First Wedding Trip

First Wedding Trip
perkara memasak


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain Adrianty terlihat mengenakan pakaian tidurnya.


Dia terus berjalan keruang tamu hingga mendapati sekretaris Ken yang sedang duduk di sofa.


Entah inisiatif dari mana yang muncul membuat Adrianty menyapanya dahulu.


"Sekretaris Ken?"


Orang yang di sapa tengah sibuk dengan pekerjaannya mulai mengalihkan pandangannya menuju suara.


"Ya nona?"


"Anda sudah sampai jam segini? Rajin sekali ya? Kulihat tuan Sandi baru saja bangun"


"Ya nona, karna tuan muda prioritas utama saya" k n kembali melanjutkan pekerjaannya kembali dan mengacuhkan Adrianty yang terlihat kesal.


akhirnya Adrianty berjalan menuju dapur, semua pelayan menunduk hormat padanya. Mereka merasa tidak saja karna diistimewakan seperti ini. Walaupun di rumahnya dulu ada pelayan tapi tidak sebanyak ini. Dan para pelayan di rumah selain Bibi kepala pelayan, yang lainnya adalah orang julid yang suka menggosipkan tuan rumahnya. Adrianty sangat tidak suka itu.


"Sekretaris Ken anda sudah sarapan? "


"Ya nona?" kebingungan


"Ku tanya apa kau lapar?"


"Ah.."


Cara bicaranya sama dengan tuan muda


"Kalau begitu tunggu di meja makan, setengah jam lagi kita makan"


Apa yang di lakukan oleh wanita ini? Jangan bilang dia akan memasak


"Apa anda akan memasak nona?" Tanya sekretaris Ken penasarannya.


"Emangnya kau lihat aku mau ngapain"


Melirik dengan sinis.


"Apakah pelayan rumah ini memperlakukan nona dengan baik? Jika tidak saya bisa...."

__ADS_1


"Sekretaris Ken, jangan urus urusan saya" jawab Adrianty ketus.


Dia memang seperti itu, tidak suka jika pekerjaannya di ganggu. Adrianty orang yang ceroboh, rapi dia cukup cerdas. Akan tetapi dia miliki kepribadian tidak akan mencampuri urusan orang lain jika dirinya tidak terlibat.


Kurang ajar, dia membentak ku


"Baik nona"


Akhirnya Ken mengalah tanpa syarat kepada Adrianty. Dia lebih memilih diam daripada berdebat dengan nona mudanya itu. Halasil akan terlihat nantinya kalau dialah yang akan kalah.


"Kenapa kau berdiri, duduk!"


"Sebelum tuan muda duduk saya tidak akan pernah lancang mendahului tuan muda nona. Lebih baik saya melanjutkan pekerjaan saya. Kalau begitu saya permisi"


Ken yang hanya mematung di samping meja makan tadi sekarang meninggalkan meja makan. Sekarang tinggallah Adrianty seorang di dapur di temani oleh beberapa pelayan uang mungkin Adrianty butuhkan nantinya.


"Cih, memang dia sangat patuh terhadap tuannya" guman guman.


Adrianty melanjutkan kegiatan masaknya. Tangannya cukup lincah bergerak di dapur.


Bagaimana tidak. Adrianty adalah orang yang meracik bumbu minuman dan makanan di kafenya. Tentu saja dia tahu tentang kuliiner dan terbiasa akan hal itu. Lagi pula dia setiap hari selalu memasak waktu di rumah lamanya dahulu.


Bahkan ada juga pelayan yang melarangnya menggunakan dapur, dengan alasan takut tuannya tahu. Ada ada saja, pikirannya.


"Kalian sudah lanjutkan saja pekerjaan kalian yang lainya. Aku tidak perlu di bantu. Akan ku panggil kalian jika aku butuh" sambil mengaduk aduk makanan yang berada di atas kuali Adrianty melebarkan senyumnya ke para pelayan.


Hingga membuat mereka tidak enak hati saja.


Lima belas menit berlalu, masakan Adrianty hampir selesai.


Wanginya sangat membuat perut merasa kroncongan di buatnya.


"Makanlah" Adrianty menyodorkan satu piring pregedel yang dia buat kepada pelayan yang berdiri di dekatnya.


"Kalau tidak enak katakan padaku ya!" Barbagilah dengan temanmu yang lainnya.


"i Ini tidak perlu nona" pelayan itu merasa gugup.


" Sudahlah cepat pergi sebelum dingin"

__ADS_1


"Ba baik nona" pelayan itu pergi dengan gugup.


Wanginya saja sudah seharum ini bagaimana dengan rasanya nanti, saya takut nona jika tuan menjadi emosi karna anda memesak dan Kamilah yang menjadi imbasnya. Derita seorang pelayan memang seperti ini


Dia akhirnya pergi meninggal Adrianty dan pergi menemui temanya yang berada di ruang belakang untuk bersih bersih.


Hidangan di atas meja di susun rapi bak restoran. Adrianty sangat profesional sebagai seorang pelayan makanan.


"Hmm, yang ku buat tidak terlalu banyak, apa ku pqnggil sekretaris Ken aja ya" fikirnya, ketika Adrianty ingin berjalan keluar tiba tiba terdengar sebuah suara yang membuat Adrianty kaget.


"Apa yang kau lakukan ini!!!" Suara ini cukup keras di telinga Adrianty.


Menggelegar memenuhi langit langit ruangan. Para pelayan dan sekretaris Ken langsung berjalan mendekat pada tuannya.


"Sa saya masak tuan" karna kaget Adrianty merinsek mundur ke belakang.


"Ada apa tuan muda?"


"Siapa yang menyuruh dia berada di sini!!" Masih dengan suara yang meninggi terdengar memekakkan telinga.


"Sa sa saya tidak tuan.." karna ketakukan Adrianty langsung merasa menciut, suara tercekik melihat suaminya itu.


"Apa aku bertanya pada mu?


Cepat katakan padaku siapa menyuruh dia" suaranya sudah lebih rendah tapi masih terkesan dingin di telinga.


Semua orang hanya diam tidak berani menjawab. Karna mereka tahu temperamen tuannya itu. Selamat jika menjawab dengan betul, tapi jika menjawab denagn salah maka nyawa tantangannya.


"Tuan, nona hanya ingin memasak tuan muda" akhirnya Ken angkat bicara.


*Sial, aku bahkan lupa akan satu hal itu. Harusnya aku hentikan saja nona tadi. Tapi tidak apa, kita lihat sampai kapan nona ini akan bertahan* fikir sekretaris Ken.


"Apa tidak ada pelayan disini? Dia pikir untuk apa aku mempekerjakan para pelayan. Kalau kau begitu inginnya memasak jadilah seorang pelayan rendahan sana, jangan pernah menjadi seorang nona" Sandi melihat Adrianty dengan sinis. Suaranya meninggi tapi tidak akan menusuk gendang telinga. Akan tetapi menusuk hati seseorang.


Memang apa yang salah jika aku memasak? dengan ketakutan Adrianty mencoba bicara pada suaminya yang dilanda emosi itu.


"Tuan saya memasak dengan inisiatif saya sendiri tuan, para pekerja ini tidak melakukan apa apa" Adrianty memperbaiki kacamatanya yang hampir saja turun dari puncak hidungnya.


......

__ADS_1


jangan lupa berikan like dan favorit kalian berikan komentar agar cerita ini berkembangπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚


__ADS_2