First Wedding Trip

First Wedding Trip
keperawanan


__ADS_3

"Apa yang kau bicarakan?"


Aduhh, Sialan


Hampir keceplosan. Adrianty terdiam. dia hanya menatap Sandi dan berusaha basa basi pagi hari.


"Hehe, tidak ada tuan...


anda sudah bangun tuan?


Selamat pagi tuan" senyuman sejuta Watt yang di pasang untuk menutupi kesalahan.


"Apa yang kau pikirkan dengan kepala kecil mu itu? "


Sandi menuding kepala Adrianty dengan cukup keras, hingga Adrianty terhuyung ke belakang.


"Tidak ada"


"Anda sudah sarapan tuan? Kalau sudah ayo kita pergi"


"Kau lihat aku baru saja turun jadi kapan aku sarapan? "


Tanya Sandi kesal. Dia berjalan menuju meja makan. semua pelayan rumah itu menunduk kan kepalanya kepada Sandi.


wah..


perlakuan mereka sangat berbeda..


bahkan aku tadi Hanya di sapa


Adrianty yang sudah selesai sarapan, enggan untuk mengikuti Sandi.


Dia memilih menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke belakang.


Tidak ingin kejadian lama terulang lagi. Cukup kejadian waktu itu menjadi pelajaran bagi Adrianty agar tidak lagi mengunjungi ataupun mengacak dapur Milik tuan rumah.


"Oi..


Kemana kau?"


"Saya?


Saya akan menunggu anda siap sarapan tuan"


"Kau sudah sarapan?"


"Iya, sudah"


"Kapan?"


"Tadi, setelah berganti pakaian"


"Kenapa tidak menungguku?


Kau bahkan tidak berfikir untuk membangun kan ku, sekarang kau duluan sarapan dari ku?"


Eh?


Kok seakan aku jadi orang jahat disini


"Saya tidak enak membangun kan anda tuan, tidur anda sangat nyenyak tadi"


"Ck


Alasan!"


"Benar tuan. Sueer"


Adrianty mengangkat tangannya dan menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya.


Untuk meyakinkan suaminya kalau dia serius.


"Sudahlah..


Kita pergi sekarang"


Alhasil Sandi kesal sendiri jadinnya. Niat awal dia ingin menyicipi masakan Adrianty. karna kejadian Waktu itu, membuat Sandi cukup merasa bersalah.


Tidak seharusnya dia marah sampai membuang makanan itu kan?


"Anda tidak sarapan tuan? Saya bisa menunggu anda di ruang tamu. Silahkan pelan pelan saja tuan "


Ucap Adrianty penuh kehati-hatian. Karna atmosfer di sekitar Sandi sudah berubah gelap.

__ADS_1


Adrianty melirik kepala pelayan yang sudah mulai menara makanan di atas meja makan.


seakan memberikan kode 'suruh tuanmu makan!!'


"Aku sarapan atau tidak itu bukan urusan mu..


Kau jadi pergi atau tidak? Atau batalkan saja? aku tidak peduli karna aku bisa pergi sendiri"


Adrianty menyeringit kan dahinya.


rasa kesalnya terpancing, dia mulai jutek menjawab pertanyaan Sandi.


"Baiklah"


Adrianty berjalan meninggalkan Sandi yang berdiri mematung menatap punggungnya dari belakang.


Padahal itu kuucaokan untuk bercanda, kenapa di anggap serius?


"Hai!


Adrianty berhenti!!"


Suara Sandi yang sudah meggelegar seisi rumah.


Hah?


"Anda memanggil saya tuan? "


"Lalu aku memanggil siapa?" jawaban Sandi meyakinkan dirinya kalau yang dipanggil memang dirinya.


Jadi benar dia memanggil ku?


Wahh


Sudah dua kali dia memanggil namaku.


Sandi berjalan pelan kearah Adrianty.


"Kau bilang kau ingin pergi..


Ayo!!"


Dia berjalan mendahului istrinya. Meninggalkan Adrianty yang sedang Bingung sendiri.


.......


Dia tidak menggunakan sopir, karna ini akhir pekan, dia ingin bersantai sejenak.


Lalu lalang kendaraan di akhir pekan ini sangat ramai dan macet seperti biasa. Sepertinya banyak orang yang akan berlibur dengan teman atau keluarga mereka.


Dalam perjalanan ini, Sandi hanya diam. Tapi jangan tanya istrinya.


Adrianty seperti tidak kehabisan topik pembicaraan selama dalam perjalanan itu, dia menceritakan tentang apa yang dia lakukan di rumah tuan Sorno pada kunjungan pertamanya.


Apa yang dia sukai dan tidak dia sukai, dan 2 kafe yang berdiri dengan usahanya sendiri. Walaupun ada 2 orang sahabat yang menjadi penyokong utama berdirinya usaha itu. Tapi kebanggaan itu adalah miliknya.


Sandi hanya menjawab sekedarnya,


"benarkah? baguslah" hanya dua kata itu.


Hingga dia menceritakan tentang pertemuan dirinya dengan orang aneh. seseorang yang mencium dirinya tiba tiba, bahkan adegan di tampar didepan orang banyak pun sangat berbekas dalam ingatannya.


"Saya sangat ingat siapa orangnya tuan, walaupun saya tidak lihat wajahnya, tapi suaranya ketika dia mabuk itu terekam jelas dalam ingatan saya" Adrianty memasang wajah serius sambil memegang kepalanya.


"Kau itukan sangat mengenal buruknya orang. Tapi mengapa kau menceritakan itu pada ku?"


"Hanya untuk berjaga jaga tuan"


"Berjaga?"


"Ya"


Jawab Adrianty sambil menatap kedepan.


"Dari apa ?"


"Hmmm


Misalnya kalau ada orang bilang kalau saya sudah tidak suci lagi itu benar tuan"


Ciiittt


"Apa?" Sandi merem mendadak dan langsung menepikan mobilnya.

__ADS_1


"Apaan ini tuan, kenapa rem mendadak?"


Sandi tidak mengubrisi pertanyaan Adrianty.


"Hai, kau sudah tidak suci lagi? Sudah tidak perawan lagi? Siap orang pertama menjamah mu ha!!!" Suara rendah Sandi menggelegar di dalam mobil.


Dia menjadi emosi mendapatkan kenyataan ini.


Istrinya sudah tidak perawan?


"Siapa bilang saya tidak perawan!" Jawab Adrianty tidak kalah berteriak. Dia sudah tampak ketakutan melihat mata Sandi.


"Kau yang bilang tadi, kau lupa?" Sandi menunding kuat kepala istrinya. Hingga dia terbentur kekaca mobil.


"Sa sakit tuan....."


Suara Adrianty sudah terdengar bergetar.


"Saya hanya bilang kalau saya sudah tidak suci lagi. Orang lain sudah mengambil ciuman pertama saya makanya saya bilang diri saya sudah tidak suci lagi...


Lalau apa urusannya dengan keperawanan saya!!!"


Adrianty langsung terbawa emosi, tangisannya pecah. Dia berteriak di dalam mobil hingga membuat Sandi terkejot.


"Haaaaa haaaa, uwaaaa.....


Hiks hiks..." dia memegang kepalanya, seakan akan dia orang paling tersakiti di dunia ini.


Sepertinya yang jadi penyebab Adrianty menangis bukan Karena pertanyaan Sandi, tapi perlakuan kasar yang diterima dirinya hingga membentur kan kepalanya kekaca mobil. Ini sudah kali yang kedua.


"Anda suami kurang ajar!!!" Teriaknya lagi


"He' heii...


Aku tidak bermaksud seperti itu..


Menurut mu lelaki mana yang tidak marah mendengar perkataan


'tidak suci lagi' itu?"


Sandi jadi gugup setengah mati.


Dia salah mengartikan perkataan istrinya.


"Sudah sudah, aku minta maaf...


Ya? Riant? Aku minta maaf ya...


Mana yang sakit? hm?..


Aku minta maaf"


Sandi berusaha untuk menenangkan Adrianty, memegang kepala istrinya mengusapnya lembut. Tapi Adrianty menepisnya, sepertinya tidak semudah itu usaha Sandi diterima Adrianty.


Bahkan Adrianty enggan melihat Sandi. Mengabaikan suaminya yang memohon minta maaf dan melihat keluar jendela mobil.


"Baiklah...


Kalau kau tidak mengacuhkan ku, turun sana. Kita tidak usah pergi"


"Baik"


Adrianty langsung saja membuka pintu mobil itu.


"Hai!!"


Sandi menahan tangan Adrianty yang berniat keluar dari mobil.


Sialan, dia sepertinya marah besar


"Aku hanya bercanda, kenapa di anggap serius..


Baiklah baiklah, aku kalah...


Tutup lagi pintunya kita berangkat. Oke?"


"Baik"


Adrianty Kembali menutup pintu itu. Dan kembali mengacuhkan Sandi.


Hufttt


Kok susah sekali menenangkan dirinya.

__ADS_1


Sandi menyalakan kembali mobilnya, akhirnya perjalanan yang terhenti sejenak tadi berlanjut. Tapi sekarang dengan kediaman dua orang itu.


Adrianty sudah tidak ingin berbicara karena keadanya. Dan Sandi pun memutuskan untuk diam karna tidak tahu topik apa yang akan dia bicarakan dengan orang yang sedang emosi ini.


__ADS_2