
"hai, kau yang berdiri di sana bisakah kau bantu kami? untuk Pergi beli makanan di luar sana?"
Salah seorang senior wanita sedang berkacak pinggang di depan Adrianty. rambutnya panjang dan dia terlihat mengenakan pakaian kantor seperti yang lainnya. Hanya saja yang ini pakainnya lebih sopan dari pada yang tadi.
"Saya senior?" Tanya Adrianty.
"Siapa lagi yang saya suruh?"
"Saya tidak tahu dimana letak..."
"alasan terusss" bentak sang senior.
"ba baiklah senior, berikan saya daftar belanjaan ya. Dimana saya harus membelinya?" ucap Adrianty pasrah.
dia meletakkan box yang berisi HVS di atas meja. Entah meja siap itu.
"Kafe sebelah, cuma satu kilo jalan kaki nggak usah banyak omong"
Kata senior itu sambil memberikan daftar makanan yang akan mereka beli.
"Se sebanyak ini senior!!" ucap Adrianty Terkejut. Satu daftar not yang penuh dengan pesanan para seniornya.
ini mah namanya pembulian.
"Apa! Mau ngomen?"
Dia menyeringai
"Tidak, saya akan pergi" kata Adrianty.
"Aku ikut" Reno menyela.
"Kau tinggal di sini! Susun document yang berantakan itu!" Senior membentak.
"Tapi Adrianty akan ...."
Kata katanya terputus.
"Sudahlah kau lakukan saja apa yang senior katakan, aku akan pergi sendiri. Semangat yaaa" Bisuk Adrianty kepada Reno agar masalah tidak makin runyam.
"kalau begitu saya permisi" Adrianty pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Heh, bisa bisanya dia mengambil perhatian menejer Arik, rasakan itu dasar wanita licik!" Senior itu berjalan meninggalkan Reno sendirian.
Reno mengepalakan tangannya karna kesal. Jika senior itu tahu siapa Reno yang sebenarnya, apa yang akan mereka lakukan?
...----------------...
Hari sudah menjelang malam, para pekerja kantoran dan para pencari rezeki lainnya untuk kembali kerumahnya masing masing ketika sudah selesai dengan urusannya.
Akan tetapi masih ada beberapa orang yang lembur Bekerja karna pekerjaannya masih belum kelar. Ada juga yang baru keluar tengah mencari nafkah untuk keluarganya.
__ADS_1
Sudah pukul 17:30, sudah saatnya para karyawan Y.A grop termasuk anak magang untuk pulang kerumah mereka masing masing. Mencari kerinduan di tempat tidur masing masing.
"Riant kamu pulang sama siapa?" ucap Meilani yang sama sama keluar dengan Reno dan Adrianty.
"Aku kayaknya nggak pulang dulu"
"Kenapa?" Tanya Reno.
"Hehe aku mau mampir dulu ke suatu tempat, kalian pulang lah dulu"
"Kamu yakin" tanya Reno khawatir.
"Iya aku yakin, aku gak papa kok sendirian, kalian berdua pulanglah dulu, udah mau malam"
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa Riaant!!!" Meilani menjauh meninggalkan Adrianty. Reno pun menyusul Meilani yang sudah naik taksi.
"Hati hati pulangnya" sorak Reno kepada Adrianty.
"Iya kalian juga hati hati dadah!!!" Adrianty melambaikan tangannya berteriak hingga terdengar sampai seberang jalan.
Dua orang itu sudah pergi. Sekarang saatnya Adrianty pergi ke tempat yang dia tuju. Yaitu adalah kafenya yang baru di buka setengah tahun yang lalu. yang berada 500 meter dari gedung Y.A grop, bisa di katakan hanya bersebelahan.
Awalnya Adrianty sangat terkejut. Ternyata para seniornya itu adalah langganan setia kafe miliknya.
Kak Dinda salah satu karyawanya mengatakan bahwa minuman favorit mereka adalah coffe late, dan disertai makanan penutup.
Itu membuat Adrianty bangga sendiri, karna usahanya sudah menyebar luas bahkan sampai di Y.A grop. Dia bisa bernafas lega, bahwa kafe yang di bangunnya dengan kerja keras membuahkan hasil.
Tapi tiba tiba.........
Tit tit tit
Sebuah klasonan mobil berbunyi tepat di belakang Adrianty. Adrianty yang terkejut langsung membalikkan tubuhnya dan menatap pemilik mobil di balik kaca mobil.
Sekretaris Ken?
Benar, itu adalah sekretaris Ken yang menjemput Adrianty.
"Nona silahkan masuk" sekretaris Ken membuka pintu mobil dan memegang handle pintu.
" Sekretaris Ken, kenapa kau di sini?" Gusar.
" Tidak usah banyak tanya nona, silahkan masuk"
"Tapi aku.." katanya terputus .
"Ini perintah tuan muda nona!" Dia menekankan kalimat perintah tuan muda.
Kalau sudah ada kata itu mau bagaimana lagi. Itu adalah hal mutlak yang harus dia patuhi.
"Baiklah aku masuk"
__ADS_1
Tak
Bunyi pintu mobil yang tertutup.
hah, kan nggak jadi singgah ke kafe donk.
Ken menyalakan mobilnya dan meluncur membelah jalanan. Hari sudah mulai gelap. Banyak orang yang berbondong bondong untuk pulang kerumah mereka, sehingga perjalanan sedikit macet.
"Sekretaris Ken kita mau kemana?"
"Bertemu dengan tuan besar?"
"Tuan besar? tuan besar siapa?" tanya Adrianty bingung.
"tentu saja tuan besar Sorno nona"
"tuan besar Sorno? berarti ayah tuan Sandi? mertuaku?"
"Ya nona" jawab sekretaris itu singkat.
"Apa! Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku bahkan belum sempat beres beres"
Adrianty mengendus-endus ketiaknya.
"Bahkan aku masih bau keringatan. Berhenti di mall dulu aku ingin membelikan sesuatu untuk paman!"
"Tidak bisa nona, tuan muda sudah menunggu di sana "
"Tuan Sandi juga ada di sana? Kenapa tidak bilang dari tadi sih ?!!" Adrianty memukul mukul kursi bagian belakang sekretaris Ken karna kesal.
"Aku bahkan belum berdandan!"
"Anda ingin tampil cantik di depan tuan muda nona?"
Alis Adrianty naik sebelah, tangannya dia lipat didepan dada
"Hng? Aku? Kenapa aku harus tampil cantik untuknya, aku harus tampil cantik di depan mertuaku pastinya.
Memastikan bahwa aku ini tidak serendah yang mereka fikirkan"
Perkataan Adrianty membuat Ken mendesah kesal. Kenapa dirinya tidak pernah betul di hadapan nonanya ini.
"Anda yang paling benar nona"
Ken yang mulai kesal dengan Adrianty.
Setengah jam kemudian sampailah mereka di halaman rumah milik tuan besar Sorno.
Rumah ini tampak sederhana. Arsitekturnya terlihat sangat tradisional.
Terbuat dari bahan bahan kayu tapi sepertinya sangat kuat. Halamannya sangat luas.
__ADS_1
Wahh ini tidak kalah indahnya. Kenapa orang kaya senang menghamburkan uang mereka? Emangnya mereka tidak memberi sumbangan gitu? Rumah besar seperti ini jangan jangan hanya 2 orang yang mengisi.