First Wedding Trip

First Wedding Trip
insiden kecil


__ADS_3

"A, apa kau bilang? heii jangan bercanda kau..kau ingin aku percaya padamu?" kata kata yang di ikuti oleh tawa renyah seakan apa yang Sandi bilang tidak benar.


"terserah" sudah tidak peduli lagi apa yang di katakan oleh Ritha.


"jadi itu benar? kau sudah menikah? kau benar benar...."


Ritha merasa geram sendiri mengetahui satu fakta ini. "kenapa kau tidak memberi tahuku?"


"memang apa urusannya dengan mu? aku menikah atau tidak itu sama sekali tidak ada urusannya dengan mu"


"Sandi, sebagai teman mu aku.."


"kau sudah selesai? sekarang keluar!"


"Sandi kau mengusir ku? kau pikir aku akan langsung keluar" Sudah berteriak kemana mana karna kesal.


Sandi berdiri dari duduknya, dia melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik "terserah"


satu kata itu berhasil membuat Ritha naik pitan. Dia juga ikut berdiri, mengekor pada Sandi yang berjalan menuju meja kerjanya.


"Sandi aku belum selesai bicara aku..."


TOK TOK TOK


"Maaf tuan mengganggu waktu anda, menejer Arik datang menemui anda tuan"


"suruh dia masuk!"


Ritha dari tadi tetap mengekor di belakang Sandi. Dia tetap keras kepala dan tidak mau mendengar.


"kau masih belum keluar? apa kusuruh saja...


CUP


Dengan cepat Ritha menyambar bibir Sandi Tanpa izin.


Ceklek...

__ADS_1


pintu terbuka, terlihatlah Arik masuk bersama seorang sekretaris wanita yang sedang mengekor di belakangnya.


"ehem, hai Aku datang, apa yang kau lakukan?"


saat ini Sandi dan Ritha berada di posisi yang sangat intim. Dengan keadaan Sandi yang duduk di kursi dan Ritha menekuk salah lututnya di kursi itu dan berada di antara kedua paha Sandi. serta bibir mereka yang menyatu.


"apa yang kau lakukan!" Sandi berteriak marah dan mendorong Ritha hingga terjatuh.


"akh, Sandi apa yang kamu lakukan pada ku?" Dengan cepat sandi mengambil sapu tangan yang ada di kantong blezernya dan menghapus bekas ciuman pada bibirnya.


"SATPAM!!"


suara Sandi yang menggelegar di seluruh ruangan mampu membuat para sekretaris berkumpul seketika. "Tuan ada apa ?"


terlihat di sana Ritha yang tergeletak di lantai dengan menyedihkan.


Menejer Arik yang ikut terkejut mencoba menghentikan apa yang sedang terjadi.Dia mendekat ke arah Ritha.


"hai Sandi, tenanglah, kau apakan wanita ini? bicarakan baik baik.."


"panggil satpam bodygard apapun itu sekarang!"


"ba,baik tuan" salah satu staf sekretaris wanita langsung keluar dan memanggil para bodyguard yang berjaga di luar ruangan.


Dalam sekejap mereka sudah masuk dan berkumpul dalam ruangan Sandi.


"kalian dengarkan! mulai detik ini, jika wanita ini mendekati perusahaan ku, usir dia jauh jauh dari sini atau kalian ku pecat tanpa surat rekomendasi. mengerti!"


Sandi merasa kesal dan menghapus ciuman yang masih terasa baginya itu dengan sapu tangan. Ciuman yang terasa menjijikkan. Bahkan lebih menjijikkan dari pada seorang wanita ******.


itu yang kau bilang teman? dasar manusia munafik, kotor, menjijikkan, guman guman kecil yang dia lontarkan dari mulutnya pelan. Tapi orang mendengar caci makinya ituu.


"ba baik tuan"


"Dan kau, jika kau masih berani menjajakkan kaki di perusahaan ku jangan harap kau pulang dengan anggota tubuh lengkap. kau mengerti!"


Tubuh Ritha bergetar. Bukan ini yang dia inginkan, bukan ini yang ada dalam imajinasinya. Seharusnya Sandi sekarang sangat butuh dirinya. Bukan ini yang di inginkan.

__ADS_1


"Sandi dengarkan aku dulu aku tidak .."


"kalian sedang apa? seret wanita ini kelu..."


Diam


Sandi diam seribu bahasa. Bukan karna dia kehabisan tenaga atau apapun. Karna sekarang bibirnya kelu setelah melihat kepala seseorang yang menyembul di balik punggung Arik. Seorang berkacamata dan rambut di ikat dengan asal jadi. Istri sang presedir, sudah melihat segalanya. mulai dari adegan ciuman dikursi hingga skenario marah marah tak karuan di mata Adrianty.


apa apaan ini, kenapa dia ada di situ?


Ruangan yang semula berisik karna Ritha yang memohon kepadanya sekarang sudah hening. dan tinggal 3 orang yang saling memasang rasa canggung.


"ehem, sudah sudah. ayo mulai bekerja! Sandi aku kesini mau mengantar laporan tentang produksi di Selandia baru, begitu banyak masalh dengan cabang mu yang disana. Memang apa sih kerja mereka semua?"


Kalimat singkat yang mampu mengusir rasa canggung di antara mereka. Sandi kembali menetralisir emosinya. dia dan mencoba tanang seakan akan tidak terjadi apa apa.


"ehem, oh, iya. Mana laporannya?"


sandi kembali duduk di sofa ruangan itu. di sama sekali tampak acuh pada Rianty.


Sembari menunggu Arik dan Sandi membahas tentang produksi di Selandia baru, Adrianty berdiri tak jauh dari menejer Arik. Dia hanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. entah apa yang dipikirkan Wanita itu.


Sekelebat bayangan yang muncul di benak Adrianty. Tentang kejadian yang tidak sengaja dia saksikan ketika tepat berada di depan pintu CEO. Adrianty tidak dapat menilai apakah itu salah, apa itu bukan masalah atau itu bukanlah hal yang harus dia permasalahkan.


kalau aku berada di posisi wanita itu entah apa yang akan aku lakukan, bukankah tuan Sandi tadi sempat berciuman dengan agresif dan membalas ciuman itu? aku melihatnya dengan jelas, memang apa gunanya aku menggunakan kacamata yang tebal ini? sangat jelas tuan Sandi membalas ciuman itu. tapi apa? di mendorong wanita itu dan berteriak! Dasar pedofil! Dia pikir apa yang dia lakukan tadi? kalau dia sudah mencium wanita itu bukankah artinya dia telah pacaran dan berkencan? pasti wanita cantik tadi di panggil olehnya, karna tidak puas dengan apa yang di lakukan oleh wanita itu makanya dia tak terima dan meneriakinya. memang, memang begitu seharusnya. Hah aku tak habis pikir. Memang yaa, kita kalau jadi orang jangan terlalu berekspektasi tinggi, kadang kalau tidak sesuai dengan ekspektasi mu kau akan kecewa


Adrianty asik sendiri dengan pikirannya tanpa peduli sekitar. sesekali mata Sandi melirik ke arah Adrianty yang tidak peduli dengan sekitarnya.


apa yang dipikirkannya? jangan jangan tentang tadi itu? dia tidak akan salah paham kan? heh, memang apa juga salahnya jika dia salah paham


Waktu terus berjalan, sepertinya pembahasan tentang masalah yang ada di Selandia baru ini sangat serius. Buktinya Sandi sering kali terdengar berdecak kesal, aksi mogok kerjalah, korupsi dana dan lain sebagainya.


menunggu itu pun Adrianty tetap setia untuk tidak menyela dan berusaha menyimak dengan baik. Tapi sesekali melirik kearah Sandi Dan kearah Arik. Satu hal yang Adrianty sadari setelah melihat diskusi ini. Sandi benar benar mengacuhkannya. Tanpa melirik dirinya sedikit pun.


aku nggak berharap juga sih, tapi bukankah ini namanya keterlaluan? bukankah dia bisa meminta pendapat ku sedikit sajakan? jangan bilang kalau dia menganggap ku bodoh dalam urusan ini juga? benar benar ya manusia satu ini.


Alhasil, Arik dan Sandi keluar dari ruangan CEO dan di akhiri dengan memberi hormat pada atasan.

__ADS_1


__ADS_2