
Rumah tuan besar.
Akhirnya, setelah menuai perjalanan yang memakan waktu cukup lama, kedua suami istri itu Sampai dengan selamat.
Setelah melewati gerbang, Sandi memakirkan mobilnya di garasi rumah itu.
sepasang suami istri itu masih saling mendiamkan satu sama lain. Sandi enggan bicara, karna takut kalau dia bicara kesalahpahaman terjadi lagi lebih baik diam. apalagi Adrianty dia orang no satu yang paling enggan bicara saat ini.
Lihat dia, tanpa rasa bersalah
Dia meresa tidak memiliki dosa padaku.
Tidak pandaikah dia membujuk seorang perempuan?
Adrianty Keluar dahulu dari mobil. Tapi dia tidak langsung pergi, dia mau berjalan kearah mana nanti kalau dia pergi sendiri? dia tidak tahu jalan di sini kalau tidak di pandu, baru sekali dia kesini, dia masih belum tau jalan di sini.
Jadi Adrianty memilih menunggu Sandi keluar dari mobilnya, walaupun agak malu mulai bicara tapi mau bagaimana lagi.
Ketika Sandi keluar dari mobilnya, dia menyeringit kan dahinya, dia agak bingung. Ada apa dengan istrinya itu.
Aaaa
Aku tau, dia menunggu ku kan? Haha
"Oii" himbaunya pada Adrianty.
"Apa yang kau lakukan? Lanjut lah berjalan" dia menyeringai, mengisengi Adrianty saat ini sepertinya asik juga pikirnnya.
Lihatlah senyum smirk nya itu. Licik sekali.
Adrianty tidak menjawab dan hanya menunduk kan kepalanya kebawah. Dia tahu dia sedang di ejek, tapi mau bagaimana lagi? gengsinya selangit.
"Ck
Untuk apa kau diam? Ayo jalan!, nanti aku akan menyusul" tapi dia sendiri masih berdiri di depan mobilnya.
"Kalau mau jalan bersama kan bisa bilang pada ku...
Kenapa diam?"
Hihihi
Sandi berusaha menyimpan tawanya. Istrinya ini benar benar membuat dirinya gemas. Bagaimana tidak lucu, mata bengkak istrinya masih terlihat, dia memang sedikit merasa bersalah. Tapi melihat wajah merah istrinya dia jadi gemas sendirikan.
"Kenapa? Kau malu? Tidak mau menurunkan egomu?" Sandi mendekati Adrianty yang sudah memiliki wajah Semerah tomat.
Adrianty berusaha untuk menahan gengsinya. Pokoknya kalau bukan Sandi yang memintanya dengan memohon maaf dia Tidak akan menurut.
"Hahaha
Dasar gadis pelawan!
Ayo masuk"
Sandi berjalan mendahului Adrianty yang masih keras kepala itu.
Adrianty berdiri mematung menatap Sandi dari belakang.
Dia tidak mau minta maaf...
Huffft sudahlah, pria itu memang brengsek. Kau yang waras kau yang memaafkan dia Adrianty.
Akhirnya Adrianty menyusul Sandi dari belakang. Dia sedikit berlari karena dia sudah jauh tertinggal.
__ADS_1
.....
Kedua orang itu sudah berjalan beriringan menuju dalam rumah ayah Sandi.
Tapi...
Dari kejauhan terlihat seorang lelaki yang tampak tergesa gesa, karna dilihat dari cara berjalannya yang terlihat cepat.
Lelaki itu mendekati Sandi, raut wajahnya terlihat cemas.
"Tuan!!" Lelaki itu sedikit berteriak.
"Tuan, syukurlah anda datang"
"Kenapa?" tanya Sandi bingung.
"Ibu anda tuan, ibu anda datang....."
Bruk
Belum sempat pria itu selesai bicara, Sandi langsung mendorongnya dan berlari kedalam rumah dengan cepat.
Siall, beraninya dia...
Sandi meninggalkan Adrianty yang sedang kebingungan dengan situasi ini.
Ada apa ini?
Adrianty juga turut cemas jadinnya melihat Sandi tiba tiba meninggalkan dirinya dan berlari masuk kedalam rumah.
"Maaf, ada apa ya?"
Adrianty bertanya pada pemuda yang keluar tadi.
Saya minta maaf sebelumnya, sebaiknya anda tidak masuk kedalam dulu...
Karna.....
Tuan Sandi ada urusan"
Pemuda itu menjawab dengan kaku.
"Ada apa sih?"
Karna kepo Adrianty tidak mendengar kan perkataan pelayan itu. Dan langsung berlari menyusul Sandi kedalam rumah.
Aku kan jadi ingin tahu...
.......
Brak
Pintu kamar itu terbuka dengan keras.
Sandi mendobrak pintu itu hingga mengejutkan orang yang berada dalam kamar itu.
"Apa apaan ini"
Rahang Sandi mengeras, melihat sosok wanita yang sangat di bencinya seumur hidup.
"Kenapa anda kesini? Saya kan sudah melang andaa!!!!!" Sandi berteriak kencang.
"Tuan, tahan emosi anda tuan besar sedang...."
__ADS_1
"Siapa yang mengizinkan dia masuk? Siapa!!!"
Sandi mencengkram erat kerah baju seorang dokter yang mencoba menenangkan Sandi.
"Sa, saya juga tidak tahu tuan" nafas dokter itu tersengal. Dia merasa tercekik karna cengkeraman Sandi sangat kuat mencekik lehernya.
Bruk
Dokter itu di hempasan oleh Sandi ke dinding.
Aaaakkk!!
Para perawat wanita memekik ketakutan.
" Keluar! "
"Sandi, dengarkan ibu dulu"
Dua wanita yang datang dan membuat kekacauan disini, adalah ibu Sandi. Ibu kandungnya. Seorang wanita yang mencampakkan anaknya sejak Sandi berusia 7 tahun.
"Ku bilang keluar!!"
"Sandi ibu baru saja datang" wanita itu terlihat proter dengan nada mengiba, menarik orang untuk bersimpati pada dirinya.
"Siapa suruh kau datang? Siapa yang mengizinkan mu?" Sandi menatap tajam ibunya itu.
"Sandi, ibu hanya berkunjung. Ibu hanya menjenguk ayahmu apa yang salah? "
Sandi tersenyum miris. Menjenguk? Omong kosong.
"Jangan panggil dirimu ibuku!"
"Aku berhak atas diri mu, aku ibu mu!"
"Diam!!
Aku tidak pernah punya ibu" Sandi menggertakan giginya. Dia merasa geram melihat wanita ini.
Tuan Sorno yang sejak tadi terbaring lemah di atas kasur hanya bisa menyaksikan kekacauan ini.
Dia tidak kuat menghentikan kekacauan ini.
"Sandi, ibu hanya ingin menjenguk tuan Sorno, ibu ingin mengucapkan terimakasih kepadanya karna telah membesarkanmu anak ku"
Ibu Sandi memang benar seorang aktor, dia bahkan mengeluarkan air matanya. Se akan akan dia menjadi ibu paling menyedihkan disini.
"sudah lama kita tidak bertemu kenapa kau begitu? aku merindukan mu" wanita itu memegang wajah Sandi.
Tapi lagi lagi ditepis dengan kasar.
akhirnya ibu Sandi hanya diam. dia kembali menarik tangannya.
"bagaimana kabarmu? kau baik baik saja?" dia tersenyum.
"kau...
sudah besar yaaa...
sudah saatnya bagimu untuk...."
perkataan ibu Sandi terputus karena masuknya seseorang.
"permisi.."
__ADS_1
benar, itu adalah Adrianty yang masuk menyelonong kedalam rumah.