
Tuan Sorno, Adrianty dan Sandi, saling diam. setelah adanya perperangan batin antara dua insan itu, tuan Sorno angkat suara menjadi seorang penengah.
Dia bisa melihat kilatan kekesalan antara dua orang itu.
"Sudah, Longgarkan sorot mata kalian itu. hahaha" bukannya marah tapi justru pria itu tertawa.
bagaimana tidak, anak dan menantunya itu kayak anak kecil.
"Huh"
Sandi mendesah kesal.
"Ayah benar baik baik saja? minum obat rutin kan? jangan tinggalkan makan dan istirahat yang cukup. ayah masih terapi kan?" Tanya Adrianty khawatir.
"Jangan khawatir, aku melakukan semua hal yang kau minta itu" ucapnya lembut.
"Ayah. Maafkan aku membawa anakmu yang tidak tahu diri itu. Karna dia tidak akan pergi kalau tidak di paksa" Adrianty berbisik ke telinga Tuan Sorno sambil terkikik.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Bukan apa apa" jawab Adrianty ketus tanpa melihat Sandi.
Hah..
Sandi melirik Adrianty. Tampak dimatanya bagaimana cara Adrianty berkomunikasi dengan ayahnya. Perbincangan hangat terlihat dari kedua orang tersebut. Sesekali tuan Sorno akan tertawa jika perkataan Adrianty adalah sebuah candaan.
Dia tersenyum, memang inikan yang dia inginkan dulu. Seseorang yang bisa membuat tawa sang ayah pecah. Dia hanya ingin kebahagiaan orang terdekatnya.
.
Drreet
Drreet
Drrert
Getaran hp Sandi terdengar cukup keras.
Awalnya dia mengabaikan telpon itu. Tapi hp itu semakin lama semakin gencar berbunyi minta di angkat.
__ADS_1
"Hah..." Dia mendesah kesal. Terlihat disitu tertera nama sekretaris Ken. Mungkin ada hal yang mendesak, tidak mungkin Ken mengubungi dirinya di akhir pekan.
"Angkatlah...." ucap Adrianty lembut.
"Aku keluar dulu" Sandi keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan dua orang itu.
......
Setelah kepergian Sandi beberapa menit yang lalu. Tuan Sorno kembali membuka suara.
"Bagaimana kabar pernikahan kalian? Baik?"
"Hm?" Jawab Adrianty bingung.
"Pernikahan kami baik ayah " Adrianty gugup. Apa maksud perkataan itu.
"Aku tahu..." Ujar tuan Sorno sambil menatap Adrianty.
"Aku tahu bagaimana pernikahan kalian"
"A ayah, maksud ayah apa..."
Adrianty terdiam. Ucapan ayah mertuanya benar. Dia tidak dapat menyanggah maupun berbohong dengan baik tentang hal ini.
Tuan Sorno mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.
"Anak ku itu memang begitu.. dia keras kepala dan sangat melindungi dirinya. Itu sebabnya dia seperti itu. banyak hal yang telah dia lalui di masa lalu......
Kau mau tahu cerita tentang dirinya?" tanya tuan Sorno.
"Hah? Cerita siapa ayah?" Jawab Adrianty bingung.
"Cerita Sandi, sewaktu dia bertemu dengan ku hingga sekarang"
Glek
Cerita tentang lelaki itu, tentu dia ingin tahu. Jika ada aibnya, itu adalah jecpot untuk Adrianty menertawakan Sandi.
"Sandi bukan anak kandung ku, dia adalah anak adopsi ku. Anakku yang sebenarnya tidak tinggal disini. Anak kandung ku sudah berkeluarga dan sekarang di luar negeri."
__ADS_1
Hah, tuan Sandi seorang anak adopsi. Fakta yang mengejutkan.
"Aku menemukan dirinya Waktu dia berusia sekitar.....
Mungkin antara 7 sampai 8 tahunan, aku tidak begitu ingat.
Aku bertemu dengannya tepat di sebuah gang sempit, di tengah hujan lebat.
Kala itu ada proyek perusahaan yang sedang di jalankan di daerah itu.
Aku datang bersama sekretaris ku, karna dalam perjalanan cuaca sangat buruk
Kami berhenti di sebuah perumahan kumuh, berteduh di sana sambil menunggu cuaca membaik"
Tuan Sorno bercerita dengan tenang dan lemah, sesekali dia membuka mata, sesekali dia menutup mata. Adrianty tidak ingin menyela perkataan Sorno. Dia ingin mendengar cerita dari mulut Sorno siapa diri suaminya itu.
Sorno melanjutkan ceritanya.
"Hari itu lah kami pertama kali bertemu. Di sebuah gang sempit terdengar teriakan-teriakan seorang bocah yang memanggil ibunya
Anak itu terlihat sangat menyedihkan. Dari pakainya, Sura seraknya. Dia duduk di tengah gang itu sambil duduk melipat kedua lututnya dan meringkuk menangis memanggil ibunya"
Hah, baru sepenggal cerita itu sudah membuat Adrianty jadi kasihan pada suaminya itu.
"Aku menghampirinya dan berusaha bicara dengannya. Aku mengajaknya untuk pergi bersama ku. Karna aku berencana menitipkan dirinya di panti asuhan yang aku bangun. Tapi dia tidak mau. Dia tetap kukuh pendirian menunggu ibunya.
Aku berusaha membujuknya, dia sangat keras kepala sampai akhirnya dia pingsan.
Saat itu kami terkejut dan langsung membawanya kerumah sakit terdekat.
Tapi ternyata, saat pemeriksaan...
Tubuh anak itu tidak seperti anak lainnya, luka lembam yang di toreh terus menerus. Bahkan cakaran pun ada di tubuhnya itu"
Tak terasa, kenangan lama itu akhirnya terbuka kembali. Sorno berhasil menguak ingatan lama yang tidak ingin Sandi tau. suaranya mulai bergetar. dia meneteskan air matanya dalam keadaan terbaring itu. Adrianty tidak ingin menghapus air mata itu, biarlah dia mengalir, keluar kan lah semua emosi yang sempat terpendam itu.
...
.
__ADS_1
.