
Author Pov
Ditya sampai dicafe tempatnya bekerja sebagai waiter.
Dia langsung menuju belakang cafe untuk segera mengganti pakaiannya dengan seragam cafe yang tersimpan dilokernya.
"Hai, Bro! Kali ini ngegantiin siapa, lo?" tanya Yusril atau lebih dikenal dengan panggilan Ucil Marucil oleh teman-teman kerjanya.
Ucil yang sudah tahu jadwal kerja Ditya yang suka menggantikan jadwal rekan yang lain jika berhalangan hadir itupun melakukan tos dengan tangan mengepal, kebiasaan yang dia lakukan saat menyambut teman-temannya.
"Biasa, si Deni, Bro! Lo tahu, kan kalau malam jumat dia ada jadwal ngajar anak-anak ngaji di masjid dekat rumahnya. Anak sholeh dia emang. Asli turunan dari bapaknya," jawab Ditya tersenyum.
Dia pun membalas tos dari Ucil disela-sela gantinya.
"Oh, iya, gue lupa. Ya, udah. Gue keluar dulu, ya," pamit Ucil menepuk pundak Ditya.
Ditya pun mengangguk dan melanjutkan acara ganti seragamnya kemudian beranjak menuju cafe siap melayani pengunjung yang datang.
Ya. Sebenarnya hari ini dia kebagian shift siang. Namun, berhubung ada temannya yang meminta menggantikannya bekerja, akhirnya Ditya kembali lagi kecafe sebab jam kerja temannya itu dishift malam.
Ditya menyempatkan pulang hanya demi mengantarkan makanan untuk Cyra yang dia tinggal dikost-nya.
Jujur saja, Ditya sengaja menerima job rekan kerjanya karena merasa jengah dengan keberadaan gadis barbar yang sudah menjadi istrinya itu dikost-an.
Ditya sengaja menghindari gadis itu sebab dia tidak ingin terlalu terikat dengannya. Bukannya dia membenci Cyra, sama sekali bukan. Karena jika boleh jujur, Ditya langsung menyukai gadis itu meskipun baru beberapa hari bertemu, apalagi pertemuannya yang dengan cara kurang etis itu.
Meskipun barbar, Cyra sebenarnya gadis yang pintar dan ... cantik menurutnya. Hanya saja kepintaran dan kecantikannya tertutupi oleh kelakuan barbar dan kenakalannya selama ini.
Ditya hanya ingin memegang teguh janjinya pada Pak Bayu selaku papa Cyra yang notabene sudah banyak menolongnya itu, juga demi orang-orang tersayangnya.
#Flashback on
"Kalau kamu sanggup menerima syarat dari saya, saya akan kabulkan permintaan kamu."
Pak Bayu yang baru saja mengutarakan tujuannya menatap Ditya yang tampak kaget.
"Ditya, saya tahu permintaan saya kali ini akan memberatkanmu. Tapi, saya mohon, kabulkan permintaan saya ini dan saya akan mengabulkan permintaanmu, termasuk menjadi donatur tetap disana."
Saat itu Ditya sedang menemui Pak Bayu dikantornya untuk meminta bantuan beliau.
Ya. Sebulan lalu, sehari setelah kejadian pengeroyokannyanya oleh warga karena dituduh mencopet dompet milik seorang ibu-ibu yang mengakibatkan wajahnya babak belur, Ditya dihadapkan lagi dengan masalah perkelahiannya dengan penyanyi cafe tempatnya bekerja.
__ADS_1
Ditya diminta oleh managernya untuk menggantikan sementara penyanyi yang tak kunjung datang, karena para pengunjung sudah mulai menanyakan dimana penyanyi yang biasa menghibur pelanggannya itu kenapa belum juga tampil.
Waktu itu kebetulan Ditya sudah free job dan berniat pulang, tertahan oleh permintaan sang manager yang memintanya mengisi satu dua buah lagu sampai si penyanyi datang.
Diluar dugaan, para pengunjung justru sangat menyukai dan puas dengan suara Ditya sehingga keesokan harinya dirinya kembali diminta menyanyi sehabis jam kerjanya habis.
Hal itu terus berlanjut selama seminggu lebih dan menyebabkan sang penyanyi cafe yang sudah dikontrak pihak cafe merasa dirugikan.
Sang penyanyi pun dendam pada Ditya.
Saat Ditya dalam perjalanan pulang, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang dan langsung menghadang laju vespa Ditya dengan cara menghentikan mobil dengan pisisi melintangi jalan.
Ditya yang mendapat hadangan tiba-tiba itupun oleng dan terjatuh dari vespa. Baru juga dirinya bangun, sebuah bogem mendarat mengenai sudut bibirnya dan pecah. Darah segar sedikit keluar dari sudut bibir itu.
Satu lagi tendangan mengenai perutnya dari teman yang memukulnya tadi.
" Ini akibatnya karena lo udah berani ngerebut lapak gue, Brengs*k!" umpat orang yang memukulnya.
Dicengkeramnya kerah kemeja Ditya lalu menghempasnya dengan kasar sampai Ditya jatuh terduduk di samping vespanya yang roboh.
"Maaf, Bang! Itu semua permintaan Pak Manager karena waktu itu Abang tidak juga datang sementara pengunjung sudah menantikan performa Abang. Daripada pengunjung kecewa, Pak Manager memintaku untuk menggantikan Abang sementara," terang Ditya sembari menyeka darah disudut bibirnya.
"Menggantikan sementara lo bilang?! Heh, asal lo tahu, ya. Gegara lo ngegantiin gue dan pengunjung suka sama suara lo, Pak Manager tua itu langsung ngebatalin kontrak gue. Yah, meskipun gue dapat ganti rugi dari pihak cafe, tapi tetep aja gegara lo gue jadi kehilangan lapak gue, padahal gue udah nyaman nyanyi disana. Pengunjung juga ngejelekin suara gue. Padahal, sebelum ada lo, mereka fine-fine aja sama gue," ujar orang itu dengan berapi-api.
"Udah, sih, Yan. Kita hajar aja si brengs*k ini biar tahu rasa."
Teman dari orang yang dipanggil Yan itu hendak memukulnya, tapi urung keburu ada orang datang menolong Ditya.
Berkat pertolongan dari orang yang ternyata adalah Pak Bayu itu, akhirnya Yan dan temannya memilih pergi. Mereka tidak mau dilaporkan kepolisi dengan tuduhan pengeroyokan seperti ancaman Pak Bayu pada mereka.
Dan seminggu sesudah kejadian pengeroyokan, lagi-lagi Ditya ditolong oleh Pak Bayu karena sudah berbesar hati membantunya menyelamatkan panti asuhan, tempat dimana dia dibesarkan dulu, dari para pengusaha real estate yang hendak mengusir dan membongkar panti.
Saat kondisi kalut saat itu, Ditya memutuskan mendatangi Pak Bayu dikantornya untuk meminta bantuan.
Pak Bayu pun dengan senang hati akan membantunya, bahkan memberikan gedung baru yang jauh lebih layak dari lahan panti yang sedang jadi sengketa itu tapi dengan syarat ...
"Bagaimana, Ditya, apa kamu setuju dengan syarat saya barusan?!"
Suara Pak Bayu mengagetkan lamunan Ditya.
"Eh, sa-saya ..." jawab Ditya ragu.
__ADS_1
"Pikirkan adik-adikmu dan ibu pantimu, Ditya. Maaf, saya juga terpaksa melakukan ini karena sudah melibatkanmu didalam masalah keluarga saya," ujar Pak Bayu.
"Ta-tapi kenapa harus saya, Pak? Bukankah kita bisa dibilang orang asing karena baru beberapa kali bertemu?!" jawab Ditya.
Pak Bayu pun tersenyum menanggapi pertanyaan pemuda dihadapannya itu.
"Kalau kita ini hanya orang asing, lantas kenapa kamu berani meminta bantuan saya?!"
Pertanyaan balik dari Pak Bayu membuat telak Ditya. Dia pun gelagapan karena tidak menyangka perkataannya justdu berbalik padanya.
"Eh, itu, itu karena saya melihat dan meyakini bahwa Bapak adalah orang baik. Terbukti sudah dua kali Anda menolong saya tanpa melihat dulu kebenarannya," jawab Ditya sedikit tergagap pada akhirnya.
"Hemm ...!"
Pak Bayu lagi-lagi tersenyum.
"Kalau begitu, anggap saja saya percaya bahwa kamu adalah orang baik seperti kamu yang percaya dan menganggap saya ini adalah orang baik, tanpa kamu menyelidiki saya terlebih dahulu. Karena bisa jadi sebenarnya saya ini adalah orang jahat. Contohnya saja sekarang. Saya memintamu melibatkan diri dikeluarga saya," tegas Pak Bayu.
"Baiklah! Saya akan lakukan apapun demi kelangsungan dan kesejahteraan hidup panti serta adik-adik saya, Pak. Saya akan kabulkan juga permintaan Bapak asal Anda mau memenuhi permintaan saya," putus Ditya akhirnya.
"Baik! Saya setuju. Akan saya beritahukan kapan hari dan tanggalnya nanti padamu. Jadi, saya minta nomormu atau tempat tinggal yang bisa saya hubungi atau datangi nanti kalau-kalau ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.
"Baik, terima kasih atas kerja samanya, Anak muda!"
Akhirnya pertemuan Ditya dan Pak Bayu hari itu menghasilkan kesepakatan yang akan membawa pengaruh besar pada kehidupannya dikemudian hari.
# Flashback off
"Hei, Bro! Malah bengong aja."
Ucil menepuk pundak Ditya yang tengah melamun didekat meja kasir. Nampan yang ada ditangannya hampir saja terjatuh saking kagetnya.
Beruntung dia sigap sehingga nampannya tidak sampai terjatuh kelantai.
"Eh, oh! So-sorry!" ujar Ditya tergagap.
" Itu ada pelanggan dimeja nomor tujuh. Layanin, sana!" suruh Ucil yang kebetulan sedang bertugas sebagai kasir menggantikan Santi yang sedang cuti melahirkan.
"Mikirin apan, sih?! Cewek, ya??" lanjutnya.
"Ah, enggak. Lagi teringat sesuatu saja. Hehe ...!" cengir Ditya.
__ADS_1
"Ok, gue kesana sekarang."
Ditya langsung menuju meja nomor tujuh sesuai instruksi Ucil, menanyakan pada pelanggan tentang pesanan mereka.