
Tok ...! Tok ...! Tok ...!
Cyra mengetuk pintu kamar Ditya.
"Kak, sudah waktunya makan malam! Aku sudah siapkan masakan. Kita makan dulu, yuk!" ujarnya dari luar pintu.
Satu detik ... Dua detik ...
Suasana didalam kamar Ditya tetap hening.
Cyra yang melihat pintu kamar tidak tertutup sempurna pun akhirnya memberanikan diri untuk masuk kekamar itu. Kamar yang sejauh ini tidak pernah dia masuki karena sebuah peraturan privasi yang harus dipatuhi.
Namun, kali ini Cyra mengesampingkan peraturan tersebut. Gadis itu ingin melihat keadaan suaminya yang tadi siang mengalami tragedi kecil.
"Kak!" panggilnya saat sudah berada diambang pintu.
Suasana kamar begitu gelap, sebab Ditya entah lupa atau memang sengaja tidak menghidupkan lampu kamarnya.
Cyra pun meraba-raba dinding kamar dekat pintu untuk mencari saklar lampu.
Cetak!!
Byaaarrr!
Suasana kamar begitu terang saat gadis itu berhasil menemukan dan menghidupkan saklar.
Tampak oleh Cyra suasana kamar yang bernuansa putih. Hanya satu sisi tembok saja yang berwarna hitam putih garis-garis yang berada tepat dibelakang kepala ranjang.
Disebelah ranjang tampak satu meja nakas yang menyatu dengan cermin rias kecil. Sedang satu lemari dua pintu terletak di sisi dinding yang sama dengan pintu.
Ruang kamar Ditya yang hanya berukuran tiga setengah kali tiga meter itu tampak rapi dan bersih. Bahkan, lebih rapi dari kamar Cyra yang notabene seorang gadis, yang seharusnya jauh lebih rajin darinya yang seorang laki-laki.
"Kak!"
Sekali lagi Cyra memanggil Ditya yang terlihat masih tidur diranjang berukuran seratus empat puluh tersebut, masih dengan baju yang dipakai tadi siang.
Perlahan Cyra mendekati ranjang dan duduk ditepiannya.
Dipandanginya wajah Ditya yang mulai terlihat merah kehitaman akibat siraman air kopi panas tadi siang.
'Pasti rasanya sakit dan panas perih sekali,' batin Cyra kasihan.
Tanpa disadarinya tangan kanannya diulurkan untuk menyentuh wajah sang suami sirinya.
"Eugh ...!"
Ditya melenguh saat jemari tangan Cyra meraba pipinya yang terasa terbakar.
"Ssshht ..., jangan disentuh! Perih, Ra!" cicit Ditya.
__ADS_1
"Eh, maaf!"
Cyra pun langsung menarik tangannya dari wajah Ditya.
Entah sejak kapan laki-laki itu bangun. Fokusnya hanya pada pipi yang sudah disalepinya tadi sore.
Ditya bangun dari tidurnya dan duduk bersandar dikepala ranjang.
"Pasti sakit sekali, ya?!" tanya Cyra menatap Ditya yang tampak meringis kembali.
"Iya, panas perih!" sahut Ditya.
"Kita ke dokter saja, yuk! Biar luka Kak Ditya dapat penanganan khusus."
"Tidak mau! Diolesi salep yang dari kamu saja."
Ditya menggelengkan kepalanya tanda menolak.
"Tapi, Kak! Lukanya makin terlihat melepuh dan menghitam. Takutnya nanti makin parah," ujar Cyra khawatir.
"Pokoknya aku nggak mau ke dokter! Dikasih salep lagi pasti besok juga sembuh," keukeuh Ditya.
"Terserah Kakak saja, lah!"
Akhirnya Cyra mengalah.
"Sudah waktunya makan malam. Makan dulu, yuk! Tadi aku sudah masak."
Sesampainya dimeja makan, dilihatnya ada sepiring tumis buncis yang dicampur dengan orak-arik telur serta sepiring tahu goreng. Dari tampilannya sih lumayan bagus. Tidak ada yang gosong dalam masakan itu. Tidak seperti masakan Cyra sebelum-sebelumnya.
"Maaf, aku hanya masak ini!" ucap Cyra.
Tangan gadis itu sibuk menyiapkan makanan kepiring dan disodorkan dihadapan Ditya yang duduk mengamati.
Hati Ditya sedikit menghangat mendapat perhatian dari istri barbarnya tersebut.
Ternyata, meskipun barbar, dia juga bisa bersikap manis.
"Makasih! Ini juga sudah cukup, kok! Dan ... kelihatannya enak."
Ditya pun menyuapkan satu sendok nasi beserta tumis buncis yang dicampur telor orak-arik dan tahu goreng.
Dikunyahnya perlahan makanan dalam mulutnya untuk dirasanya.
Cyra melihatnya dengan cemas.
"Gimana, apakah bisa dimakan?!" tanyanya takut-takut.
Sudah lama dia tidak lagi memasak sejak kejadian telur gosong yang hampir membuat dapurnya kebakaran karena ditinggal main ponsel waktu itu.
__ADS_1
Semenjak itu, Ditya melarangnya memasak. Dia hanya menyuruh Cyra bersih-bersih rumah dan mencuci serta setrika baju saja.
"Heemm, kamu serius ini masakan kamu?!"
"I-iya, Kak!"
"Ini enak, Ra! Belajar masak sama siapa kamu?!"
Ditya kembali menyuapkan satu sendok penuh nasi dan lauknya.
Laki-laki itu tidak mengira Cyra sekarang sudah bisa memasak.
"Kakak serius?! Kamu lagi nggak bercanda, kan?!"
"Serius, Ra! Ini enak banget. Kamu coba, deh!"
Ditya menyuapkan makanan kemulut Cyra menggunakan bekas sendoknya.
Cyra ragu-ragu membuka mulutnya.
"Kenapa? Nggak mau sendok bekas aku?! Ya, udah, kamu ambil sendiri makanannya dan kamu rasain."
Ditya hendak menyuapkan sendok kembali kemulutnya, namun buru-buru Cyra mencegahnya.
"Eh, tunggu! Iya, aku cobain!"
Cyra lantas membuka mulutnya lebar-lebar dan mengarahkan tangan Ditya yang berisi sendok kemulutnya.
"Iya, lumayan! Aku nggak ngira masakanku akan seperti ini. kupikir bakal keasinan lagi," ujarnya dengan mulut menggembung penuh makanan.
"Kamu kursus masak dimana?" tanya Ditya diantara suapannya.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi mereka makan sepiring berdua dengan sendok yang sama. Duh, romantis sekali!
"Aku cuma lihat di aplikasi g**gle aja, kok!"
"Memangnya tadi kamu nggak cobain masakan kamu?!"
"Enggak!"
Cyra menggeleng.
"Takut nggak enak, jadi malas nyicipin."
"Tapi ini beneran enak! Mulai besok, kamu boleh masak lagi."
Ditya memberi kesempatan pada sang istri untuk memasak lagi kedepannya.
"Baiklah!"
__ADS_1
Malam itu suasana ruang makan terasa hangat dengan adanya sepasang suami istri yang menikmati makan malam sepiring berdua diselingi obrolan ringan. Kadang keduanya tertawa bersama, entah apa lagi yang mereka bincangkan, Authornya tidur lebih dulu jadi tidak mendengarnya lagi.