
Sedangkan di sisi lain
Sandi langsung memasuki ruangan itu dan membelah kerumunan, tentu saja dengan bantuan sekretaris Ken yang membantunya mengusir nyamuk. sekretaris yang dapat di andalkan di segala situasi.
Sekarang mereka sudah berada di dalam kerumunan paling depan. Dia sedikit bersembunyi karna takut di sadari oleh orang orang dan Sandi akan menjadi sumber kerumunan.
Aksi Adrianty sekarang menjadi tontonan gratis semua orang. seperti film aksi yang sedang melakukan syuting tanpa skenario.
Nizi terlihat ketakutan. para wanita malam itu takut takut dan berteriak histeris melihat kejadian itu.
"Waw" Ken takjub
"Itu nona tuan"
Ken melihat kearah Sandi yang tampak tersenyum. Sepertinya Sandi sangat terhibur dengan pertunjukan ini.
Wanita yang terlihat takut takut kepadanya ternyata tanpa dia sadari adalah orang kuat tanpa rasa takut dalam dirinya.
"Tidak apa, jangan khawatir aku disini"
Adrianty mengelus lembut kepala Nizi yang dia tampak ketakutan.
"Kak aku takut hiks hiks"
"Tidak apa, ayo kita pulang"
Adrianty membantu Nizi untuk berdiri.
Rambutnya sudah amburadul, sedangkan pakaian Nizi sudah robek tidak berbentuk lagi, hanyalah tinggal rok yang membalut kakinya sedangkan pakaian yang membalut tubuhnya sudah tidak berbentuk lagi, sudah koyak.
"Kak, aku takut jika bunda tahu, kalau bunda tahu bisa bisa bunda jatuh sakit, aku nggak mau aku nggak mau hiks hiks hiks huhuhuhu"
dia menangis sesegukan.
"Tidak apa, biar kakak yang jelaskan pada bunda"
Semua berandal itu lemah tidak berdaya. Kemeja Adrianty sudah terkena noda darah karna berkelahi. Dia melepas blezernya dan memakaikannya pada Nizi.
"Kau, pacarnya Nizikan?"
Lihat Adrianty melalui ekor matanya.
"Heh, tentu saja aku pacarnya. Sudah tahu aku pacarnya kau masih saja memukulku. Niziku akan memerahimu, iyakan sayang" dia memberi tekanan kata sayang.
Buk
Adrianty menendang perut pria tersebut.
"Masih bilang kau pacarnya? Kau lecehkan dia itu gaya berpacaran mu hah!!"
suara Adrianty menggelegar di seluruh ruangan. Semua orang yang melihat merasa ikut tegang.
"Hehehe
salahkan saja dia tidak mau melayaniku, tentu saja aku selingkuh hhaha" tertawa sambil menahan sakit yang dia terima dari Adrianty.
__ADS_1
"Kau bajingan brengsek....."
Drap
Drap
Drap
Langkah kaki yang saling bersahutan terdengar.
"Kak Riaaant!!"
"Nona Riant!!!"
" Rianty!!!!"
Empat orang saling sahut bersahutan terdengar khawatir. Siapa saja mereka, dua di antaranya adalah teman Adrianty satu orang bodyguard dan si pemilik klub ini.
"Kalian baik baik saja?"
Tanya Alex khawatir.
"Riant bagaimana denganmu kau baik baik saja? Hmm? Mana yang sakit? Sini lihat aku? Ayo jangan buat aku khawatir."
Alex dengan gusar bertanya tanpa mendengar dulu suara Adrianty.
" aku baik baik saja, bantu aku kak membereskan mereka" Adrianty tidak jadi membabi buta Paria brengsek yang berstatus pacar Nizi itu.
"Hmm kamu jaga Nizi baik baik!, Teja, bantu aku. Laura kau bantu Riant. !"
Adrianty pergi meninggalkan mereka yang sedang membereskan para bajingan itu. Dia memapah Nizi dibantu oleh Laura.
mereka berjalan keluar, semua orang memberikan mereka jalan dan menatap Adrianty penuh takjub yang sedang membopong Nizi yang sedang lemahnya.
Sedangkan disisi lain ada orang yang sedang mengepalakan tangannya geram karena melihat seseorang yang sangat dekat istrinya.
Ken yang melihat itu menggeleng kepala. Tadi dia menghina istrinya itu sekarang dia cemburu tak menentu.
"Ken" dengan mata tajamnya dia melirik Ken.
"Ya tuan"
"Kau cari tahu kenapa wanita itu bisa dekat dengan bajingan itu!!!""
"Tuan muda Alex tuan?"
Tanya Ken bingung.
"Lalu siapa lagi? Banyak tanya" kembali diam karena kesal.
"Baik tuan"
Kalau cemburu katakan saja, kenapa harus aku yang jadi sasarannya? Umpat Ken dalam hati yang mengutuk ngutuk tuan mudanya.
Sandi pergi meninggalkan kerumunan seiring dengan perginya Adrianty dari ruangan itu. Diiringi oleh sekretaris Ken yang sangat setia akan tuannya itu.
__ADS_1
"Ken"
"Ya tuan"
"Suruh wanita itu pulang cepat! Kau pindahkan barang barangnya ke dalam kamarku"
Eh
Ada apa dengan tuan muda.
"Kapan tuan"
"Malam ini juga!"
Ken tersentak dengan apa yang di perintahkan tuannya itu.
Tidak biasanya dia membawa wanita kekamarnya.
"Baik tuan"
iya ya mereka kan suami istri, tidak heran jika tidur bersama. Ken terkekeh sendiri melihat perilaku kekanakan tuannnya itu.
...----------------...
Sementara itu sekarang Adrianty sudah berada di dalam lift menuju lantai bawah bersama Nizi dan Laura.
"Kok kamu bisa gini sih Niz?" Tanya Laura.
awalnya Nizi diam, kemudian dia membuka suaranya.
"Tadi pagi kami bertengkar, aku menemukan dia berselingkuh dengan wanita lain di belakang ku, itu tidak satu orang, ada dua wanita berbeda dengan dirinya. ciuman, bergandengan tangan. Awalnya aku berusaha untuk tidak berfikir negatif. Lalu aku minta penjelasan dari dia. Hiks hiks hiks"
Menangis sesenggukan.
"Lalu?"
"Lalu aku ngajak dia bertemu, dan minta putus, dia bilang nggak mau mutusin aku sebelum aku layani dia."
"Brengsek!!!" Hujat Adrianty dan Laura bersama.
"Lalu aku nggak mau. Nggak beberapa jam setelah aku menyatakan putus lalu dia telfon, katanya untuk terakhir kalinya kami bertemu.Lalu dia memberi lokasi disini. Ketika aku masuk ruangan yang dia katakan, aku melihatnya di kelilingi oleh wanita malam. Aku.. aku aku.... Hiks hiks"
Nizi tidak sanggup melanjutkkan ceritannya yang miris itu.
"Harga diri ku terasa di koyak, lalu aku melawannya dan ternyata tenagaku tidak cukup dan akhirnya aku hampir di perkosa jika kak Riant nggak datang di waktu yang tepat"
Tangisan Nizi langsung pecah di dalam lift itu, Adrianty dan Laura mencoba menenangkannya.
"Sudahlah semua sudah selesai, lupakan dia, mulai hidup baru kau mengerti! Jangan pernah berhubungan lagi dengan dirinya. Kau dengar Nizi? " Ujar Laura.
"Iya kak"
Akhirnya lift sampai di lantai paling bawah. Adrianty dan Laura mengantar Nizi pulang. Sesampai dirumah Nizi, Adrianty menjelaskan semua yang terjadi.
Ibu Nizi sempat terkejut, dengan sigap Laura menenangkan ibu Nizi yang hampir pingsan mendengar anaknya yang hampir diperkosa.
__ADS_1