
Lambat laun, semua orang keluar dari kamar itu, mulai dari dokter, perawat, dan satpam yang sempat masuk untuk menghadang datangnya ibu kandung Sandi.
mereka semua memberikan udara pada anggota keluarga itu untuk bicara.
kini tinggallah tuan Sorno yang tengah terbaring, Sandi yang masih dalam posisi memegang bahu istrinya. Dan ibu Sandi yang tengah menatap Adrianty dengan geram.
"kau kenapa masih disini? tidak lihat semua orang keluar!" ibu Sandi berteriak kepada Adrianty.
"bukan saya yang keluar di sini, anda yang harus angkat kaki dari sini" Adrianty membalas teriakan itu dengan kalimat yang tenang.
"sudah ku bilang jangan melawan dia!" bisik Sandi lagi, dia menahan geram pada istrinya itu. kenapa Adrianty selalu tidak ingin mengalah.
Tuan besar Sorno yang dari tadi hanya berperan sebagai orang sakit dan pengamat sekarang mulai buka suara.
"ada apa kau kesini?" tanya Sorno dengan lemah.
"ingin mengunjungi Sandi tuan, anda tahukan, sudah lama kami tidak bertemu"
" tentu...aku tahu itu... mungkin sejak anak itu masih kecil" jawabnya sinis.
"ehem" ibu Sandi menjadi gugup tak menentu.
"kami masih bertemu satu tahun uang lalu"
"jangan bercanda, kau menemuinya hanya untuk minta uang" Tuan Sorno tahu itu. Wanita ini selalu menjadi lintah darat didekat Sandi setelah kepergian suaminya.
"sejak kau meninggalkannya, tidak ada hak bagimu atas dirinya"
"aku ibunya, hidup dan matinya aku berhak atas itu"
"haha, jangan berharap banyak, Sandi itu bukan orang kaya, harta itu milikku semuanya, Dia hanyalah pengelola.
"saya tidak pernah meminta harta" ibu Sandi menjadi gugup.
Jadi seluruh harta tuan Sorno masih belum dia atas namakan oleh Sandi? Sandi Hanya pengelola perusahaan?
__ADS_1
"jadi apa? minta organ? kau sakit sekarang?. haha" tuan Sorno masih tertawa dalam keadaan lemah. Dia masih terbaring di atas kasur dengan mata setengah terpejam.
"bukan juga tuan" geramnya. "sudahlah sepertinya hal yang ingin saya sampaikan tidak jadi tersampaikan hari ini kalau begitu....."
"apa yang ingin anda sampai kan?"tanya Sandi yang sudah berhasil memenangkan istrinya itu.
"pergilah, kerumah ibu"
"kemana?"
"masih dirumah lama sayang"
"ahh...
tempat suami mu yang sudah mati itu?"
"jaga bicaramu Sandi!!" ibu Sandi langsung marah mendengar itu.
"memang sudah matikan? kenapa? Anda mau menikah lagi? padahal orang itu baru mati satu tahun lalu"
"Sandi, ibu tidak ingin bicara..."
" bisakah kau berhenti menyebut dirimu ibu di depanku? aku muak..." Sandi berkata dengan wajah sendu tapi terkesan dingin.
"Sandi...
maafkan ibu, waktu itu ibu tidak punya pilihan nak. Aku pergi..."
"kau melakukan kejahatan yang paling fatal di dunia ini yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang tua"
Suasana hening...
Adrianty masih setia berdiri di belakang Sandi. Rasanya ini bukan arenanya untuk bermain drama.
"baiklah, aku juga merasa bersalah akan hal itu.. bisakah kau maafkan ibu nak?"
__ADS_1
"maaf? padahal kau baru muncul 2 tahun terakhir ini. Kenapa? itu karna perusahaan suami mu saat itu sudah berada di ujung tanduk"
"akuu... huftt" wanita itu menghela nafas keras. Sepertinya kedatangan dirinya kemari bukan mendapatkan keuntungan tapi hanya mendapatkan ini.
"baiklah, aku pergi" wanita itu mulai mengemasi pakainnya. Dan berjalan keluar dari kamar itu.
.......
kini tinggallah 3 orang di kamar itu.
"kau baik baik saja nak?"
tuan Sorno membuka mata dengan sempurna. Dia menatap Adrianty dengan senyuman.
" saya baik ayah" tapi terdengar dari Suaranya tampaknya tidak. Karna dia sangat lesu. Walaupun tidak sempat mengeluarkan tangisannya, Adrianty tetap merasa sakit hati.
"ayah kau baik baik saja?" Sandi mulai membuka pembicaraan dengan isu pengalihan topik awal.
"aku baik..aku sudah lumayan membaik kata dokter"
"syukurlah" ucap Sandi dan Adrianty bersamaan.
Tapi..
Adrianty Langsung menatap sini Sandi seakan mengatakan 'jangan meniru ku'.
"kabar kalian bagaimana?"
"kami baik" lagi lagi kalimat itu mereka ucapkan serempak.
Sekarang Sandi lah yang menatap Sandi tidak suka.
.
.
__ADS_1
.