
Ditya keluar kamar Cyra dengan raut muka yang kecewa.
Dia pikir istrinya mau berkata jujur padanya, mau berkeluh kesah dengannya. Nyatanya, kehadirannya tidak berarti apa-apa bagi Cyra.
Hanya diawal-awal pernikahan mereka saja Cyra membutuhkannya. Itu pun karena tuntutannya yang menurutnya diluar batas kewajaran Ditya yang nota bene orang tak punya.
Tapi, belakangan gadisnya itu tidak lagi banyak menuntut. Dia bahkan cenderung pasrah dengan keadaan. Apapun dan seberapapun pemberiannya dia terima tanpa banyak protes.
Terlebih, diam-diam Cyra mencari uang tambahan sendiri dengan bekerja sebagai penyanyi karaoke ditempat Anita, tetangga kontrakan, yang bekerja disebuah tempat hiburan.
Saat mengetahui hal itu dari Dimas, hati Ditya langsung mendidih. Bukan hanya karena pekerjaannya yang dipandang buruk oleh sebagian masyarakat, tapi juga karena Cyra tidak minta ijin dan mendiskusikan dulu padanya yang pasalnya sudah menjadi imamnya, suaminya, meskipun masih sekedar suami siri.
Dan yang paling membuat Ditya benci adalah kemandirian Cyra. Dengan gadis itu bekerja sendiri untuk menghasilkan uang yang entah digunakan untuk apa, Ditya merasa diabaikan keberadaannya sebab Cyra tidak lagi bergantung padanya.
Lebih baik dia capai dituntut bekerja full day tapi merasa dibutuhkan daripada tidak sama sekali.
Karena pada dasarnya, seorang laki-laki adalah tulang punggung keluarga yang wajib menafkahi keluarga, jadi wajar jika dia banyak dituntut oleh anak istrinya untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan keluarganya.
Jujur, Ditya tidak ingin Cyra bisa hidup mandiri. Dia ingin sang istri selalu bergantung padanya, apapun keadaannya, sehingga dia merasa dihargai.
Ditya berlalu kekamarnya untuk mengambil handuk. Dia ingin keluar rumah mencari angin segar yang dapat mengembalikan moodnya yang tengah buruk.
Sekitar setengah jam kemudian, Ditya sudah siap dengan kaos oblong biru dongker yang dipadu padankan dengan celana gunung yang mempunyai banyak saku disisi kanan dan kiri celana tersebut.
Tidak lupa diambilnya jaket kulit usang kesayangannya serta tas ransel yang selalu menemani setiap kepergiannya bersama si Putih, vespa yang menjadi teman perjalanan hidupnya selama ini.
Dikeluarkannya si Putih dan dijalankannya vespa tersebut membelah pagi yang mulai beranjak siang.
Tak dihiraukannya panggilan Cyra dari arah jendela kamarnya yang terbuka yang menghadap kehalaman rumah. Hatinya masih kecewa dengan sikap sang istri.
Ditya yakin jika saat ini Cyra tengah menyembunyikan sesuatu yang besar, tapi dia sendiri tidak tahu apakah itu?
Bertanya pada Zizi?! Percuma! Gadis itu merupakan sahabat karib istrinya. Mana mungkin dia mau membocorkan rahasia besar sahabatnya?! Kecuali dia ingin berhianat. Tapi, Ditya rasa Zizi bukan orang yang seperti itu.
Ditya mengendarai vespanya kekontrakan lamanya, tempat sahabatnya, Dimas, berada.
Laki-laki itu sudah memberi kabar akan datang dan Dimas mengijinkan. Kebetulan sekali dia juga sedang libur bekerja.
"Hai, Bro! Kusut amat kayak cucian yang belum diseterika," tegur Dimas begitu Ditya sampai dikontrakannya.
__ADS_1
Ditya langsung menjatuhkan tubuhnya dikasur lepek milik sang sahabat tanpa mengomentari tegurannya. Dipejamkannya matanya.
"Woi, malah tidur! Memang kasur ditempat kamu kenapa? Banjir akibat Tsunami dan gempa lokal?!" ledek Dimas.
"Si*lan, kamu!" umpat Ditya.
"Kamu, kan tahu sendiri bagaimana hubunganku dengannya."
"Yah, kali saja. semalam habis buka segel, terus kalian kena gempa lokal dan banjir Tsunami, makanya kamu numpang istirahat disini karena saking basahnya kasur kalian. Hahaha ...!"
Dimas tergelak melihat raut wajah Ditya yang justru makin ditekuk.
Ditya melempar guling kucel milik Dimas saking kesalnya diledek seperti itu.
"Eitt, tidak kena!"
Dimas berhasil menghindar dari lemparan bantal gulingnya yang cukup keras saking usangnya.
"Serius, nih, sekarang! Sebenarnya kamu kenapa?" tanyanya menjatuhkan dirinya ditikar yang sebagiannya menjadi alas kasur.
"Huft!!"
Ditya menghela napas kasar.
"Hahh?! Kok, bisa??" teriak Dimas kaget.
"Bagaimana ceritanya kamu sampai dipecat?!"
"Ini semua bermula dari kejadian beberapa hari lalu."
Ditya pun akhirnya menceritakan insiden yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu.
"Pasti karena perempuan itu punya kuasa tinggi. Makanya dia minta manager buat mecat kamu," argumen Dimas setelah mendengar cerita Ditya.
"Tidak tahulah! Pusing aku! Belum lagi kata-kata Cyra tadi pagi juga bikin aku penasaran sekali."
Ditya akhirnya juga menceritakan tentang kata-kata Cyra tadi pagi yang membuat pikirannya dipenuhi tanda tanya.
"Lho, bukannya mamanya Cyra sudah meninggal saat tragedi dulu, ya?! Itu, kan yang diceritakan papanya Cyra pada kita saat itu?! Atau ... jangan-jangan mamanya Cyra selamat dari tragedi itu?! Bukannya dulu jazadnya tidak ditemukan. Iya, kan?! Dan Cyra sengaja menyembunyikan hal ini dari kalian?!"
__ADS_1
"Entahlah! Aku juga bingung, Bro!"
Dimas mengusap wajahnya kasar.
"Tahu, lah! Pusing! Aku numpang tidur dulu, ya!"
Tanpa menunggu persetujuan Dimas, Ditya kembali merebahkan tubuhnya dikasur sahabatnya.
Kepalanya yang memang masih sedikit pusing itu kini bertambah berat setelah menerka-nerka kata-kata Cyra tadi pagi.
Dipejamkannya matanya, berharap semua masalahnya bisa hilang dengan dibawa tidur.
Dimas pun ikut rebahan. Bedanya dia tidak ikut tidur, melainkan memainkan game yang adadiponselnya. Kebetulan Dimas baru bangun tidur satu jam sebelum kedatangan Ditya.
Sementara Ditya tidur dikontrakan Dimas, Cyra kini sedang bersama Zizi mengunjungi Rumah Surga, sesuai janji mereka beberapa hari lalu.
Sesuai janjinya, Zizi datang membawa baju-baju bekas pantas pakainya dan seisi rumah.
Gadis itu bercerita pada keluarganya jika dia ingin menyumbangkan baju-baju lamanya pada orang yang sedang membutuhkan.
Reaksi keluarga Zizi begitu baik. Mereka malah ikutan menyumbangkan baju-baju lama mereka. Bahkan, papanya Zizi memberikan sejumlah uang untuk membeli makanan.
Jadilah pagi ini Zizi datang dengan membawa banyak baju-baju bekas yang layak pakai dan juga makanan untuk dibagikan pada penghuni Rumah Surga yang kebanyakan dihuni oleh gelandangan dan pengemis serta anak terlantar. Hanya ada sekitar tujuh ODGJ yang tinggal disana, sebab, yang lain sudah dikirim ke RSJ atau diambil pulang oleh keluarga yang kebetulan menemukannya.
Salah satunya mamanya Cyra. Sebenarnya dokter yang mengurusnya sudah menyarankan agar segera dibawa ke RSJ.
Namun, Cyra menolak. Dia berpikir, jika mamanya dibawa ke RSJ, nanti akan timbul berita yang dapat merusak citra baik keluarganya, mengingat dulu mamanya cukup terkenal karena dia dulu adalah seorang aktifis yang mengelu-elukan tentang kebebasan dan hak perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.
"Bagaimana kondisi mamaku, Dok?"
Cyra menemui Dokter Hardi, salah satu aktifis dan penyumbang dana di Rumah Surga.
"Sejauh ini mamamu dalam kondisi stabil. Asalkan tidak melihatmu disakiti orang lain, sepertinya dia akan baik-baik saja. Sepertinya pikirannya masih belum mengingat siapa sebenarnya kamu, tapi batinnya merasa kamu pernah dekat dengannya dimasa lampau sehingga dia tidak akan terima jika ada kata-kata dan tindakan kasar yang ditujukan padamu. Terus jalin komunikasi lebih sering lagi."
"Emm, apa aku boleh membawa barang-barang yang berkaitan dengan masa lalunya?! Misalnya saja foto?!"
"Silakan coba saja! Tapi ingat, jangan terlalu dipaksakan. Kau boleh meneruskannya jika responnya positif dan segera hentikan jika hal itu justru menambah parah gangguan pikirnya."
"Baik, Dok, terima kasih atas waktu dan penjelasannya."
__ADS_1
Cyra pun pamit dari ruangan Dokter Hardi dengan wajah sedikit cerah.
Semoga saja pendekatannya kali ini membuahkan hasil yang bagus. Dan semoga saja barang yang dia bawa kali ini bisa membantu kesembuhan sang mama.