First Wedding Trip

First Wedding Trip
Tidak setuju


__ADS_3

Laju kendaraan terdengar bergemuruh sepanjang jalan.


Sekarang Adrianty sudah berpisah dari teman temanya. Dan sekarang waktunya dia naik bus umum dan mampir ke cafe miliknya yang berjarak sekitar 3km dari kampus nya.


Cafe itu adalah miliknya sendiri yang dia buka menggunakan uang jajan yang dia kumpulkan sendiri semasa sekolahnya. Tamat SMA, Adrianty tidak langsung kuliah dan fokus untuk membuka kafe miliknya


Sekarang dia sudah buka cabang di tempat lain, dia sudah punya 2 cafe untuk mencukupi kebutuhannya. Tak ada keluarganya yang tau akan hal itu.


Keluarganya hanya menganggap Adrianty adalah pekerja paruh waktu di situ karna dia menggunakan pakaian karyawan untuk melakukan kerja sambilannya.


Tak lama setelahnya tiba lah Adrianty di cafenya. Dia menaruh tasnya di tempat loker karyawan, tapi untuk Adrianty dia punya loker tersendiri dan hanya khusus untuknya.


"Kak Riant kau sudah datang" salah satu karyawannya sudah menyapa kedatangan bosnya.


"Ya , apa cafe baik baik saja hari ini?"


"Ya baik saja kak, tenang saja. Kalau ada aku, pelanggan bawel pun akan ku jewer telinganya hehe" seru gadis itu dengan semangat.


"Iya, kau yang jagonya. Kau tak kuliah? Kau cuti? bukankah biasanya kau bergantian dengan Teja?"


"Aku malas kak ke kampus hari ini, dosen nya dosen galak. Abistu tugas ku numpuk belum siap.." dengan wajah cemberut.


"Hais, walaupun orang tua mu mampu, belajarlah yang giat, di masa depan tidak semua wanita di perlakukan dengan baik"


Sambil mengambilkan pesanan konsumen Adrianty terus mengomel kepada Nizi karyawannya itu.


"Iya iya kak, ohya kak Teja tadi dia minta izin dulu dia mau ke rumah temannya kata nya, ada yang harus dia lakukan"


Dengan antusias dia menyampaikan pesan dari Teja.


"Iya dia sudah kirim pesan tadi, katanya dia bakalan balik nanti sore. Kamu, menyukai Teja?" Dia mendekatkan wajahnya pada Nizi karyawanya. Dengan semangat gosip yang menggebu-gebu.


"Tidak lah!!! mana mungkin!! aku juga udah punya pacar, udah tampan, pintar lagi"


"Lalu?"


"Sebenarnya aku bosan di rumah makanya aku mau menggantikan Teja"


"Iyaa kau si nakal Nizi tak ingin kalah"


Sambil tersenyum Adrianty


memperhatikan Nizi yang membanggakan dirinya.


Waktu telah berlalu, pelanggan yang datang silih berganti. Stok barang makan dan minum mulai menyusut.


Dan sudah waktunya cafe di tutup.


"Nizi kau boleh pulang, istirahatlah , kau pasti cepek. Teja sudah datang, dia yang akan menggantikan mu"

__ADS_1


"Baik kak aku pulang dulu ya kak, soalnya pacarku juga udah di depan nunggu. Aku pulang dulu ya kak. Teja kau batu kak Riant jangan sampai dia kecapek an"


"Iya iya, udah mau pulang ngomel aja terus, udah pulang sana!" Dengan sebal Teja mengusir Nizi dari cafe.


Beberapa karyawan ada yang membersihkan meja, ada yang membersihkan lantai, dan ada juga yang sudah mulai beres beres menutup toko.


Adrianty sekarang sedang sibuk di mesin kasir. Menghitung pendapatan hari ini.


"Teja, besok stok barang baru bakalan masuk. kamu tambahkan ya stok barang, banyak sekali pelanggan hari ini. Pastikan setiap bahan yang kurang stoknnya tersedia ya"


Adrianty menyimpan uangnya kembali kedalam mesin kasir.


"Baik bos, nanti malam akan ku pastikan barangnya bos hehehe"


Dengan senyum Pepsodent dan hormat dia tertawa.


"Sudah larut malam, cepat kerjakan semua ini dan pulanglah, kau pasti lelah pulang balik seharian. Jangan lupa makan dulu sebelum tidur nanti ok!"


Panjang lebar Adrianty mengomel ngomelnya.


Cih, kak Adrianty kayak mama aja, bawel banget orangnya


Dalam hati sebenarnya Teja juga senang di perhatikan oleh bosnya itu. Karna sejak dia sudah besar ibunya sering pulang larut malam.


Adrianty memilih pulang menggunakan taksi. Karna akan memakan waktu yang lama jika menggunakan bus dan dia sudah capek, ingin pulang cepat.


Terlihat di layar utamanya tiga puluh lima kali panggilan tak terjawab dari rumah, empat puluh kali dari ayahnya.


Ada apa ini, apa yang terjadi di rumah!


"Pak percepat ya pak. Soalnya ada masalah di rumah"


"Iya neng"


Pak supir taxi menambah kecepatan mobilnya.


Jantung berdetak kencang . Dia sangat khawatir apa yang terjadi di rumah. Jika itu menyangkut keluarganya Adrianty pasti sangat panik.


Sampai sudah sekarang Adrianty di rumah mewah dan besar yang akan di gadaikan sebagai pelunasan hutang perusahaan mereka.


Dia berlari lari kecil menuju rumahnya. Dia sekarang sedang kawatir apa yang terjadi di rumahnya. Biasanya panggilan itu tak sampai sebanyak empat puluh kali itu.


Ceklek


Adrianty mendorong genggaman pintu. Terlihat di situ orang yang berkumpul mulai dari ibu tirinya sampai ayah kandungnya sendiri dan orang yang tak di kenal.


Ketika memasuki rumah itu dia berjalan dengan penuh kebingungan. Ada beberapa orang yang menggunakan pakaian menggunakan jas serba hitam. Dan ada beberapa pengawal yang mengikutinya.


Merek terlihat sangat rapi dan tegas.

__ADS_1


Belum sempat dia duduk sang ayah sudah memberikan titahnya.


"Adrianty, tanda tangani ini! Kau lakukan dengan cepat. Maka kita sekeluarga akan selamat" ucapnya lembut terkesan mengancam.


Apa ini


Adrianty mengambil amplop berukuran besar yang terletak di atas meja. Di mencoba menelaah apa yang terdapat dalam map tersebut.


Apa apaan ini, surat kontrak perjanjian menikah?


"Ayah apa ini?"


"seperti yang kau lihat" ayahnya memalingkan wajah ke arah lain.


Adrianty tidak puas dengan jawab ayahnya lalu melirik ke arah orang yang berjas hitam.


"Ya nona seperti yang anda lihat"


Hmm? Siapa dia?


"Siapa anda tuan?" dengan kebingungan Adrianty bertanya dengan sopan pada orang itu.


"Perkenalkan nona saya sekretaris tuan Sorno, anda bisa memanggil saya sekretaris Ken"


Namanya bagus, Ken. dia juga tampan muda tampan juga terlihat masih berumur 25 an


" sekretaris ken, anda kesini ada perihal apa ya"


Mencoba bertanya sambil tersenyum kebingungan dan padahal dia sudah tahu apa maksud kedatangan mereka hanya dengan melihat amplop yang tertera di meja.


"Seperti yang anda baca nona " sekretaris itu tersenyum dengan sinis.


"Jadi yang di maksud adalah aku harus menandatangani ini? Kenapa" Adrianty yang kebingungan mencoba bertanya.


"Itu sesuai perjanjian yang kami buat dengan ayah anda nona, kami akan membantu perusahaan kalian dengan memberi suntikan dana dari perusahaan kami, dan tuan kami hanya meminta tebusan. Anda....."


Belum selesai sekretaris itu bicara Adrianty langsung memotong pembicaraan.


"Mengapa aku? Sudah ku bilang aku tak akan mau, bukan kah sudah ku bilang suruh bibi yang menikah bukan aku, kalian kan yang menginginkan kekayaan tuan Sorno mengapa aku aku menjadi tumbal kalian!"


Adrianty berbalik melihat ayahnya, suara Adrianty memekik di seluruh ruangan hingga langit langit.


"Kalian yang tamak mengapa harus aku yang jadi korban?"


Tidak terasa seisi ruangan menjadi sunyi seketika.


Beraninya dia memotong pembicaraan ku


Bisik Ken dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2