. Dari dulu Sandi emang kayak gini sama dirinya. Mereka berdua sering bertengkar, tapi di selela pertengkaran itu tercipta hubungan yang sulit di pisahkan.


Walaupun tak sedarah dengan Sandi, Sabri adalah kakak yang dia sangat dia hormati.


"dasar kamu ya"


lagi lagi, Sabri menunding kepala adiknya.


"tapi ngomong ngomong, istri kamu mana?" Sabri sedikit berbisik ke telinga Sandi menanyakan hal itu.


"apa!"


.......

__ADS_1


__ADS_2