
Pintu utama terbuka dengan lebar, sekretaris yang terus berjalan dengan diiringi Adrianty di belakangnya dan beberapa orang pengawal.
Adrinaty menyapu pandangan di seluruh ruangan, matanya terbelalak melihat isi rumah tersebut, tidak main main, mungkin saja semua lukisan nya itu terbuat dari emas, dia sempat melap air liurnya yang sempat keluar dari mulutnya.
Kemiskinan mengahambat ekspetasi ku, hiks. Menyedihkan sekali aku
"Nona silahkan duduk nona, silahkan minum ini sambil menunggu tuan dulu sebentar"
Sambil menyodorkan satu gelas teh yang sudah di seduh.
Adrianty tanpa pikir panjang langsung duduk di atas sofa dengan hati hati takut sofa itu nanti lecet karenanya dan kemungkinan besar satu tokonya akan tergadai karna harus mengganti sofa orang kaya ini.
"Baik pak sekretaris" tersenyum tanpa paksaan.
Lihatlah dia, kadang dia memanggilku bapak terkadang tuan Ken
Sudah setengah jam lamanya Adrianty menunggu kedatangan tuan rumah ini akan tetapi orang itu tidak kunjung datang juga.
Dia hanya bermain dengan gelas dan sendok teh untuk menyeduh minuman itu.
Satu jam berjalan hingga satu setengah jam pun berlalu tanpa adanya suatu pembicaraan dan tidak ada yang menemaninya. Sekretaris sejak tadi pergi meninggalkannya sendirian di ruangan. Adrianty tak beranjak sedikitpun dari kursinya, bahkan se senti pun. Dia hanya sibuk sendiri melihat jam di pergelangan tangannya dan memutar mutar Sendok yang berisi teh tadi yang bahkan dia takut meminumnya.
Tak lama kemudian suara langkah kaki menyapu lamunan Adrianty. Dia langsung berdiri sambil menundukkan kepala memberi hormat pada orang yang datang.
Orang itu terlihat muda dan tampan, rambutnya yang hitam dan disisir dengan rapi mengenakan setelan jas yang panjangnya hingga lutut hingga menambah kesan yang sangat tampan . Orang itu diiringi oleh sekretaris Ken di belakangnya.
Seketika Adrianty mengangkat kepala terkejut seketika, hal itu tak bisa dia sembunyikan dari siapa pun karna sudah melihat reaksinya.
Siapa dia, kenapa lagaknya sombong sekali. tampan lagi. Adrianty
Pria itu langsung duduk di bangku dengan kaki yang dilipat. Dan sekretaris Ken masih berdiri di belakang pria itu.
Dia terlihat menatap Adrianty tajam. Seperti melihat ada yang kurang, oiya. Kacamata besarnya dan rambutannya yang di kepang seperti yang ada di foto tidak dijumpainya saat itu.
Siapa dia, apa mungkin dia anaknya tuan Sorno, tunggu! bukan kah tuan Sorno tidak suka di sentuh, oh mungkin waktu berhubungan dengan istrinya itu adalah salah satu kecelakaan, ya pikirkan saja seperti itu.
"Kau, siapa namamu?"
Dia bertanya pada ku kan
__ADS_1
"Saya bernama Adrianty tu tuan" waw gagap sekali aku
"Duduk!"
"Baik"
"Kepada siapa kau bicara?"
Eh
"Pada anda tuan"
"Jika kau bicara dengan ku, gunakan ujung kalimat mu dengan kata tuan. Mengerti!" Dia menekankan suranya dan nadanya yang membuat Adrianty pucat sesaat.
"Ba-baik tuan"
Benar benar aneh guman guman.
Sunyi lagi, ini hal yang sangat mencengkram. Tidak ada yang berani bicara sebelum pria angkuh itu menyuruh bicara, bahkan dengan sekretaris Ken itu juga.
Ayolah jangan seperti ini apa dia tidak tahu kalau aku sudah sangat cemas sekarang, lihatlah sekretaris itu menatap ku, dia tak mau menolongku dari sini sedikitpun.
"Semuanya sudah selesai tuan" sekretaris itu sudah tahu apa yang di maksud dari tuannya tanpa menjelaskan.
Waw aku ajukan jempol doble pada anda bapak sekretaris.
"Nona, perkenalkan dia adalah tuan Sandi Kasorno Andrana yang akan menjadi suami anda nona" dan kalimatnya di akhiri dengan sebuah senyuman sinis kepada Adrianty. Dan tentu saja ada artinya dari sebuah senyuman sinis itu.
"Dia bukanlah sembarangan orang nona, jadi selama pernikahan ini berjalan, tolong taati semua peraturan yang ada. seperti yang anda ketahui nona semua ketentuan selama pernikahan sudah saya jelaskan kepada anda"
Adrianty terkejut sekaligus pucat pasi mendengar apa yang di katakan oleh sekretaris itu. Dia gemetar gemetar langsung melihat pria yang di depannya itu.
Mati aku mati aku mati aku, sepertinya nyawa ku sudah ada di ujung ubun ubun ku sekarang, kusangka tuan Sorno itu siapa ternyata itu adalah.....
Adrianty langsung menatap sekretaris itu dengan tajam. Dan kembali melihat pria yang di depanya tanpa mengedip.
ada apa dengan matanya itu. Dia melototi ku, berani beraninya dia! Sandi
"Kau sudah bacakan documen itu, jika sudah keluarlah, dengan gaya mu yang sangat kucel ini kau membuat mata ku sakit, Ken bawa dia keluar!" Tuan Sandi tadi langsung berdiri meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Nona sekarang anda mau apa lagi heh Ken
Usai pembicaraan yang singkat itu, bahkan lebih singkat dari menunggu sampai datang tuan rumah. Bahkan pembicaraan mereka hanya memakan waktu lebih kurang 15 menit.
Adrianty keluar dengan wajah yang cukup pucat. Tentu saja itu terjadi, dia bahkan mengatakan tuan Sorno itu orang tua yang sudah beruban, itu pun dia katakan tepat di telinga sekretarisnya. Dan bahkan dia sampaikan dengan riang cerianya.
Sekarang mereka sudah berjalan keluar menuju mobil yang sudah disiapkan.
Sekretaris itu membuka pintu mobil sebelah kanan tepat dimana Adrianty berdiri sekarang.
"Silahkan nona," memberi hormat.
"Itu, sekretaris Ken. Bisakah anda tidak mempedulikan kata kata saya di mobil tadi?" Adrianty langsung memegang lengan sekretaris Ken yang sedang berdiri di samping pintu mobil dan memasang wajah paniknya yang tidak dapat terkontrol lagi.
"Perkataan yang mana nona" dia tersenyum licik sambil melepaskan tangan Adrianty.
Wah gayanya itu, membuatku muak
"Hm, pokoknya semua yang aku katakan. semuanya tadi pagi di mobil ya, kumohon"
"Baik nona" sambil menundukkan kepala.
"Terima kasih tuan sekretaris yang baik hati dan tampan serta menjanjikan" menjilat penuh kebahagiaan.
Huft untung dia sedikit berbaik hati Adrianty masuk kedalam mobil yang sudah di buka oleh sekretaris Ken.
"Sama sama nona, akan tetapi sepertinya saya harus melaporkan setiap kegiatan saya hari ini pada tuan muda nona" dia tersenyum licik langsung menutup pintu mobil, pak supir dengan sigap langsung mengunci pintu mobil di pengawasan ruang kemudi.
"Antar nona dengan selamat"pesan sekretaris itu.
Deg, wajah Adrianty berubah menjadi pias. Awalnya dia sudah merasa lega, akan tetapi sepertinya tidak, dia bahkan sulit untuk bicara sekarang. Bahkan untuk bernafas pun sedikit Sulit.
Sekretaris itu sudah mempermainkannya. Adrianty geram mengutuk ngutuk sekretaris Ken dalam hatinya.
Sudah tamatlah diri ku.
ibu, jika kau mendengarkan ku buatlah sekretaris itu tersungkur di lantai, dan dia hilang ingatan tentang kejadian di mobil kumohon.
Adrianty menyatukan kedua tangannya membuat suatu permohonan. Sedangkan pak supir di depan curi curi pandang pada Adrianty, dia hanya merasa heran apa yang di lakukan oleh Adrianty belakang mobil.
__ADS_1