First Wedding Trip

First Wedding Trip
masih menjenguk mertua


__ADS_3

Sekarang sampailah mobil itu di garasi. Adrianty langsung membuka pintu tanpa menunggu Ken untuk membukakan pintunya.


"Apa kita sudah sampai?" Tanya Adrianty sambil menatap rumah besar itu.


Ken yang masih belum keluar tambah kesal karena sikap Adrianty. Seenaknya saja tanpa menunggu Ken lebih dulu.


"Kenapa anda turun dari mobil sebelum saya bukak kan nona?" Tanya Ken kesal.


"Hai jangan langsung marah begitu, Kau lamban sekali sih, makanya aku buka sendiri"


Mendengar itu Ken bertambah geram


Aku dia bilang lamban?


"Baiklah nona ayo ikuti saya"


"Baik"


Adrianty mengikuti langkah kaki sekretaris Ken. Ken berjalan dengan sangat cepat, sepertinya dia sedang balas dendam pada Adrianty. Tidak terima dikatakan lamban.


"Hai sekretaris ken?! Kenapa jalan cepat sekali akukan ketinggalan"


Seringai licik muncul di wajah Ken.


"Anda sangat lamban nona"


"Apa!!"


Dia gila ya, kekanakan sekali, emangnya mau balas dendam gitu?


Gerutu Adrianty dalam hati.


Hingga sampailah mereka di pintu utama rumah ini.


"Selamat datang tuan" pelayan wanita yang terlihat masih muda memberi salam pada Ken.


"Hm, dimana tuan muda?" tanya Ken singkat.


"Tuan muda berpesan agar langsung menemuinya di kamar tuan besar bersama nona muda tuan"


"Baik, kau pergilah!" Sambil melambaikan tangan untuk menyuruhnya pergi.


Pelayan itu melirik Adrianty.


Adrianty yang tahu kalau dia sedang di lihat langsung menyapa pelayan tersebut.


"Hai, aku Adrianty, kau bisa panggil aku Riant," sambil mengajukan tangan untuk bersalaman. dia tersenyum ramah.


Pelayan itu terlihat kaku, sama seperti kepala pelayan yang sebelumnya.


Baiklah baiklah, kau juga sama kakunya seperti kepala pelayan itu.


Plak


Adrianty menepuk pundak pelayan itu.


"Panggil saja Riant, oky?!" Adrianty mengedipkan satu matanya kepada pelayan itu. Walaupun di balik kaca mata, mata Adrianty terlihat sangat bersinar dan cantik. Membuat pelayan itu jadi salah tingkah.

__ADS_1


Sontak wanita itu bersemu merah, itu pertama kalinya dia diperlakukan secara santai.


Adrianty menyusul Ken yang hampir menghilang. Sepertinya pria itu benar benar dendam pada Adrianty, tidak mau menunggu dirinya terlebih dahulu.


Hingga sampailah dia di depan pintu kamar.


Ceklek


"Tuan, kami datang" ucap Ken yang memberi hormat.


"Hm"


Disusul Adrianty dari belakang


"Halo tuan, selamat malam" sambil membungkukkan badan dan memberi hormat


Sandi tidak merespon sedikitpun.


Jangan kan merespon, melihat dengan ujung matanya pun tidak.


Adrianty hanya menggerutu dalam hatinya, mengutuk ngutuk Sandi dalam batinnya.


Pandangan Adrianty tersapu ketika melihat seseorang pria paruh baya yang sedang tertilantang di atas kasur dengan slang di hidungnya, dan infus di tangannya, serta alat alat medis yang berada di sekitarnya.


Serta ada tiga orang dokter yang berada dalam kamar itu. Dan ada seorang pelayan wanita.


"Dia siapa ?" Tanya pria paruh baya itu dengan suara yang serak, dia tampak berusaha memutar kepalanya untuk melihat Adrianty.


"menentu ayah" Sandi langsung memegang bahu Adrianty dan merangkulnya dengan erat.


Dia tersenyum pada ayahnya.


"ia" Jawab Sandi singkat diiringi oleh senyuman manis hingga membuat Adrianty jadi salting.


kenapa dia?


Adrianty memberi pandangan heran atas tingkah sandi.


"Beri salam pada ayah!" Sandi tersenyum kepada Adrianty, dia sedikit mendorong Adrianty untuk mendekat dengan ayahnya.


"Eh hahaha iya.


Paman, perkenalkan namaku Adrianty. senang berjumpa dengan anda" Adrianty memberi hormat kepada ayah sandi sambil membungkukkan badannya. Dan mengambil tangan ayah mertuanya untuk bersalaman.


"Hahaha tidak usah memberi hormat, kau menantuku pastinya aku adalah ayahmu juga. Mendekatlah nak" tuan Sorno menggapai Adrianty dengan tangannya.


"Ba baik ayah hehe" Adrianty tersenyum canggung ketika rambutnya di belai oleh tuan Sorno.


"Kau sangat cantik, Sandi sangat pandai memilih mu" dia membelai terus rambut Adrianty.


"Hahaha ayah sangat pandai melucu, mana mungkin aku seperti itu, aku di pilih oleh tuan Sandi hanya karna...."


Ehem


sekretaris Ken mendehem keras agar Adrianty ingat akan situasi.


"Hahaha tentu saja karna aku ini sangat menawan makanya dia memilih ku hahaha"

__ADS_1


Apa apaan yang aku katakan ini sambil tersenyum.


"Kau benar" dia menggenggam tangan Adrianty erat.


"Syukurlah, anak nakal ku itu sekarang sudah tobat, sudah banyak wanita yang dia bawa, hanya kau yang dia jadikan menantuku hahaha"


Langsung wajah Adrianty mereh merona mendengar perkataan ayah mertuanya itu.


"Ja jadi maksud ayah" Adrianty melirik sandi yang sedang duduk dengan gaya kekuasaannya.


"Jadi maksud ayah tuan sandi sudah punya banyak wanita simpanan? Jadi aku bukan yang pertama?"


Puftt


Ken tertawa, dia berusaha menahan tawanya. Ini sudah melewati batas, akan tetapi bagaimanapun juga mulutnya tidak bisa dikontrol.


"Hahahha" ayah Sandi tertawa.


"Kau sangat polos nak"


Dia semakin melebarkan senyumnya.


Sandi yang sejak tadi duduk sudah mulai panas. Dia melonggarkan dasinya yang menjepit lehernya.


"Ayah, jika kau sudah melihat menantumu maka sudahlah, biarkan dia pergi. Dia akan pergi untuk bekerja besok" Sandi mengalihkan pembicaraan agar pembicaraan yang gila ini tidak berlanjut.


Adrianty yang sudah terlampau iseng dan kesal akhir akhir ini dengan tingkah Sandi langsung muncul ide gila di kepalanya.


Dia mendekatkan dirinya sendiri dengan ayah Sandi yang sedang terbaring lemah.


"Ayah, jika aku bukan yang pertama berarti menentu ayah banyak kan?"


"Menentu ayah hanya satu, yaitu kamu. Akan tetapi calon menantu ayah sangat banyak" dia melihat Sandi yang sudah tampak panas.


Adrianty tambah tersipu dengan perkataan orang tua itu.


Para dokter dan perawat yang menyaksikan percakapan itu pun terlihat kagum.


Selama ini tuan besar mereka itu tidak akan mudah tertawa. Walaupun berbincang dengan dokter itupun hanya berbincang satu atau dua.


Adrianty serasa mendapat lampu hijau langsung menanyakan sesuatu.


"Ayah kenapa ku sangat kurus?" Sesi tertawa pun berakhir.


"Namanya juga orang tua, biasalah sakit sakitan" jawabnya tenang.


"Ayah, aku juga punya orang tua, tapi dia tidak sakit sakitan. Yang malah dia tambah sehat bugar. Lihat saja kalau ayah tidak percaya, keningnya tambah silau, perutnya tambah besar, kumisnya makin melengkung keatas, dan jenggotnya tidak tumbuh tumbuh, tapi tubuhnya tidak mau tinggi.


"Hahaha" perkataan Adrianty membuat diisi ruangan penuh tawa.


Kenapa nona mendeskripsikan orang tuanya sendiri seperti orang mesum? Pikir Ken.


"jangan seperti itu, dia adalah orang tuamu"


"orang tua kan bukan hanya yang melahirkan kita akan tetwpi orang yang sudah berumur yang kita kenal kan namanya juga orang tua, makannya yang saya maksud itu adalah orang tua yang lain ayah, hihihi" dia cekikikan sendiri mendengar pernyataan gilanya.


Sandi melihat percakapan singkat ini sedikit lega.

__ADS_1


Setidaknya ayahnya tidak akan mendesak dirinya untuk menikah lagi.


__ADS_2