
Adrianty sudah berada di rumah sekarang. Dia sampai di depan halaman yang cukup besar, Adrianty yang menggunakan taksi untuk sampai kesini hanya bisa mengantar Adrianty hingga pintu gerbang.
Karna untuk keamanan rumah satpam ditugaskan untuk menghalangi sembarangan orang untuk masuk kedalam.
Ceklek
Adrianty membuka pintu yang sangat besar itu.
Ruangan gelap gulita, tidak seperti tadi malam, ada orang yang menyambut Adrianty seperti seorang kepala pelayan Portan yang siap melayaninya.
"Kau sudah pulang?"
"Akhhh!!!!
Siapa disitu?" Adrianty berteriak kaget.
Terdengar suara seseorang yang membuat Adrianty kaget dalam kegelapan.
Dia mencoba meraba raba Diding rumah mencari stop kontak untuk menyalakan lampu. Tapi nihil, tidak ada stop kontak di sana.
Ting
Lampu hidup seketika di saat dia sedang panik.
matanya mengedarkan pandangan di seluruh ruangan.
Terlihat seorang yang sedang memandangnya dengan tatapan membunuh.
"Tu tuan!"
"Jam segini kau baru pulang" sang pemerintah dalam mode aktif.
"Hehe tuan anda belum tidur yaa" Adrianty memegang kepala belakangnya panik. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.
"Dari mana saja kau! Kau pikir kau bisa pergi pulang seenak jidatmu saja setelah kau menjadi istri ku?" Sandi berjalan mendekat, itu seperti sebuah ancaman bagi Adrianty.
"Sudah tengah malam begini apa yang kau lakukan?"
Padahal dia sendiri tahu apa yang terjadi pada istri nya itu.
Kanapa sih, kok malah marah. Bukannya dia nggak peduli dengan ku ya
"Ikut aku! Kau harus di hukum!!"
Sandi menarik tangan Adrianty kasar.
Adrianty terpelanjak.
"Tu-tuan tunggu saya bi bisa jelaskan"
Kenapa kau langsung main tarik aja
"Jelaskan? Apa yang kau jelaskan? Menjelaskan betapa menyenangkannya keluar rumah tanpa izin suami mu?" Terus berjalan mendekat ketangga.
suami apanya, sudah gila ya.
"Tuan lepaskan saya dulu, saya akan jelaskan" berusaha memberontak.
Tapi dia tidak mendapatkan respon sedikitpun dari Sandi, Adrianty langsung duduk berjongkok sehingga berat badannya bertumpu pada kaki.
Sandi menghentikan langkahnya karna beban terasa bertambah.
"Apa yang kau lakukan!"
"Lepaskan saya tuan!" Memohon dengan nada yang mengiba.
Sandi tidak mengacuhkan teriakan Adrianty dan kembali menarik Adrianty bak menarik barang dengan troli.
"Tuan..."
Dengan wajah melemas.
__ADS_1
Kenapa nggak dengar sih, aku udah jongkok gini masih aja dia tarik tarik. Nggak kasihan apa
Sedangkan seseorang sedang tersenyum karna mendapati istrinya yang cukup lucu itu.
apa apaan, dia duduk begitu agar apa coba
Tibalah mereka di depan tangga, dengan posisi yang masih sama .Adrianty tidak mau berdiri. Tangannya masih di genggam oleh Sandi.
"Berdiri!"
"Tidak mau tuan"
"Kubilang berdiri!"
"Tapi tuan"
Kok maksa sih, dia tidak tahu kalau aku takut?
"Akkhhh" Adrianty berteriak kesakitan karna tangannya di tarik dipaksa untuk berdiri.
"Tuan!!!"
"Kubilang menurut kau tidak mendengar!" Sandi langsung memikul Adrianty dipundaknya dan membawanya ke lantai dua.
"Tuan lepas" berusaha memberontak menegakkan keadilan.
"Belum diam juga kau kulempar dari lantai dua ini!"
Gertak Sandi yang mampu membuat bisu Adrianty.
Patuh menurut tanpa melawan, menunggu ajalnya menjemput. Entah apa yang akan terjadi di lantai atas sana jika dia terus terusan memberontak.
Ya Tuhan, selamat aku
Sampailah mereka di sebuah pintu besar.
Ceklek
Ganggang pintu itu berbunyi seiring dengan terbuknya pintu itu. Terlihat ruangan yang gelap tanpa adanya segemerlap cahaya.
Ting
Lampu hidup ketika kaki sandi menginjak alas kaki di bawah.
Ini ruangan apa sih? Semuanya terbalik pandangan ku terbalik semua, sofa, terbalik, lemari terbalik, mengapa semua ini terbalik sih
ya iyalah, dia aja di gendong bak karung beras itu.
Sandi dengan kasar mendudukkan Adrianty di atas ranjang.
"Aaaakkhh. Tuann!!!" Dia berteriak hingga memecahkan gendang telinga Sandi.
"Apaan sih, mau ku copot pita suaramu?" Tatapan mematikan karna kesal.
"Ha habisnya anda tiba tiba menghempaskan saya. Saya hampir muntah lho tuan!" Mengetuk jari telunjuk, merasa kesal karna perbuatan sandi dan lebih memilih mengalihkan wajahnya dari Sandi.
"Bibir monyong mu itu mau ku gigit?"
Sandi menyeringai.
""Tidak!!" Adrianty reflex menutup mulutnya takut hal yang tidak dia inginkan terjadi.
"Haha"
Dia tertawa? Gila yaa
Sandi berjalan kebelakang kamarnya seperti ke suatu ruangan yang hanya bisa di kunjungi oleh dirinya sendiri.
Dia kemana? Apa dia ambil gergaji? Pisau, atau semacamnya, ayolah jangan bilang ini terakhir kalinya aku hidup di dunia ini. Baiklah tarik nafas. Buang huffftt. Kau baik baik saja Adrianty, pasti!
Pikiran yang melayang entah dari mana dia berfantasi, Adrianty membayangkan Sandi membawanya ke kamar untuk mengeksekusi dirinya. karna kata hukuman masih menempel di kepalanya.
__ADS_1
Tang
Suara benda terjatuh memecah kebisuan Adrianty.
"Aaakkhh" dia kembali berteriak.
"Hai kau kenapa"
Sandi keluar dengan panik dari ruangan itu.
"I i itu tadi apa tuan, a a apa jangan jangan..."
"Emangnya ada apa, bodoh" sandi menuding keras kepala Adrianty sehingga dia terjebam ke belakang.
Dan ternyata itu hanya barang yang jatuh karna Sandi mengambil sesuatu yang dia perlukan.
Kenapa main tangan aja?
"Duduk!!"
"I iya" dengan sigap Adrianty duduk bersimpuh di atas ranjang tersebut.
"Unjurkan kakimu!"
"Tuan sepertinya tidak baik bagi saya"
"Melawan!" Tatapan sinis.
Glek
Tatapan tajamnya bertatapan dengan mataku.
Ada kotak yang sandi bawa ketika dia keluar dari ruangan tadi.
Itu kotak apa? P3k?
"Berikan tanganmu!" kata Sandi sambil meneliti bagian yang mungkin terluka.
"Ba baik!"
"Kau dari mana? Kenapa berdarah? kau habis di pukul siapa?"
Dia mengobatiku? Dia khawatir?
Adrianty memandang Sandi penuh tanda tanya.
"haha saya dari rumah teman saya lalu......... hehehe" Adrianty gugup setengah mati. Dia tidak bisa berbohong tanpa adanya persiapan.
"Ahh... Rumah teman.." seringai licik muncul di wajah mulus dan sandi.
"Kenapa gugup, kau kan dari rumah teman mu. Hmm"
Kenapa dia mencium ujung rambut ku? Menyeramkan. Apa dia pecaya perkataan ku sepenuhnya?
"I iya" kan benar kalau aku dari rumahnya Nizikan?
Sandi dengan sigap mengobati Adrianty dengan sangat hati-hati. Ketika Adrianty meringis ketika lukanya di obati sandi menghembusnya pelan. Agar tidak terasa perih.
Dia terlihat teliti, bahkan luka yang sangat kecil pun tidak terlewatkan.
"Sudah!"
Sandi mengemasi kotak p3k itu setelah selesai mengobati tangan dan bagian tubuh istrinya.
"Te-terima kasih tuan. Ka kalau begitu saya turun dulu kekamar"
Adrianty langsung berdiri, beranjak dari ranjang karna tidak ingin berlama lama berdua dengan Sandi. ketika melangkah menuju pintu keluar...
"Kemana kau?"
"Sa saya turun ke kamar tuan"
__ADS_1
"Ke kamar? Kamar mana? Disini kamar mu mulai sekarang!"
"Apa!!"