
"Kamu yakin itu dia?! Jangan asal nuduh kamu," ujar Ditya.
Saat ini Ditya sedang berada disebuah taman kecil di samping cafe tempat Ditya bekerja menemui orang yang tadi mencarinya.
"Kamu nggak percaya sama aku, Kak?!"
Orang itu terlihat sedikit emosi karena dituduh asal bicara.
"Yaa, aku nggak mau aja kamu asal nuduh tanpa bukti," kilah Ditya.
"Ok! Aku tunjukin buktinya. Nih, lihat!!"
Orang itu menyerahkan ponsel miliknya pada Ditya agar laki-laki itu bisa melihat video yang dia buat.
Rahang Ditya mengeras. Dikepalkannya tangannya sekencang mungkin menahan marah melihat video didepannya.
Rupanya peringatan yang sudah dia berikan pada orang dalam video itu tidak digubrisnya.
"Baiklah, aku percaya padamu! Terima kasih sudah memberitahukan hal ini padaku," ucap Ditya.
Nada bicara yang awalnya keras dan marah kini melunak.
"Sama-sama! Tapi, aku minta padamu, mohon jangan beritahu dia kalau aku yang sudah memberitahumu hal ini!"
Orang itu memohon. Tidak lama setelah itu dia pamit.
"Baik!"
Ditya pun melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam cafe dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tangannya terus saja bekerja mengelap meja yang baru saja dipakai pelanggan. Namun, pikirannya hanya fokus pada video yang tadi sempat ditontonnya.
Ditya tidak habis pikir, sebenarnya apa yang sudah dilakukan orang dalam video tersebut ditempat seperti itu?!
***
Rara langsung masuk ke tempat karaoke yang sudah seminggu ini dia datangi.
Matanya celingak-celinguk mencari-cari seseorang.
"Lu cari siapa?"
Seseorang mengejutkannya dari belakang.
__ADS_1
"Eh, Bang Seno! Kaget aku, Bang!"
Rara mengelus dadanya kaget.
"Emm, Bang Seno lihat Mbak Nita, nggak?!" tanyanya.
"Oh, lu cari si Nita, toh. Dia udah cabut barusan. Ada urusan mendadak katanya," jawab orang bernama Seno tersebut.
"Yaah, telat, kan. Padahal udah buru-buru banget," gumam Rara kecewa.
"Emang ada apaan, sih, lu nyariin dia?!"
Bang Seno berjalan menuju meja kasir tempatnya bekerja. Selain sebagai pemilik tempat hiburan tersebut, Seno juga bekerja sebagai kasir jika karyawan kasirnya ijin atau cuti.
Seperti halnya hari ini. Nita yang sudah bekerja ditempatnya selama dua tahun itu hari ini ijin tidak masuk kerja karena harus jenguk ibunya yang sakit.
"Oh, itu, anu ... ."
Rara gelagapan, tidak tahu harus bilang apa.
"Itu, anu apa? Itunya siapa , anynya kenapa?!" canda Seno sedikit vulgar.
Biasalah! Orang-orang bekerja dan datang ke tempat hiburan begitu biasanya orang-orang yang lumayan 'nakal'.
"Sebenarnya, Rara lagi butuh pinjaman sama Mbak Nita, Bang! Kemaring Rara udah ngomong ke dia. Dia bilang aku mesti kesini aak siangan biar bisa ketemu sama dia. Katanya dia mau ada urusan, makanya aku disuruh datang lebih cepat," terangnya.
"Iya, Bang! Nungguin ojolnya lama tadi. Ya udah, deh, Bang! Aku pulang dulu, ya!" pamit Rara akhirnya.
"Eit, tunggu dulu! Buru-buru amat, sih, lu!"
Seno membuka laci kasir dan mengambil beberapa uang dan menghitungnya.
"Ya, kan tujuannya cuma mau ketemu Mbak Nita. Berhubung dianya nggak ada, ya, udah aku pulang!"
Rara sudah berjalan menuju pintu. Sebelum dia memegang handle pintu, Seno kembali menghentikan langkahnya.
"Rara!" panggilnya sedikit berteriak.
"Ya, Bang!"
Rara menoleh pada Seno dengan tangan memegang handle pintu.
"Sini dulu bentar!" suruh Seno.
__ADS_1
Rara pun berbalik kembali menuju meja kasir tempat Seno duduk saat ini.
"Ini titipan dari Nita! Tadi dia kasih pesan ke gue, katanya lu lagi butuh duit, ya?!"
"Eh, iya, Bang!"
"Ni, coba lu hitung lagi. Siapa tahu tadi gue kurang ngitungnya."
Rara mengambil uang dari tangan Seno dan menghitungnya ulang.
"Pas, Bang, dua juta! Makasih, banyak ya, Bang!"
Rara pun memasukkan uangnya kesaku jaket yang dikenakannya.
"Buat apaan, sih, lu uang sebanyak itu?! Baru elu tahu, nggak, yang berani ngutang segitu banyak padahal gawe baru seminggu," celetuk Seno.
"Hehe ...! Maaf, Bang! Lagi kepepet banget soalnya," sahut Rara nyengir.
"Kalau bukan Nita jaminannya, ogah gue ngutangin elu!"
Nada Seno dibuat galak. Tapi Rara justru tertawa mendengarnya.
"Haha ...! Aku tahu Abang sama Mbak Nita, tuh orangnya baik."
"Bisa aja, lu ngerayu!" timpal Seno tersenyum.
"Bay the way, thanks, Bang! Aku pulang dulu, ya," pamit Rara.
"Gak gawe, lu?!"
"Kan, hari ini aku libur, Abaaang!!"
Nada Rara sedikit mendayu.
"Oh, iya gue lupa!"
"Ya uah, Bang! Daaahh ...!!"
Rara pun pergi meninggalkan tempat itu dengan hati senang. Kekecewaan dan kesedihan yang tadi tia tampakkan kini hilang berganti senyum cerah diwajahnya. Apalagi, dikantongnya kini ada uang dua juta yang sudah dia janjikan pada seseorang.
Sementara Seno hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bocah berseragam putih abu-abu yang tertutupi jaket jeansnya itu yang sedikit berjingkrak begitu dia memberikannya uang pinjaman.
Nita memang sudah memberitahunya kalau Rara akan meminjam uang sebesar dua juta buat nolongin temannya yang sedang sakit lumayan parah, katanya.
__ADS_1
Jaminannya adalah gaji Nita jika sampai Rara tidak bisa mengembalikannya sesuai perjanjian.
Sebenarnya, tanpa jaminan dari Nita pun Seno mau memberikannya pinjaman, mengingat cara kerja gadis SMA tersebut yang mampu menarik banyak pelanggan hanya dengan suara merdunya setiap dia nyanyi untuk menghibur pelanggan. Padahal, gadis akhir tujuh belas tahun itu baru bekerja seminggu ditempat hiburannya.