Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Bahagia dan Duka


__ADS_3

Cyra turun dari ojeg dengan tangan penuh kantong-kantong kresek berisi belanjaan.


Keningnya berkerut heran.


Pasalnya, didapatinya si Putih, vespa kesayangannya Ditya, sudah terparkir rapi di teras rumah kontrakan mereka. Padahal, sekarang masih jam tiga sore. Dan tadi pagi Ditya bilang akan langsung ke cafe sehabis ke kampus.


Ceklek!!


"Aku pulang!" teriak Cyra seperti biasanya.


Meski ada maupun tidak ada orang, gadis itu selalu berteriak.


"Berisikk!!" omel Ditya yang ternyata sedang rebahan di sofa panjang di ruang tamu.


Tangan kanannya dia gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Kok, Kak Ditya sudah pulang?! Bukannya tadi pagi bilang mau langsung ke cafe?!"


Cyra meletakkan kantong-kantong kresek yang ditentengnya di atas meja.


Diselonjorkannya kedua kakinya ke atas meja di samping kantong belanjaan.


Puk!


Ditya menepuk keras salah satu tungkai Cyra dengan keras.


"Auww!!"


Cyra mengaduh dan mengelus kakinya yang lumayan sakit karena tepukan Ditya. Lebih tepatnya kaget, sih.


"Kak Ditya apaan, sih, sakit, tahu?!" dumalnya.


"Turunkan kakinya! Tidak sopan!" perintah Ditya tegas.


"Ckk, sebentar doang! Capek, tahu nggak, jalan muter-muter di pasar nyari pesanan kamu," cebuk Cyra.


Kakinya masih saja berselonjor di meja meski sudah diperingatkan.


Ditya yang melihat hal itu dari balik tangannya yang menutupi wajah sontak terbangun.


"Turunin!! Dibilangin bandel banget kamu, Ra!"


Tanpa aba-aba, Ditya langsung menarik kaki istrinya agar turun dari meja.


"Iihh, pelan-pelan, dong!"


Cyra tidak terima kakinya diturunkan dengan paksa.


Dipukulinya tangan Ditya yang hendak menurunkan kakinya dari meja.


"Turun, nggak!" ancam Ditya.


Cyra masih saja cuek dengan ancaman suaminya.


Justru dia menaikkan lagi satu kakinya yang masih menyentuh lantai.


"Ciciiii!!!"

__ADS_1


Cyra langsung menurunkan kakinya dengan cepat.


Dia tidak mau kena semprot lebih banyak lagi, apalagi sang suami sudah memanggilnya dengan sebutan yang paling dia benci.


"Iya, iya, aku turunin," ujarnya cepat.


"Sebentar doang nggak boleh," gumamnya sebal.


"Apa kamu bilang?! Nggak sopan, tahu?! Kamu, tuh jadi cewek nggak ada manis-manisnya, ya."


"Ya wajar, lah nggak ada manis-manisnya, orang aku bukan tebu yang mengandung cairan gula."


"Ciciii!!"


Ditya melotot lebar.


"Iyaaa, bawel amat jadi laki!" sungut Cyra.


"Udah, jangan marah-marah lagi nanti tambah pusing! Kamu lagi pusing, kan?!" tebaknya.


"Huftt!!"


Ditya menghela napas berat.


Raut wajahnya langsung murung seketika.


"Kak, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, lho!"


"Pertanyaan yang mana?!"


Ditya melirik sang istri yang kini sudah pindah duduk di sampingnya.


Cyra mengulurkan tangannya hendak mengecek suhu dikening Ditya, namun laki-laki itu menepis tangan Cyra yang hampir saja menyentuh kening.


"Tidak! Aku baik-baik saja!" jawabnya lirih.


Namun, meskipun barbar, Cyra adalah orang yang sensitif.


Gadis itu tahu betul jika saat ini Ditya sedang tidak baik-baik saja.


"Kak, jujurlah! Apa ada masalah?!"


Ditya hanya menggeleng pelan.


"Kak!"


"Hemhh!!"


"Katakan, ada apa?"


Ditya menatap istrinya sesaat. Haruskah dia berkata jujur?!


"Apa sidang skripsimu gagal??"


Cyra menebak-nebak.


Ditya menggeleng.

__ADS_1


"Aku lulus!"


"Wah, selamat, Kak! Sebentar lagi kau bakal jadi sarjana."


Cyra mengguncang pundak Ditya memberi selamat saking senangnya.


"Terima kasih!"


Cyra mengangguk.


"Lalu, apa yang membuatmu sedih?!"


Dipandanginya wajah suaminya yang sempat bersinar tadi, tapi kini meredup lagi.


"Aku ..."


"Ya?!"


Cyra berusaha sabar menunggu jawaban Ditya, meski sebenarnta dia sangat penasaran.


"Tadi aku ke cafe, tapi,"


"Tapi kenapa? Ada masalah?!"


Cyra kini tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya.


"Aku dipanggil manager dan ... aku dipecat!" ucapnya lirih.


"Hahh?! Dipecat?! Kau serius??"


Cyra terlonjak kaget.


"Kakak serius?!"


Cyra tidak menyangka jika hari ini akan menerima kabar bahagia dan duka secara bersamaan.


Bahagia karena akhirnya suaminya lulus skripsi meski pada awalnya sempat tertunda, mun, dia juga harus mendapat kabar duka karena Ditya dipecat dari pekerjaannya.


Dipecat?!


Bagaimana nanti dengan kehidupan mereka kedepannya?!


Bagaimana juga dengan pengobatan sang mama yang baru setengah jalan?!


Mungkinkah dia harus diam-diam bekerja kembali?!


Cyra galau sekarang. Otaknya tidak bisa berpikir jernih.


"Ra!"panggil Ditya membuyarkan lamunannya.


"Eh, ya, Kak!" jawabnya tergagap.


"Kamu kenapa?"


"Eh, eng-nggak apa-apa! Aku cumu sedang berpikir, bagaimana kalau kita minta bantuan saja pada Kak Fian, siapa tahu dia bisa membantu kita," jawab Cyra berusaha menutupi kebenarannya.


"Tidak!"

__ADS_1


Ditya menolak keras dengan jawaban ketusnya hingga membuat Cyra terlonjak.


***


__ADS_2