First Wedding Trip

First Wedding Trip
kesal


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan yang cukup menyita waktu, akhirnya Adrianty sudah sampai di cafenya. Sebenarnya dia berniat untuk pergi pulang kerumah suaminya.


Tapi dia urungkan, kalo nanti dia pulang cepat dia mau ngapain dirumah? dirinya hanya sendirian , dia masih belum akrab dengan orang orang yang ada di rumah Sandi.


"Halo semuanya" Sapa Adrianty ramah pada semua orang. Adrianty masuk dalam kafenya dan langsung menuju loker belakang untuk berganti pakaian dan meletakkan barang- barang yang dia bawa.


"Tumben kak Riant telat?" Ucap Reza. Yang langsung menghampiri Adrianty usai melayani salah satu pelanggan


"Ahh, aku tadi ada sedikit urusan penting" ucapnya sambil tersenyum.


"o iya Rez, Nizi... dia udah baikan belum?"


Pasca kejadian di klub malam itu, Nizi mengajukan surat cutinya pada Adrianty via pesan. Dia sepertinya sangat trauma setelah kejadian itu. Nizi di usulkan oleh Adrianty untuk di bawa ke psikiater saja jika memang dia masih belum sembuh.


Tapi dia menolak, dia tidak nyaman menceritakan hal ini pada orang lain selain orang terdekatnya.


"hmm... waktu itu aku sempat telpon dia, ya.. sekitar dua hari yang lalu lah kak. Dia bilang dia udah mendingan, tapi untuk keluar rumah nyalinya masih belum oke"


"ohh begitu, syukurlah... aku juga tidak sempat menghubunginya karna aku masih baru magang"


"nanti kalo ada waktu kita kunjungi sama sama rumah Nizi kak" usul Reza.

__ADS_1


"ya sudah kalau begitu"


Dimulailah aktivitas akhir pekannya hari ini. Melayani para pembeli dengan senyuman hangat dan sapaan ramah agar orang yang berbelanja merasa nyaman atas pelayanan yang di sediakan.


Fasilitas free WiFi dan dimana letak colokan PC sudah tersedia di kafe ini. Hal itulah salah satu kelebihan kafe ini terlepas dari desain kafe yang estetik dan makanan yang sesuai selera penyantap.


Hah,


Adrianty menghela nafasnya, memang cukup lelah Melayani para pelanggan, tapi itu tidak akan melunturkan semangat dirinya untuk bekerja lebih keras lagi.


Kafe ini adalah harapan satur satunya bagi Adrianty jika suatu saat nanti dia di tendang oleh Sandi bahkan sebelum kesepakatan mereka selesai.


Memang sih dia sangat kecewa pada ayahnya yang bejat itu, tapi apa lah daya jika dia minta pembalikan nama saham ibunya menjadi hak paten miliknya itu sangat sulit dia lakukan sendiri. Dia butuh kekuatan yang lebih kuat untuk menekan ayahnya.


Akhir pekan ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya, dia merasa seperti punya kewajiban baru setelah dirinya menikah dengan Sandi. Menurut Adrianty, mengunjungi ayah mertuanya adalah hal yang wajib dia lakukan.


Terlepas dari apakah Sandi setuju atau tidak atas tindakannya itu, pasti dia akan melakukannya.


Hah, aku emangnya berharap apa?


Kejadian di rumah besar tuan Sorno sudah cukup menjadi gambaran bagi Adrianty bagaimana cara hidupnya kedepannya. Mengahadapi ibu mertua yang rewel, melayani suami yang kasar, dan berusaha menghibur dan menguatkan ayah mertua yang terbaring sakit di kamar tidur.

__ADS_1


Sepertinya tidak ada yang normal dalam keluarga itu, dia mengerti jika yah mertuanya sakit, menghibur memanglah tindakan yang harus dilakukan.


Tapi masalahnya disini, kenapa suaminya itu tampak sangat kurang jar pada dirinya.


apa keputusan ku untuk menikah dengan dirinya adalah benar ya?


Sikap Sandi tadi pagi sudah cukup membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak berharga bagi Sandi.


apa dia bilang? aku bukan siapa siapa? lalu selama ini dia anggap aku apa sih? dasar pria yang tidak bisa menghormati wanita, dia pikir hanya dia pria kaya di dunia ini.


Saking kesalnya Adrianty sampai membanting gelas yang ada didepannya.


prang, gelas plastik itu terjatuh dan mengeluarkan suara buang cukup nyaring di telinga.


haduh, ini jatuh lagi, emang nggak ada yang berjalan dengan baik hari ini.


ini gelas terlemparnya kau banget lagi.


Akhirnya segenap kesabarannya, Adrianty mengambil gelas itu dengan kesal sambil menggerutu tidak jelas.


"kak, kakak kenapa sih?"

__ADS_1


__ADS_2