First Wedding Trip

First Wedding Trip
sedikit ingatan masa lalu


__ADS_3

Di ruangan itu tampak bahagia. para dokter tampak senang melihat interaksi antara Adrianty dan tuan besar Sorno.


sangat jarang ada orang yang bicara nyambung dengan dirinya, sekali bertemu ternyata mereka sangat cocok.


Sedangkan Sandi si batu keramat, hanya menatap kedua orang itu tanpa ingin menyela.


"Nak, Kenapa kau terlihat mirip seseorang?" Sorno berusaha memegang wajah Adrianty dan menatapnya dalam.


"seseorang?" tanya Adrianty.


"ya, seseorang yang kukenal waktu masih muda dulu. kau sangat persis dengan dirinya" ucapnya lirih.


" apa anda pernah melihat seseorang seperti ku? siapa dia ayah?"


"Hanya saja dulu ada, sekarang sudah tidak" tuan Sorno pandangannya mulai sendu.


"kau seperti orang itu, dia tangguh dan pemberani. hanya saja dia..."kata katanya terputus, dipotong oleh sandi.


"Lupakan ayah!" Tegas Sandi yang langsung membuat orang diam.


Tidak lama kemudian terlihatlah buliran air mata di ujung mata tuan Sorno. Seakan akan ada sebuah ingatan masa lalu yang menyakitkan.


"sudah berapa kali ku suruh lupakan maka lupakan!!. kenapa kau tidak mau mengerti? jangan ungkit lagi hal itu!"


tegas Sandi pada ayahnya.


"kau memintaku untuk menikah sudah ku turuti. Sekarang kau masih tidak mau mendengarkan ku. untuk apa aku mendengar perkataanmu jika kau tidak mendengar apa kataku? lebih baik aku tidak usah menikah seumur hidup ku. membuatku repot saja. lebih baik aku bermain wanita di luar sana, siapa yang mengandung benihku maka dia yang beruntung! Dan dia akan aku jadikan menantumu!"


Deg,


Seperti petir di siang bolong yang menyambar ketelinga setiap orang yang mendengar.


Terutama Adrianty. Dia merasa tersinggung dengan perkataan Sandi. Meresa dirinya di permainkan. Kenapa harus kata itu yang dia dengar.


"Nak kenapa kamu bicara seperti itu, apa lagi di depan istri mu ini" ayah Sandi bicara dengan lemah lembut kepada anaknya itu.


Sandi adalah anak yang paling dia sayangi, karna Sandi adalah anaknya satu satunya, bahkan kelakuan kasar Sandi sudah bisa di maklumi oleh ayahnya.


"Terus terang saja, aku menikahinya karna permintaan ayah, jika bukan kart ayah sakit sakitan seperti ini ayah fikir aku Sudi menikah dengan wanita ini?"


Suaranya datar dan dingin itu seperti panah yang menerjang Adrianty.


Buliran air mata sudah terlihat di ujung mata tuan Sorno.


Dia meresa bersalah dengan permintaannya seperti menekan Sandi untuk menikah.


"Tuan, sebaiknya anda..."


"Ayah" kalimat sekretaris Ken dipotong sandi.


"Jika ayah tidak ingin anakmu ini berakhir seperti ibunya, maka jangan paksa aku lagi, cukup sembuh dengan cepat dan kembali lah seperti dulu, hanya itu yang aku minta!"


dia berjalan keluar kamar meninggal perawat dan para dokter yang masih termenung melihat sikap tuan mudannya.


Ken yang sudah kelimpungan langsung menyusul Sandi yang sudah berada di luar.

__ADS_1


"saya akan bicara dengan tuan muda. permisi" Ken memberi hormat dan pergi menyusul Sandi.


Lalu bagaimana dengan Adrianty? Dia hanya berusaha menahan sebuah gejolak dalam dirinya. Berusaha menahan air mata yang bergulir.


Mendapatkan sebuah fakta bahwa dia tidak di inginkan seperti sebuah tamparan baginya.


"Sudahlah, jangan difikirkan ya kata anak ayah tadi, dia memang anak yang keras kepala tapi niatnya baik kok" katanya sambil tersenyum.


baik untuk diri anda tapi tidak untuk diri saya tuan.


Adrianty membalas senyuman itu dengan sebuah senyuman kaku dan berusaha kuat menahan air matanya untuk tidak mengalir.


"Hmmm, iya ayah..Saya mengerti..


Apa ayah sudah makan" Tanya Adrianty yang mulai mencari suasana itu setelah kepergian Sandi.


Tuan Sorno tersenyum, " belum"


"Baiklah, biar saya suapi ayah, ayah harus banyak makan dan minum obat, ayah harus sembuh dan menghukum anak ayah yang kurang ajar itu" Kata katanya tanpa sensor membuat orang tercengang.


"Bagaimana ayah mengajarnya, dia susah tamat di pendidikan yang sangat tinggi gelarnya, apalagi yang perlu ayah ajarkan?"


Sorno yang Merasa tidak lagi berdaya.


"Ajarkan dia untuk menghargai orang lain, ajarkan dia tidak bicara dengan kasar seperti itu pada ayahnya, ajarkan dia untuk tidak terlampau egois. Bersikap egois boleh, tapi hanya saat situasi tertentu saja"


Adrianty mengambil mangkuk berisi bubur dan menyuapi bubur itu kepada sang ayah. Setelah mangkuk dipastikan habis, Adrianty langsung membatu tuan besar untuk minum obat sesuai anjuran dari dokter.


Para dokter dan perawat merasa Adrianty cukup berani.


Kemungkinan untuk kembali sehat juga akan besar.


_____


Sedangkan di tempat lainnya ada seorang pemuda yang tengah bersenang senang di sebuah bar selama berjam jam, dan ada banyak wanita yang sedang mengelilinginnya dan menemaninya meneguk anggur.


Gemerlap lampu diskotik ini membuat orang orang menari-nari tanpa henti. sedangkan Sandi hanya duduk sembari meneguk wine.


"Tuan, hari sudah sangat larut, hentikan minumnya dan mari kita pulang" Ken yang berdiri di belakang pria itu.


"Hai, kau menasehatiku? Beraninya kau.


Jam berapa sekarang?" Melanjutkan meneguk wine. Dia sesekali mengecup bibir wanita yang ada di sampingnya.


"Hari sudah pukul setengah dua belas malam tuan"


"Hmm, sudah larut yaa. ck, mengganggu saja. ayo!" Sandi langsung berdiri dan meletakkan gelas wine nya itu.


"Beri mereka tips Ken" langsung berjalan meninggalkan para wanita itu.


"Baik tuan"


Sret sret sret


"Ini untuk kalian malam ini!"

__ADS_1


Ken memberi selembar cek kepda wanita penghibur.


"Wah banyak!" Ucap si A


"Tidak ada ruginya malam ini" ucap si B


Ken berjalan keluar menyusul tuan mudanya.


Banyak mata yang melihat Sandi yang tampan dan diikuti oleh ken. Sudah jelas, orang yang selalu menjadi sorotan utama diman pun dia berada.


Semua orang menunduk hormat ketika melihat mereka. Penghuni klub itu sangat mengenal siapa Sandi.


"Selamat malam tuan Sandi"


"Hm" singkat


"Ken"


"Ya tuan"


"Wanita itu sudah pulang?" Mereka bicara sambil berjalan menuju lift.


Belum sampai di depan lift dia mendengar pecahan kaca di sebuah ruangan.


Tiba tiba


PRAAANKKK


Terdengarlah suara yang sangat ribut di sebuah ruangan.


"Ada apa itu?" Sandi kembali melangkahkan kakinya kebelakang Karana ingin tahu.


Semua penghuni klup yang berada di lantai ini langsung keluar karna mendengar suara yang sangat gaduh.


Semua orang berbondong bondong melihat peristiwa yang terjadi di dalam ruangan tersebut, termasuk dengan Sandi dan sekretaris Ken.


Di situ terlihat seorang wanita yang sedang duduk di sofa dengan ketakutan.


Dan terlihat juga seorang wanita yang tengah berkelahi melawan banyaknya pria dalam ruangan itu.


Buk


Buk


Buk


Bunyi pukulan bertubi-tubi.


"Apa kau bilang hah, kau ingin memenuhi nafsumu"


Buk


pria itu kena pukulan lagi.


"Brengsek kau, karna itu kau pacaran dengan Nizi hah!"

__ADS_1


__ADS_2