
Di sebuah rumah mewah milik seorang pengusaha tekstil yang cukup dikenal, cuaca yang indah dan pagi yang sejuk. Burung burung saling bersiul satu sama lain membentuk suatu nada, membuat orang merasa bersemangat dengan harinya.
Yang tentu saja tak terkecuali wanita yang masih berusia dua puluh tahunan itu. Dia sedang yang tengah berada dalam suasana hati yang paling senang. Tentu saja masalah tadi malam itu sudah dia lupakan.
"Selamat pagi bibi, selamat pagi kak nun"
Kak nun adalah seorang pelayan yang berbeda beberapa tahun lebih tua dari wanita itu.
Tak tak tak tak
Terdengar langkah kaki menuruni anak tangga. Sambil menyapa segenap insan yang melihatnya.
"selamat pagi semuanya!!" dengan senyum Pepsodent tanpa paksaan dia menyapa semua orang yang berada di dalam rumah.
Adrianty adalah anak yang sopan dan santun. Ya nama wanita di malam itu adalah Adrianty, nama panjangnya Adrianty Syahada. Anak yang lahir dari ibu yang sudah lama tiada pada saat dia berumur 10 tahun. Rambutnya sedikit ikal jatuh kebawah. Tubuh yang indah bisa dilihat walaupun dia mengenakan pakaian yang longgar, berwatak ceria dan pekerja keras.
Dan sekarang hanya dia bersama dengan ayahnya. Ayahnya sudah menikah sejak satu bulan setelah kepergian ibunya. Adrianty sangat membenci ayahnya yang melakukan itu. Mulai dari ayahnya yang berselingkuh dari ibunya sejak dia berusia tujuh tahun. Dan Adrianty tahu itu. Tapi apalah daya, setiap hari dia selalu mendengarkan pertengkaran orang tuanya karna hadirnya orang ketiga dalam pernikahan mereka.
Semua orang melihat ke arahnya. Menggap dia sangat aneh hari ini. Biasannya Adrianty Hanya lewat tanpa menyapa segenap insan tersebut. Sekarang dia bahkan sudah tersenyum tanpa adannya paksaan.
"Ayo makan!"
Kepala rumah tangga tersebut sudah duduk di meja makan sambil menunggu pelayan menyiapkan makanan.
"Baik ayah" si bungsu bernama Melisa langsung mengambil tempat duduk yang berada di samping ibunya. Dan si sulung yang bernama Kenly langsung menggeser bangku dan mendekat pada ayahnya.
Tentu tidak dengan Adrianty, dia mengambil kursi yang paling ujung. Dia bisanya sangat jarang makan bersama dengan kelurganya karna ingin menghindari ibu dan adik tirinya.
Meja makan adalah tempat dimana tempat berperang para wanita. Baik untuk para terpelajar, ataupun para pengganggu lainnya.
Tak terkecuali keluarga ini.
Ketika dulu waktu masih remaja Adrianty biasanya akan menangis setelah sarapan pagi karna sindiran yang kasar yang mereka lontarkan kepadanya, dan semua kesalahan yang dilimpahkan padanya membuat dia merasa sedih dan serasa di kucilkan dalam keluarga. Itu sebabnya dia lebih merasa ceria di luar dari pada di kelurganya sendiri.
Tapi tentu saja dia akan berbeda sekarang. Dia sudah tak lagi mendengarkan perkataan orang lain yang membicarakan dirinya. Dia sudah tak peduli lagi. Yang penting dia tahu benar bahwa dia sendiri bukan orang seperti itu. Itu adalah kata kata yang di ucapkan seorang bocah yang berumur dua belas tahun kepadanya.
__ADS_1
"Adrianty, sekarang kau sudah dewasa sudah waktunya kau menikah" Ayah Adrianty membuka sebuah pembicaraan yang membuat Adrianty terkejut setengah mati.
Uhuk uhuk uhuk
Adrianti batuk batuk mendengar perkataan ayahnya dan beralih kepada ayahnya.
"Apa yah, menikah? Aku?mengapa?"
"Sudah ku bilang kau sudah dewasa, sudah berapa umur mu?"
"Ayah, kau bahkan tak tahu berapa umur ku mengapa kau katakan aku sudah dewasa. meminta ku untuk menikah? Lucu sekali. "
Adrianty meletakkan peralatan makanya di depan dan melihat ayahnya yang sedang menyantap makanannya dengan santai.
Tak
Ayah Adrianty meletakkan peralatan makanya di atas meja. Dan memandangi Adrianty.
"Kau harusnya bekorbanlah sedikit demi perusahaan ayah mu. Sekarang harga saham perusahaan kita semakin lama semakin menurun. Bisa di katakan dalam satu Minggu kita akan gulung tikar!"
Ayah Adrianti meninggikan nada suaranya seakan akan memberikan perintah untuk mengharuskan Adrianty untuk menikah. Dan menyelamatkan masa depan perusahaan mereka.
Reflek ayah Adrianty langsung melemparkan sendok pada dirinya.
"Apa apaan sikap kurang ajar itu, kau memang sama seperti ibumu yang selalu melawan ku. Sikap ****** ibumu itu sebaiknya jangan Tunjukkan di depan orang lain. Kau tau! Cukup tunjukkan sikap baik mu dan menikahlah!"
Tak. prank
"Hentikan!"
Hempasan piring dan teriakan terdengar mememecah ruang tamu. Adrianty bangkit dari duduknya .
"Sudah cukup kau bicara jangan menghina ibuku"
Adrianty berteriak kepada ayahnya. Lalu menarik napas panjang.
__ADS_1
"Memangnya kenapa harus aku? Apa aku menggunakan uang perusahaan ayah? Apa aku pernah meminta uang kepada ayah? Hah!"
Ibu tiri yang dari tadi sangat menikmati makanannya. Dia juga tak ingin Ketingalan, dia langsung memberi minyak tanah agar api cepat menyebar.
"Apa apaan kamu! Ayah mu ini melakukan ini juga demi kebaikan mu, jika kamu menikah dengan tuan Sorno kau juga bisa menikmati hartanya. Kalau kau tidak menyukai nya kau bisa bercerai setelah perusahaan ayah mu stabil"
"Benar itu! Kak Adrianty kau selalu saja melawan perkataan ayah. Kau kan hanya di suruh menikah kau tak perlu seperti ini"
Adik tiri yang sangat di benci Adrianty juga mendukung opini ibunya.
"Itu benar, jika aku belum punya pacar, aku juga akan menuruti perintah ayah toh tuan sorno walupun sudah tua diakan kaya, kau juga bisa menikmati hartanya kan" kakak tiri yang selalu ingin adik tirinya jatuh tertimpa masalah tiap harinya.
Adrianty hanya diam. Dia mengepal tangannya meluap kan segala emosi.
"Heh, sebelum itu, siapa orang yang akan ku nikahi?"
Adrianty ingin tahu siapa yang akan di nikahinnya sehingga orang bersikeras untuk menikahinya.
"Dia adalah tuan sorno pemilik hotel bintang lima yang berjumlah 3 hotel di kota ini, selain itu dia juga punya perusahaan kontraktor di kota lain. Dia sudah mempunyai seorang anak. Walaupun begitu dia sangat menyukaimu. Ketika ku berikan fotomu padanya dia sangat tertarik pada mu"
Ayahnya berusaha sekeras mungkin meyakinkan putrinya agar bisa menikah dengan orang yang telah dipilih.
Heh, dia sudah menjualku kepada orang tua. Menjual anak kandungnya sendiri. Tak merasa bersalah sedikitpun, apa di kepalanya hanya uang? Sampai aku anaknya tidak di pikirkan?
"Ha, hahaha" gelak tawa Adrianty membuat orang merasa merinding.
"Menikah? Apa begitu penting? Jika memang harus menikah, anda bisa menikahkan bibi dengan tua bangka itu, dia lebih pandai mengorek harta dari pada aku."
"Kau..
Kau anak kurang ajar kau, beraninya kau menghina ibumu!"
Prank
Ayah Adrianty melemparkan gelas kaca ke hadapan anaknya itu.
__ADS_1
Hempasan gelas dan pecah tepat dihadapan Adrianty. Akan tetapi dia tak mengacuhkan hal tersebut.
Adrianty melangkah meninggalkan meja makan dan keluar dari rumah keluarga Jikwu. Ya, Jikwu adalah nama ayahnya Adrianty. Seorang ayah yang hanya memikirkan uang dan uang.