First Wedding Trip

First Wedding Trip
fakta


__ADS_3

Akhir bulan adalah ajang dimana semua petinggi Y.A grop melakukan diskusi untuk memajukan perusahaan. semua para CEO anak perusahaan langsuang mengajukan laporannya masing masing pada Sandi. Bagaimana kemajuan perusahaan dalam waktu sebulan ini.


Ruangan luas ber AC, serta desain interior ruangan yang terkesan mewah dan elegan. Tepat di lantai atas yang sudah seperti ruang pengadilan saja. Salalu merasa tegang tanpa alasan. yang jelas alasan utamanya hanya satu. Mempertahankan nyawa dan pekerjaan masing masing. Semua orang di sini saling menonjolkan diri, mengatakan apapun prestasi yang mereka gapai dalam waktu satu bulan ini. dan memperlihatkan pada presedir perusahaan bahwa mereka adalah orang yang terbaik yang berhak menduduki jabatan ini. Tidak ada yang terkecuali.


Ahh, ada seseorang yang berdiri bagai patung di samping presedir seperti anak anjing yang patuh pada tuannnya. orang yang tidak akan peduli apa yang terjadi dalam ruangan. Dan orang yang tidak akan bekerja selain melakukan apa yang Sandi katakan. siapa lagi kalau bukan Ken.


PRANKKKK


suara sanjungan dan kalimat jilat menjilat satu sama lain yang semula terdengar, hilang tertelan air liur masing masing.


Sandi menghempaskan tumpukan laporan yang telah tertumpuk di depannya. laporan yang Sudah dia koreksi masing masingnya dan selalu mendapatkan pena mereh tiap laporan itu.


"itu yang kalian namakan laporan? hah!!!" teriakan Sandi menggema seluruh ruangan. Tidak ada yang berani bersuara selain menahan nafas yang tercekat dalam tenggorokan mereka masing masing.


suara itu adalah peringan pertama dan terakhir untuk tidak melawan apa yang sandi katakan.


"hai, menejer Anan!"


"ya tuan"


"kau kemanakan dana yang kuberikan ?"


tangan wanita tua itu sudah gemetar ketakukan. tidak berani mendongkak ataupun menjawab.


"KAU KEMANAKAN!!!!"


"maafkan saya tuan, maafkan saya. saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama maafkan saya tuan" berusaha mengiba iba hingga sudah berlutut di depan Sandi.


" maaf? kau pikir itu yang ingin ku dengar darimu hah"


"sa saya" suaranya tercekat di tenggorokan.


"huftt, tujuh ratus juta itu memang kecil bagiku. kau pikir masalah nominalnya. Tanggung jawab mu yang ku pertanyakan disini, kemana uang itu? kau mencoba menipuku dengan laporan sampah ini?"


plak.


sandi melemparkannya tepat di depan wajah wanita itu.


semua orang hanya bisa melihat, memangnya apa yang bisa mereka lakukan? melihat aksi ini saja membuat mereka tidak berani menghela napas.


"kalian semua, tulis ulang laporan ini. buat laporan ini semua yang aslinya. jangan sesekali memberikan laporan sampah ini kehadapan ku lagi!!!"


Sandi berdiri dari duduknya dan melangkah keluar. "jika ingin kalian hidup nyaman, lakukan dengan benar pekerjaan kalian. kutunggu laporan kalian tiga jam lagi, mengerti!!" sambungnya.


"ba baik tuan" mereka menjawab dengan serempak.


Sandi yang di ikuti sekretaris Ken akhirnya berjalan meninggalkan ruangan yang sudah mulai agak tenang. kepergian mereka adalah saat mereka mengambil napas dalam dalam.


..............

__ADS_1


"Ken"


"ya tuan muda?"


"apakah sudah ada kabar?"


sekretaris Ken menyeringit bingung. Berusaha mencari tahu apa yang di maksud oleh tuannya.


"wanita itu" ucapnya sendu.


ahh, Kanisa lagi


"sudah tuan, dalam tiga bulan lagi dia akan kembali ke tanah air. karna dia memutuskan kontraknya dalam tiga bulan"


"oh" Sandi sudah sampai didepan ruangannya. Sebelum masuk dia melihat ke arah pra sekretaris wanita yang berjejer rapi menyambutnya. "siapkan kopi" sahutnya.


"Ken, kau pergilah ke kantor cabang kontraksi. periksa sampai mana pekerjaan mereka"


dia kembali kedalam ruangannya dan meninggalkan Ken sendirian yang sedang membungkukkan badan padannya.


Sandi berjalan menuju kerjanya, dia membuka laci dan mengambil sebuah map yang di berikan Ken padanya beberapa Minggu yang lalu.


"padahal kau bisa hidup dengan baik jika berada di sisi ku. kenapa memilih jalan yang menyulitkan dirimu sendiri" gumamnya sendu.


Perlahan dia membuka map itu. Terlihatlah foto seorang wanita cantik berambut lurus dan hitam panjang. wajahnya terlihat menggunakan pakaian import. Menjadi potret utama pada majalah fashion.


"jika kau mau pun akan ku beli brand yang kau junjung sekarang"


*Ting


sebuah notifikasi berbunyi berasal dari handphonenya.


Sudah tidak asing lagi baginya, apa lagi jika bukan pengambilan uang melalui cek. Jika bukan para wanita simpanannya siapa lagi. Wanita penghibur yang biasa dia gunakan setiap kali merasa frustasi.di sebuah club.


"huft, kalau bagini terus aku tidak akan pernah merasa bahagia..." gumamnya pelan.


Dia kembali menutup map tadi dan meletakkan kembali kedalam laci mejanya.


drrrrt, dretttt.


Hp Sandi bergetar, panggilan masuk dengan menampilkan nama seseorang yang dia hindari selama ini.


tak, raut wajahnya sudah kesal saja bahkan sebelum dia mengangkat panggilan itu.


"Sandi apa kabar nak?" setelah mengangkat panggilan itu, terdengar suara seorang wanita paruh baya yang sudah terdengar lemah di telinganya.


nak? dia masih saja tidak tahu dirinya


"langsung saja ke intinya. berapa yang harus di transfer?"

__ADS_1


"ini bukan tentang uang nak, tapi mam mau ketemu sama kamu. kamu bisa kapan ketemu sama mama? kita kan belum pernah bertemu lagi kan?"


Sandi menghela nafas kasar, pembicaraan kali ini pasti sudah kemana mana. Bertemu? dengannya? Bahkan mengingatnya saja membuat jijik. Dan dia ingin bertemu?.


Prank


Sandi menghempaskan Hp nya ke sembarang arah. mengacuhkan orang di seberang sana yang sedang memangil manggil namannya. Dan kembali berkutik dengan tumpukan documen yng ada di depannya.


Tok,Tok tok


ketukan pintu membuat suasana hatinya tambah buruk.


"mengganggu saja. masuk!!"


"tuan, ada orang yang ingin bertemu dengan anda" seorang sekretaris wanita masuk dengan elegan.


keningnya menyeringit. "siapa?"


"nona Ritha"


"ooh, suruh dia masuk"


Bebeeapa saat kemudia, masuklah seorang wanita cantik dengan langkah tegap dan elegan.


"lama tak jumpa sandi, bagaimana kabarmu?" dia memberikan salam kecup pipi kiri dan kanan.


"baik, kau baru datang?"


"ya, baru tiba kemarin"


"ada apa kau kemari" mereka sekarang sudah berjalan ke arah sofa. duduk saling berhadapan di kursi yang sama.


"siapkan minum" perintanya pada sekretaris wanita itu.


"hmmm. Kudengar Kanisa dua bulan lagi pulang. Apa rencana mu?"


"apa memang urusannya dengan mu?" Mulai sebal membahas kalimat paling sensitif.


"tentu saja ada urusannya dengan ku. Kau tidak ingin balas dendam? Secara walaupun dia sahabat ku dulu, tapi urusan pria tidak ada kata persahabatan bukan?"


Sandi memandang Ritha tidak suka.


"Memangnya kau tahu pa tentang perasaan ku padanya. Menggunakan aku untuk ajang balas dendam mu kau pikir aku bodoh?" wajahnya sudah masam memandang Ritha.


"hahaha aku hanya bercanda. Kenapa kau anggap serius begitu? hahaha"


Ritha berusaha mencairkan suasana yang tegang antara mereka berdua.


"bercanda kau bilang. walaupun kau punya siasat menyingkirkan kanisa pun percuma. Karna dia sudah lama tersingkir"

__ADS_1


"aku sudah menikah"


Prankkk


__ADS_2