First Wedding Trip

First Wedding Trip
pelayan


__ADS_3

"permisi..


maaf saya mengganggu, apakah ada tuan Sandi di dalam?"


Adrianty masuk keladam kamar itu dengan sopan.


ketika dia masuk, Atmosfer kamar itu sedang di selimuti hawa dingin. Semua orang menatap dirinya, kecuali satu.


suaminya sendiri.


Sandi tidak membalikkan badannya, dia tidak ingin melihatkan dirinya pada Adrianty. Menurutnya itu memalukan.


"dia...


siapa?"


ibu Sandi bertanya heran, siapa gadis ini. Dia bertemu Adrianty baru pertama kali.


"maaf


kamu siapa..."


"ah...


maaf... perkenalkan saya...."


sebelum perkataannya selesai, Sandi langsung menjawab pertanyaan ibunya dengan cepat.


" dia pembantu ku!" jawabnya ketus.


deg.....


Dada Adrianty serasa bergemuruh, dia serasa tercekik. 'dia pembatu'


kalimat yang sangat fatal bagi seorang yang statusnya sebagai istri, tapi Sandi mengucapkannya dengan lantang dan lancar.


Lagi lagi dia menyadarkan dirinya 'kau bukan siapa-siapa, kau bulan siapa-siapa' mantra yang harus dia ucapkan selalu untuk menenangkan perasaannya dan membatasi dirinya untuk tidak berharap lebih.


"tuan,.. kepala pelayan langsung memegang tangan Sandi.


Tapi itu langsung di tepis oleh Sandi. Dia tahu siapa orang yang sedang dia abaikan , dia tidak ingin melihat wajah Adrianty saat ini.


"oohh


pembantu..


bekerja di bagian apa kamu?"


tanya nya sinis.


"ahh"


Adrianty melirik punggung Sandi sekilas. Tapi sepertinya Sandi tidak merespon.


"saya bekerja di bagian pakaian nyonya"

__ADS_1


"hmm


kok pakain kamu bagus yaa..


kamu dapat apa dari nyuci pakaian?"


"saya di beri upah nyonya"


" upah?"


"iya"


"berupa apa? melayani di ranjang juga termasuk?"


tanya nya sinis.


Semua mata melihat ke arah ibu Sandi. Termasuk Sandi sendiri.


"hai.!!!.."


"saya pelayan di rumah tuan Sandi nyonya, tidak hanya mencuci pakaian saya juga melayani tuan Sandi dari pagi hingga malam. mulai dari kebutuhan internal sampai eksternal. Saya tidak perlu menjelaskan apa itu kan?" Jawab Adrianty tidak kalah lancar dan lantang.


semua orang tercengang, bahkan tuan Sorno pun terkejut dengan penuturan Adrianty.


dia mengklaim bahwa dia adalah seorang pelayan yang bekerja di rumah Sandi. Dengan begitu suaminya itu akan puaskan? tidak perlu ngeles, biar dia menginjak harga dirinya sendiri.


"ooohhh.


untuk apa kau kemari pelayan rendahan!" ibu Sandi menggertak Adrianty di depan semua orang.


"nyonya, sebaiknya anda jaga sikap anda! " kepala pelayan mencoba menghentikan Ibu Sandi yang masih berlagak itu.


"keluar dari sini! ini bukan tempat mu!kau lihat tuan besar terbaring disini!?


oooohhhh,


atau kau ingin menggoda yaa, lihat Pakaian mu itu, kalau kau seorang pelayan Mengapa berpakaian seperti itu! kau mencuri yaa, kau itu hanya....."


"DIAM!!" Sandi berhasil membungkam mulut ibunya. dia mencengkram pergelangan tangan ibunya yang hampir menarik rambut Adrianty.


"kau sudah selesai?" sinisnya pada ibunya.


"keluar! disini bukan tempat mu!" Sandi bicara begitu rendah dan Dingin.Dia berjalan meninggalkan ibunya dan menghampiri ayahnya yang sedang terbaring.


"selain aku, dan wanita itu, semuanya keluar!"


Tuan Sorno menatap Adrianty, dia tidak mampu bicara sekarang.


Anaknya sudah salah mengatakan bahwa Adrianty bukan siapa siapa.


"Sandi, ibu tidak terima. kenapa pelayan ini kau persilahkan masuk sedangkan aku kau usir?" dia berteriak memenuhi semua ruang.


"karna Saya orang istimewa nyonya, bulan seperti seseorang diusir anaknya sendiri" ucap Adrianty sinis. Sepertinya dia berniat untuk adu mekanik dengan mertuanya itu.


"apa kau bilang dasar wanita...."

__ADS_1


PLAK!!


ibu Sandi berhasil mendaratkan tangannya kepada wajah Adrianty.


semua mata membulat. Bahkan Tuan Sorno sampai terkejut. Dia berusaha untuk duduk tapi di hentikan oleh para dokter.


"hai kau wanita kurang ajar beraninya..." belum sempat tuan Sorno bicara Sandi berteriak keras memekakkan telinga.


"IBU!!"


Dia marah, ibunya itu sudah semena mena pada orangnya. Sandi ingin membalas tamparan itu.


"BERANINYA TANGAN MU ITU!!"


Tapi sebelum sampai Sandi membalas balik pukulan ibunya pada istrinya, Adrianty lebih dulu melawan.


"PALK!


PLAK


PLAK"


Skak,,,, mat,,,


tiga tamparan berhasil dia balaskan.


"mau lagi nyonya?" tanya nya sinis.


"ayo bicara lagi!" Adrianty sudah melayangkan tangannya di angin angin.


"ayo!"


tantangnya, tapi ibu Sandi sudah tidak bisa berkutik.


"ka-kau" dia memegangi pipinya yang memerah. Bekas tamparan itu tercetak jelas.


"wanita kurang ajar! dasar wanita ******!


"apa? mau lagi" Adrianty sudah maju mendekati ibu Sandi.


Tapi Sandi langsung menghadangnya, dia langsung memegang pundak Adrianty.


"turunkan tangan mu!"


"ayah melihat mu.." Sandi berbisik pelan di telinga Adrianty.


Dia berusaha menenangkan istrinya itu, dilihatnya mata Adrianty memerah, dia sadar, wanita itu tengah menahan tangisnya.


"kendalikan emosi mu"


ujarnya lagi.


Adrianty menatap Sandi, matanya memerah di balik kacamata itu.


Sandi memberi isyarat untuk tidak melawan. "jangan terlibat" bisiknya lagi.

__ADS_1


"Dari tadi aku sudah bicara tapi kenapa kalian tidak mendengar?"


Semua yang ada di ruang itu langsung berbisik bisik, semua orang tahu apa hubungan Adrianty dan Sandi. Tapi tahu status sebenarnya Adrianty, hubungan saling menguntungkan, itu yang di sadari semua orang.


__ADS_2