First Wedding Trip

First Wedding Trip
Menceritakannya


__ADS_3

Dia keluar dari rumah besar itu dengan perasaan sakit. Dadanya terasa sesak sampai tak bisa membendung buliran air mata yang keluar tanpa izin.


Awalnya Adrianty memilih jalan kaki untuk pergi menuju kampusnya. Akan tetapi tak mungkin itu ia lakukan karna kampusnya yang berjarak 5km dari rumah. Ketika dia sedang berjalan menyusuri trotoar, lewalah seorang tukang ojek yang tengah sama sama berjuang untuk hidup tentunya.


"Ojek mbak?"


Tawaranya pada Adrianty.


Awalnya Adrianty hanya diam, lalu dia berfikir apakah bisa dengan jarak jauh itu bisa ia tempuh dengan kakinya. akhirnya dia memutuskan untuk naik ojek saja ke kampusnya.


"bang, ke universitas xxx ya bang" suaranya lirih hampir tak terdengar


"apa mbak?"


"ke universitas xxx bang!!" aduh kelepasan.


Adrianty sedikit berteriak ke Abang ojek. Dia kesla karna ojek itu terlihat menertawakan dirinya.


"Baik mbak" jawab bang ojek. Suaranya bergetar menahan tawa sepertinya.


Di perjalanan yang cukup panjang ini, dua orang yang tak saling kenal hanya membuat keheningan, hingga bang ojek membuka suara.


"Mbak kenapa mbak? Ada masalah?"


Si bang ojek akhirnya jenuh dengan keheningan ini mengajak Adrianty untuk bicara.


"Haha gak papa bang, cuma kejepit pintu tadi"


Berusaha tidak mengingat kejadian tadi.


Kejepit pintu? Separah itu ya sampi menangis


"Mbak nya kalau ada masalah mbaknya bisa cerita sama teman dekat mbak, atau sama orang yang bisa di percaya. Agar nggak nanggung beban sendirian mbak. Hehe"


"Haha, bang ojeknya bisa aja


Saya gak ada apa apa kok"


Adrianty mulai menyeka air matanya yang keluar sedikit demi sedikit.


"Di dunia ini nggak ada orang gak punya masalah mbak. Semua orang punya masalah, tapi tergantung orangnya mau menghadapi masalah itu kayak gimana. Yang penting, mbak nya harus tabah, serahkan aja sama tuhan"


Seketika mendengar itu Adrianty tersenyum. Dia menyeka air matanya.


Benar kata bang ojek itu.


"Hehe makasi yah bang untuk sarannya "


Isak tangis Adrianty makin berkurang.


setelah percakapan singkat itu, tak terasa waktu berjalan cepat. Sampai sudah Adrianty di depan kampusnya, dia turun dari ojek dan membayar ongkosnya.


"Ini bang ongkosnya" Memberi uang lembaran 50 ribu.


"Iya mbak terima kasih" terlihat si ojek sedang merogoh sakunya untuk mengambil uang kembaliannya.

__ADS_1


"ini kembaliannya mbak"


Bang ojek menyodorkan uang 20 ribu dan uang kecil lainnya.


"Nggak usah bang, untuk bang ojeknya aja, udah rejeki kaliii hehehe"


"Tapi mbak,,, ya sudah lah makasih ya mbak"


"Iya sama-sama bang"


Adrianty langsung melangkah setengah berlari menuju kampusnya.


Tap tap tap


terdengar langkah kaki di sepanjang koridor. Adrianty berjalan cepat untuk mengejar waktu masuk ke kelas. Sebelum dosen masuk, dia harus ada dulu dalam kelas walaupun bel sudah nyaring terdengar


Sampai di kelas Adrianty langsung di sambut oleh 2 teman baiknya.


"Hai cantik, bagaimana kabarmu?"


"Apaan sih Ronal, kau tak ingin di salah pahami oleh pacarmu kan?"


" Hahaha. Pacarku adalah orang yang paling baik, dia juga sahabatmu juga, dia tidak akan cemburu juga. Iyakan sayang" Ronal melirik kearah Intan yang merupakan sahabatnya Adrianty.


"Ya, tak akan cemburu jika kamu nggak kelewatan, kalau sampai itu terjadi kita putus aja ya" jawab Intan dengan jutek.


"Hahaha nggak lah sayang ku,"


Ronal mengelus elus rambutnya Intan.


Gerutu Adrianty pada kedua temanya.


"Hehehe makanya Riant jangan jomblo terus, berkembanglah" Ronal menggoda Adrianty sambil memeluk Intan.


"Berkembang pantat mu, kau pikir aku apa. Sudahlah, kalian berdua menyebalkan"


Adrianty dengan cepat melangkah menggandeng kedua lengan sahabatnya itu menuju tempat duduk mereka.


Kelas hari ini sedikit berisik, dosen di beritakan oleh ketua tidak jadi datang. Karna harus mengikuti seminar di luar kota. Jadi mereka hanya belajar sendiri hari ini.


Adrianty hari ini terlihat banyak bermenung. Sering melihat kearah luar jendela, dan terus terusan mencek hp nya.


"Riant, jujur pada ku, kau menangis?"


"Haha, ti-tidak. Aku malah bahagia lamaran magang ku di terima di perusahaan Y.A grop, bukankah tempat itu terkenal?"


Ya karna itulah Adrianty sangat senang tadi pagi. Hingga menyapa seluruh insan yang ada dalam rumah.


"Berhenti berbohong!" Gertak Intan.


Adrianty terdiam sejenak membenarkan duduknya.


"Apa terlihat jelas?"


"Jadi kamu benar menangis? kenapa? Apa ibu tirimu memukul mu? Saudara tirimu memukulmu? atau ayah mu? katakan pada kami. Akan ku bantai mereka satu persatu" Intan langsung memegang bahu Adrianty dan memutarnya menghadap pada dirinya.

__ADS_1


"Tidak, bukan begitu ceritanya, jika mereka memukul ku bukankah mereka dulu yang tamat? Haha"


"Jadi kau kenapa?"


"Hmm....


Jadi begini........"


Panjang lebar sudah Adrianty menjelaskan pada kedua sahabatnya itu mengenai pernikahan itu.


kedua temannya itu mendengarkan dengan penuh antusias. Dia menggeram kesal mendengar cerita Adrianty, keluarganya begitu kejam pada dirinya.


"Riant, ketika pulang nanti aku yang akan mengantarmu pulang. Ayo kita beli sarung tinju dan kita jadikan mereka samsak tinjunya" dengan geram Ronal mengepal tangannya mendengar cerita dari Adrianty.


"Haha Ronal kau sangat jantan" Adrianty mengacungkan jempolnya kepada Ronal.


"Tidak! itu terlalu murah hati, bagaimana kalau aku culik saja meraka semua lalu buang ke laut, atau kita bawa saja mereka ke tempat pembantaian" dengan tampang serius Intan mengajukan argumen.


Mendengar Intan berbicara Adrianty lebih terkekeh.


" Hahaha kau tak hanya lebih jantan tapi kau juga sadis juga ya Intan" ejek Adrianty


Dengan senyumnya Adrianty menghela napas panjang.


"Lalu kau akan menerima pernikahan itu?"


"Tentu saja tidak, tapi jika aku menolaknya bagaimana dengan ayahku?"


"Aku tidak tahu kau ini baik hati atau bodoh Riant" Intan menggelengkan kepalanya.


Sudahlah apa saja takdir mengatakan aku akan lakukan. Toh itu tugasnya manusia, dalam hati Riant berkata dan senyum terpancar dengan cerahnya.


Intan mengusap usap punggungnya Adrianty dengan lembut sambil memeluknya.


"Riant, apa pun keputusan mu, kami akan selalu mendukungmu. Jadi jangan takut, kami selalu ada ok"


Rasa tenang membendung di hati Adrianty. Merasa beruntung dia memiliki sahabat seperti mereka.


"Riant, jika kau merasa kesusahan, datanglah pada kami, aku selalu ada saat kau butuh, jangan sungkan. Pewaris ini akan selalu membantu mu"


Ronal dengan sombongnya membanggakan dirinya sendiri didepan sahabat dan kekasihnya itu.


"Hahaha, sombongnya diri kamu nak, nanti kualat lho" ujar Adrianty.


"Biasanya emang sombong mau gimana lagi Riant sahabat mu itu"


Dengan tawanya Intan menggibahi pacarnya sendiri.


"ehh kan emang ia. Nanti kalau aku udah lulus abis tu kerja di perusahaan ayah ku, akan ku traktir kalian makanan mahal, barang mahal, dan..."


"Dan apa?" tanya Adrianty dan intan serentak.


"aku lamar intan Ku yang cantik ini, untuk mu Riant, akan ku Carikan pasangan. Haha"


langsung Saja Adrianty memukul kepala Ronald dengan keras.

__ADS_1


"sembarang aja lu ngomong"


__ADS_2