Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Pamit


__ADS_3

"Sudah siap semua? Yakin tidak ada yang tertinggal?!"


Dimas yang sudah sejak satu jam lalu datang kembali bertanya.


"Sudah tiga kali ini kau bertanya, Bro!" keluh Ditya mendengar pertanyaan sang sahabat yang itu-itu saja.


"Bukannya apa-apa, takutnya justru hal yang paling penting malah tertinggal. Kan, lucu jadinya!" sahut Dimas.


"Kak, ini berkas apa, ya? Tadi aku lihat tergeletak dimeja makan."


Cyra keluar dari dapur dengan sebuah tas plastik berisi map yang entah apa isinya.


"Oh! Untung kau ingatkan, Ci! Ini berkas lamaran kerja yang harus aku serahkan ke pihak HRD setibanya dikantor cabang besok."


Ditya mengambil berkasnya dari tangan istrinya.


"Nah, nah, kaann ... kecerewetanku harusnya tidak kau abaikan. Untung saja istrimu melihatnya sebelum kau pergi. Apa jadinya jika kau pergi tanpa berkas penting itu?!" sindir Dimas.


"Ya, ya! Thanks, Bro, sudah diingatkan!" ujar Ditya akhirnya.


"Makasih juga, Sayang, kamu sudah melihat ini sebelum aku berangkat!" sambungnya pada Cyra yang kini duduk disebelahnya.


"Iya!" jawab Cyra.


"Cieee, yang sudah mulai sayang-sayangan. Roman-romannya ada yang mulai bucin, nih," ledek Dimas yang melihat cara Ditya memperlakukan Cyra dengan cukup mesra.


"Apaan, sih, Bro!"


Ditya meninju lengan Dimas yang juga duduk disisi Ditya yang lain.


"Aku senang, deh jika akhirnya kalian romantis seperti ini. Eh, ngomong-ngomong, sudah sejauh mana, nih hubungan kalian?!"


Dimas penasaran dengan hubungan sahabatnya tersebut.


"Kepooo!!" ujar Ditya.


"Ish, begitu saja tidak boleh tahu!"


"Sudah, jangan berdebat! Tuh, sepertinya trevelnya sudah datang."


Cyra berusaha melerai perdebatan antar dua sahabat itu saat didengarnya suara klakson mobil yang berhenti ditepi jalan tepat didepan rumahnya.


Dimas pun ikut melongok kearah luar melalui jendela.


"Oh, iya, Bro! Itu trevelnya datang!"


Dimas pun bergegas keluar rumah untuk menemui supir trevel yang akan membawa mereka.


"Dim, tolong angkutin barang-barangku ke mobil, ya! Aku mau ke belakang dulu!" pinta Ditya saat Dimas kembali masuk rumah.


"Ok! Jangan lupa minta sangu kiss sama bini biar disana tidak uring-uringan bawaannya. Hehe ...!" ledek Dimas sambil berlalu mengangkut barang-barang Ditya kemobil.


Ditya tidak menanggapi celotehan Dimas, melainkan mengikuti Cyra yang lebih dulu masuk dapur menyimpan gelas bekas kopinya dan Dimas.


"Ci!" panggilnya dengan terus masuk kamar.

__ADS_1


"Ya?!" jawab Cyra.


Gadis itu heran kenapa Ditya malah masuk lagi kekamar. Mungkinkah ada yang masih tertinggal?!


Cyra yang merasa penasaran pun mengikutinya masuk kamar Ditya.


"Ada apa, Kak? Apa ada yang tertinggal?!" tanya Cyra begitu masuk kamar.


"Iya, ada!" balas Ditya singkat.


"Ap ... hmmmpth!!"


Belum selesai Cyra bertanya, bibirnya sudah dibungkam lebih dulu oleh bibir suaminya.


"Ini yang tertinggal," ujar Ditya sambil mengusap bibir sang istri yang basah oleh salivanya.


"Iihh, apaan, sih?!"


Cyra menutup wajahnya merasa malu.


"Hei! Ngapain tutup wajah? Maluu??"


Cyra mengangguk.


" Masa sama suami sendiri malu, sih."


Ditya pun memeluk tubuh Cyra sambil berbisik:


"Ini baru kiss, lho! Belum yang lain."


Sebuah bogem mendarat diperut Ditya.


"Aukh! Sakit, Cici! Kekerasan dalam rumah tangga ini namanya," keluh Ditya sambil memegangi perutnya yang terkena tonjokkan.


"Habisnya ngomong kayak gitu," cicit Cyra.


"Hemm!"


Ditya tersenyum simpul.


"Tapi, beneran, kok, Ci! Cepat atau lambat aku bakal minta hakku yang lain. Dan yang pasti, aku akan bikin kamu mend*s*h nantinya."


"Kak!!"


Cyra melotot lebar.


"Apa, Sayang?!"


"Berangkat sana! Tuh, Dimas dan yang lain sudah nungguin!"


"Kamu ngusir aku?!"


"Iya!"


"Tega amat!"

__ADS_1


"Bodo!"


"Ya, deh! Aku berangkat sekarang! Tapi, jangan rindukan aku, ya! Soalnya, kata orang rindu itu berat," ujar Ditya mengakhiri perdebatan.


Dikecupnya bibir Cyra sekali lagi sebelum keluar dari kamar.


"Kamu hati-hati dirumah, ya! Jika ada apa-apa segera kabari aku!"


Ditya menggandeng tangan Cyra menuju teras, sementara Dimas sudah menunggu dihalaman.


Dimas tampak sedang mengobrol dengan supir trevel yang akan membawanya mengantar Ditya dan yang lainnya.


"Aku berangkat, ya!" pamit Ditya sekali lagi.


"Iya, hati-hati!" ucap Cyra lirih.


Entah kenapa, rasanya berat harus berpisah lama dengan sang suami.


"Iya!"


"Sudah pamitannya?!" celetuk Dimas dari arah halaman.


"Kak Dimas, aku titip Kak Ditya, ya!"


Cyra berjalan bersisian dengan Ditya menuju halaman.


"Wokey, Sista! Kami berangkat sekarang, ya! Kamu hati-hati dirumah!" sahut Dimas.


"Iya!"


Cyra mengangguk.


"Aku berangkat, ya!" pamit Ditya untuk yang terakhir sebelum masuk mobil.


"Iya! Jangan lupa kasih kabar!" pinta Cyra melepas kepergian Ditya.


Gadis itu melambaikan tangannya hingga mobil yang membawa pergi sang suami dan sahabatnya menghilang dibelokan jalan.


Dia pun lantas masuk rumah dan langsung mengunci pintu dan jendela.


Mulai malam ini, dia akan tinggal sendirian dirumah.


***


Maaf, baru bisa up lagi! Dan itupun cuma sedikit.


Selama hampir sebulan ini, aku dan keluarga sedang bergantian diberi nikmat sakit. Aku sampai tidak punya waktu buat up.


Mohon maaf sekali jika sudah mengecewakan kalian semua para reader. Semoga kalian bisa memaklumi keadaan ini.


Bagi yang pernah minta cerita ini ditamatin saja, jangan khawatir! Cerita ini bakal aku tamatin, kok! Tapi, kapan waktunya belum tahu, hehe ...!😁😁. Doakan saja pas aku tamatin nanti, kalian puas menerimanya.


Hanya satu yang aku minta dari kalian. Jangan suka menuntut lebih jika kalian tidak tahu permasalahan direal life. Cerita ini aku buat dikala senggang saja. Namun, meski begitu bukan berarti aku lepas tanggung jawab. Hanya saja memang keadaan yang tidak memungkinkan untuk up.


Sekali lagi maaf! Thanks bagi yang selalu setia nungguin ceritaku.!

__ADS_1


__ADS_2