
Sudah tamatlah diri ku, ibu, jika kau mendengarkan ku buatlah sekretaris itu tersungkur di lantai, dan dia hilang ingatan tentang kejadian di mobil kumohon.
Adrianty menyatukan kedua tangannya membuat suatu permohonan. Sedangkan pak supir di depan hanya merasa heran apa yang di lakukan oleh Adrianty dibelakang mobil.
Mobil itu sekarang sudah berhenti tepat di sebuah kafe.
"Disini aja pak, terima kasih sudah mengantar saya" Adrianty keluar dari mobil sambil tersenyum berterima kasih kepda supir itu.
Supir itu terkejut, itu Pertaman kalinya ada wanita yang keluar dari rumah utama yang tersenyum kepadanya. Biasanya setiap wanita yang keluar dari situ selalu membangkang dan sombong. Bahkan selalu merendahkan para pelayan dan para pengawal.
Sekarang Adrianty sudah berada dalam kafe miliknya. Yaitu cabang kafenya yang satunya lagi yang berada cukup jauh.
Adrianty menghempaskan tubuhnya di atas sofa belakang tempat istirahat karyawan.
Dia masih termangu dengan apa yang terjadi.
Jika sampai tuan Sandi itu tahu apa yang dia katakan pada sekretarisnya itu, habis sudahlah dia, mungkin tidak hanya dia yang hancur lebur tapi juga masa depannya dan karyawannya.
Haiss mati lah aku
Pak pak pak
Adrianty memukul mukul mulutnya sendiri.
Mulut ini rem nya tidak ada ya, sembarang aja nyebut orang kakek tua bangka, dan juga apa itu tadi. Dia sangat sombong dan tidak tahu malu, apa dia tidak tahu aku menunggunya berapa lama hah! hampir dua jam tapi yang dia katakan cuma sepuluh menit lamanya, dia itu minta di cekik ya. geram geram Adrianty melayangkan tinjunya ke udara. Mungkin dia melihat wajah tuan Sandi di situ.
Sekarang adalah akhir pekan, semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing masing. Ada yang menikmati akhir pekanya dengan berlibur ada juga yang bekerja. Adrianty menghabiskan setiap akhir pekannya di cafe sangat jarang dia pergi dengan teman temannya.
Jika diajak pun dia akan menolak, karna apa, karna teman temanya punya pasangan masing masing sedangkan dia masih jomblo dan tidak lama ini sudah putus hubungan dengan mantannya yang keren baru baru ini.
Setiap akhir pekan biasannya Adrianty memeriksa stok barang yang masuk ke tokonya. Banyak jenis makanan dan buah buahan serta bubuk minuman untuk para pelanggan.
Biasanya cafe Adrianty sangat ramai setiap akhir pekan. Itulah salah satu alasan dia tidak ingin berlibur. Dia memikirkan nasib karyawannya yang kesusahan karna banyak pelanggan. Apa lagi jika bertemu dengan pelanggan yang rewelnya mintak ampun.
__ADS_1
usai dari ruangan ganti baju, Adrianty langsung mengenakan celemeknya untuk bekerja, dan melayani para pelanggan.
"Kak satu cangkir cappucino dinginnya kak" kata salah seorang pelanggan.
"Siap nona, ada tambahannya lagi?" Balas Adrianty.
"Hmm... Kalau begitu satu cake strawberry ya KK saya tunggu di meja sana, terima kasih. Sambil mengakhiri dengan senyuman.
"Baik kak,"
Tit tit tit
Bunyi mesin penghitung.
"Totalnya dua puluh lima ribu aja kak"
Pelanggan itu menyodorkan card creditnya kepada Adrianty dan dia menerimanya dengan sopan.
"Terima kasih KK, selamat menikmati" sambil memberi senyuman hangat kepada pelanggan nya.
Lambat laun waktu bergulir dengan sendirinya. Tak lama kemudian tampak matahari di ufuk senja yang menyingsing.
Sekarang sudah waktunya Adrianty pulang kerumah dan sisanya dia serahkan pada Teja. Teja adalah karyawan Adrianty yang pertama sejak berdirinya kafe ini. Jadi Adrianty sudah mengetahui siapa itu Teja, jadi dia tidak perlu khawatir dengan kafenya lagi.
"Teja aku pulang dulu ya, jaga cafe kalau ada masalah hubungi aku ya" Adrianty sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa. Pakaian kerjanya sudah dia masukkan ke dalam mesin cuci.
"Iya kak Riant, kakak tenang aja, kan ada Nizi, Abri sama Roni kak. Kakak tenang aja semuanya beras" sambil mengacungkan jempolnya.
"Iya kamu jangan pulangnya kelamaan ya. Nanti pas di campus kamunya kelelahan. Kalau nggak sempat pulang tidur aja di cafe malam ini"
"Iya kak iya, cerewetnya nggak ilang ilang"
"Hehe, biasa, bos teladan ama karyawannya, kakak pulang dulu ya Tej, Nizi, Abri, Roni. Jangan lupa pulang cepat jangan kemalaman entar tidurnya kebo pula"
__ADS_1
"Iya kak iya" serempak mereka mengiyakan perkataan bosnya.
"Udah kak pulang aja, entar tugas kampusnya kapan siapnya. hus hus" Nizi dan Abri mengusir bosnya sendiri dari kafe.
"Kalian benar benar" Adrianty menggelengkan kepalanya akan tetapi dia tetap tersenyum.
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup memakan waktu lima belas menit itu akhirnya sampai. Dan Adrianty Kembali ke rumah, dia memilih menggunakan ojek ONLINE kerumahnya daripada bus, walau pun biayanya mahal.
Jika naik bus takutnya Adrianty ketiduran karna lelah bekerja, dan akhirnya tidak jadi karena berhenti di pemberhentian dekat rumahnya. Karna sudah ada kejadian, dan akibatnya Adrianty menunggu bis lagi, dan akhirnya dia telat pulang dan berarkhir kena marah dan maki cacian menghujani dirinya.
Sekarang tibalah Adrianty di rumah yang besar itu. Lampu lampu masih hidup seperti biasanya tak ada hal yang istimewa terjadi selain ada banyak orang yang berkumpul di ruang tamu.
Siapa yang dia tunggu, tentu saja Adrianty, mereka menunggu sang calon nyonya muda Sorno yang telah mereka jual dengan imbalan mendapat suntikan dana untuk perusahaan.
Hah, memang kehidupan ini tidak ada hal manis pernah menyampirinya. Menyedihkan sekali.
Adrianty yang awalnya bingung ingin melakukan apa, akan tetapi sepertinya tidak perlu,karna yang mereka khawatir kan bukanlah dirinya.
"Kenapa ayah belum tidur? "
"Ya gak pa pa ayah nungguin kamu pulang Rianty" sambil tersenyum.
Tapi sepertinya Adrianty menjadi jijik melihat ayahnya sendiri. Tingkah yang hanya mempedulikan uang uang dan uang.
"Ada apa ayah?"
"Kenapa kamu bertanya, katakan pada ayahmu ini. Bagaimana dengan tuan Sorno, apa dia berkata akan berinvestasi di perusahaan kita? Kapan dia akan mengirim utusannya, kau tahu kita sekarang hampir sekarat karna hutang. Katakan pada ayah, berapa dia akan berinvestasi?"
Pertanyaan yang hanya mementingkan uang ini, sangat menjijikkan. Tidakkah dia punya harga diri, setidaknya jagalah harga dirinya di depan anaknya, fikir Adrianty yang mulai jenuh dengan pertanyaan yang tidak mungkin dia tahu jawabannya.
"Ayah, jika kau sangat peduli dengan hal itu kenapa tidak kakak pertama saja yang kau nikahkan, dia sangat pandai menggoda, sudah berapa banyak pria kaya yang menjadi pacarnya, kenapa harus aku, toh tuan Sorno juga tidak kalah kayanya, atau kakak cuma mau yang perkasa aja ya, yang udah tua mah udah nggak efektif lagi iyakan"
Suatu perkataan tentu saja ada batasnya kan, akan tetapi sepertinya tidak ada pada Adrianty saat ini. Dia sangat memberanikan diri dan mencoba menjatuhkan harga diri keluarga tirinya itu.
__ADS_1
Tidak peduli apapun ituu. Hal yang terpenting adalah, dia harus melawan dengan keras hari ini.