
Adrianty mengikuti langkah sekretaris Ken. Dia tidak tahu kemana sekretaris itu membawanya, dan dia tidak peduli. Yang penting bukan tempat yang berbahaya. Akhirnya sampailah Adrianty di tempat yang di tuju oleh sekretaris Ken.
Mereka sekarang berada di depan pintu kayu. Pintu itu terlihat terukir dengan sangat cantik dan menawan, sepertinya semua pintu di rumah ini di ukir oleh pengrajin profesional. Sedangkan genggaman pintu berwarna perak.
benar-benar mewah.
"Nona, mulai sekarang anda tidur disini. Dan jalani saja kehidupan anda sebagai nyonya di sini. Dan juga saya ingatkan nona jangan sesekali menggunakan nama tuan muda untuk keperluan anda!"
Tatapan itu bertemu lagi, mata sekretaris yang dingin menusuk tembus pandang melalui kacamata menuju mata Adrianty.
"Ba baik tuan" sambil menundukkan kepalannya.
Seram sekali anda pak sekretaris
"Dan mulai sekarang anda jangan memanggil saya tuan nona. Tidak sopan bagi saya jika anda memanggil saya tuan"
Adrianty tidak membalas ucapan Ken dan hanya mengangguk angguk tanda mengerti.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu, nona silahkan masuk ke kamar anda!"
Sekretaris itu membuka pintu kayu itu dan berjalan meninggalkan Adrianty seorang diri.
"Tunggu" Adrianty menghentikan langkah sekretaris Ken.
"Iya nona" Ken berbalik dan kembali menghadap Adrianty.
"Itu, pakaian ku kapan datangnya? Aku ingin pergi bekerja magang besok, bisakah pakaianku datang malam ini?" Tanya Adrianty gugup.
"Baik nona, akan saya salesaikan, selamat malam"
Baru ingin melangkah satu langkah Adrianty menghentikan kembali menghentikan langkah sekretaris Ken.
"Tunggu sekretaris Ken!"
"Iya nona" mulai kesal.
__ADS_1
"Bisakah aku tetap melakukan pekerjaan ku seperti biasanya? Aku juga punya dua cafe, jadi aku takut jika aku tidak bisa melakukan kegiatan ku sendiri"
Adrianty menundukkan kepala dan mencubit cubit kuku jarinya tangannya.
"Lakukan saja nona, selagi tuan muda tidak marah, saya tidak akan peduli. Tapi harus ingat anda adalah istri tuan muda Sandi Kasorno Andrana, nyonya muda Sorno. Tolong jaga sikap anda di luar nona dan patuhi saja perkataanya!" Dengan dingin dia menatap Adrianty.
"Tapi bukan kah tuan Sandi tidak akan peduli dengan ku? Kenapa dia harus marah?"
"Haruskah saya ulang seratus kali nona? Seharusnya anda tahu kalau anda Sekarang istri tuan muda" nadanya mulai sedikit meninggi.
"Sama saja, aku masih seperti orang lain, kenapa dia harus menghalangi diriku? Jika dia merasa punya seorang istri kenapa dia bahkan tidak menemui ku? Itu tandanya dia tidak peduli pada ku dan lupa kalau dia itu sudah tidak lajang lagi. Dia saja tidak peduli padaku mengapa aku harus peduli pada perkataannya? memangnya aku ini binatang apa? yang menerima apapapun yang dikatakan oleh tuanya. aku juga manusia, aku juga punya pekerjaan, aku juga punya bawahan yang bergantung hidup kepada ku. aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Jadi aku masih bisa melakukan hal yang ingin aku lakukan? iya kan?"
Dengan mata yang mangharapkan sesuatu terlihat. Tangan yang sedang memohon berada di depan dadanya mengharapkan persetujuan.
Kenapa selalu menjawab perkataan ku? Kenapa anda selalu saja melawan?
"Terserah anda saja nona, jalani saja kehidupan anda. asalkan tidak melanggar aturan. Permisi nona" sudah tidak ingin bicara lagi. Sekretaris itu berjalan lagi.
Dan lagi lagi Adrianty menghentikan
"Tunggu"
"Apa lagi nyonya Sandi terhormat" Ken sudah meninggikan suaranya tanda dia sudah berada di ambang batas kesabaran.
"Hei Ken" Kata Adrianty tegas. Dia merubah raut wajahnya yang tegang menjadi sosok pemberani.
apa apaan wanita ini.
"karna aku sudah jadi majikan mu. Mulai hari ini aku akan sering sering memerintahkan diri mu. kau mengerti!" lagaknya sudah seperti Mak Mak Indosiar saja.
"coba saja nona. Saya sangat menantikan hari esok" Jawab Ken tersenyum mengejek.
"kalau begitu nona saya permisi dulu. selamat malam"
"hai Ken tunggu dulu!" teriak Adrianty.
__ADS_1
Sekretaris Ken geram geram menahan kesal.
"apa lagi nyonya kuu" kata kata yang penuh penekanan.
"Selamat malam, semoga mimpi indah. Hehehe" Adrianty mengedipkan sebelah matanya kepada sekretaris itu sambil menjulurkan lidahnya. Dia melambaikan tangannya kearah sekretaris Ken dan langsung membuka pintu kayu itu.
Mengabaikan perubahan raut wajah Ken sekarang.
Adrianty masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi kamar pribadinya di rumah ini, ketika masuk ke dalam ruangan itu terasa sangat dingin di dalamnya.
Sepertinya kamar ini tidak pernah di gunakan, ini saja masih berdebu.
Dia menghidupkan lampu ruangan itu. Mata bulatnya menyapu seluruh ruangan itu.
Adrianty ternganga melihat isi ruangan itu. Ruangan yang besarnya dua kali lebih besar dari pada kamarnya, di hiasi dengan ornamen ornamen yang indah. Hanya ada satu set lemari pakaian, satu ranjang ukuran sedang dan satu tempat meja rias.
Sebenarnya ruang itu adalah kamar tamu yang di sediakan di rumah ini. Akan tetapi sepertinya kamar itu sudah milik Adrianty Selama berada di rumah ini.
Apa ini kamar ku? Waaww besar sekali, rapi bersih, walaupun sedikit berdebu. tapi tidak seberantakan kamar ku. Hiks, kemiskinan memang membatasi imajinasi ku. Bahkan kamar ini sangat luas, jika di rasakan dindingnya sepertinya kamar ini sudah lama tidak di huni. Lihatlah sepertinya kamar ini baru di bersihkan. Debunya masih saja menempel di sudut ruangan ini.
"Tapi ini nyamaaaaan!!"
Adrianty merenggangkan otot ototnya di atas tempat tidur itu sambil berguling guling bahagia. Sebenarnya bukan karna dia mendapat kamar ini tapi karna dia tidak perlu berurusan dengan tuan Sandi bahkan sekarang mereka berada di satu atap.
"Hah, nyamannyaaa!!. hah
Kata sekretaris itu aku tidak boleh berangan angan untuk tidur dengan tuan Sandi kan? Baguslah kalau begitu. Dia bilang aku bisa melakukan pekerjaan ku dengan damai dan tentramkan? Aku sangat berterima kasih kalau begitu. Aku tidak perlu merasa sungkan sebagai istrinya. Toh aku juga tidak peduli. Mau tuan Sandi itu hidup atau tidak terserah dirinya. Haha. Yeah senangnya sebagai istri yang tidak di akui haha"
Terlihat Adrianty sangat menikmati suasana ruangan itu. Suasananya sangat tenang, cocok untuk zona belajar. Adrianty jadinnya juga bisa tenang untuk mengerjakan tugas kuliahnya dan bebas berteriak sepuasnya karna ruang tamu ini kedap Suara luar dalam.
Lambat laun setelah usai menata kesenangannya Adrianty tertidur dengan pulas. Setelah melepaskan kacamata dia langsung menghamburkan diri ke atas tempat tidur. Mengambil selimut dan bantal guling yang hampir sama tingginya dengan dirinya. Dan hanyut kedalam dunia fantasi yang indah.
Tanpa sadar sebenarnya Adrianty sekarang berada di kawasan cctv. Semua ruang di rumah ini memiliki cctv tersembunyi tanpa sepengetahuan orang lain. Bahkan pelayan rumah ini hanya beberapa orang saja yang tahu.
Ini baru tahap awal dimana dia siap untuk di awasi.
__ADS_1