Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Kabar Mengejutkan dari Cyra


__ADS_3

Sesampainya disekolah, Cyra langsung mencari Zizi. Gadis itu ingin membuat perhitungan dengannya. Gara-gara Zizi, dirinya jadi kena marah, bahkan kena tampar papanya.


"Hei, Wan! Lihat Zizi, nggak?" tanya Cyra pada Wawan, teman sekelasnya.


"Nggak, tuh! Belum datang, kali?!"


Wawan mengendikkan bahunya tanda tak tahu. Cowok itu kembali asyik dengan permainan diponselnya.


"Ck! Kemana, sih, tuh anak?! Awas aja, ya, kalau ketemu," gumam Cyra berdecak kesal.


Cyra pun keluar kelas dan berjalan menuju perpustakaan, barangkali saja Zizi ada disana. Namun, setibanya Cyra diperpustakaan, Zizi tidak juga menampakkan batang hidungnya.


Cyra pun meninggalkan tempat itu kembali menuju kelas. Belum juga sampai dikelas, ekor matanya menangkap siluet Zizi tengah duduk bersama Mona dibangku taman dekat kantin.


Cyra tertegun sejenak. Keningnya mengernyit heran. Sejak kapan Zizi dekat dengan Mona?!


"Zi!" panggil Cyra setelah sampai didekat Zizi dan Mona.


"Eh, Cyra! Ada apa?" tanya balik Zizi.


Gadis itu memberi kode pada Mona agar cewek itu meninggalkan dirinya dan Cyra.


"Eh, Zi, aku balik ke kelas dulu, ya," pamit Mona kemudian.


"Yuk, Ra!"


Mona juga pamit pada Cyra dan membuat gadis itu makin heran dengan kelakuan Mona. Tumben-tumbenan, tuh anak tidak cari masalah dengannya?!


Ah, bodo amatlah! Cyra kembali ingat tujuan sebenarnya menemui Zizi.


"Zi, aku mau ngomong sama kamu, penting!"


"Eh, mau ngomong apa? Penting?! Soal apa?!"


Zizi terlihat gugup, namun berusaha bersikap setenang mungkin.


"Kamu kapan menemui papaku?!" tanya Cyra to the point.


"Eh, mak-maksud kamu apa?!"


"Kamu nggak usah ngeles, deh! Kamu udah nemuin papa aku dan cerita kalau aku punya utang sama kamu, kan?!" tembak Cyra.


"Ng-nggak, kok!" jawab Zizi bohong.


"Nggak usah bohong, deh, Zi! Kemarin aku dimarahin Papa gara-gara kamu ngadu soal utang aku ke kamu, tahu?!" bentak Cyra gusar.

__ADS_1


"Oh, bagus, deh kalau Om Bayu sampai marahin kamu. Biar kamu tahu rasa. Salah siapa kamu mangkir dari janji kamu?!"


Zizi tak kalah gusarnya.


Gadis itu terpaksa memberitahukan perihal hutang Cyra pada Pak Bayu karena Cyra selalu berdalih ini itu saat ditagih. Padahal, uang itu mau dia gunakan untuk membeli ponsel baru incarannya.


"Ya, kamu tahu, kan uang itu aku pakai buat betulin mobil. Dan, aku nggak mungkin minta jatah ke papa lagi karena jatah bulan ini sudah aku habiskan," kilah Cyra.


"Heh, betulin mobil kamu bilang?!"


Zizi tersenyum sinis.


"Mobil yang mana? Punya siapa?! Nggak usah bohong, deh, Ra! Aku tahu, kok mobil kamu itu tidak kenapa-kenapa. Dan kamu bukannya lagi dapat hukuman dari papa kamu, tapi kamu memang sudah tidak dibolehkan lagi membawa mobil, bahkan semua fasilitas dari papa kamu sudah dicabut, kan?!"


Zizi memberondong Cyra dengan banyak pertanyaan.


" Dan kamu sudah tidak tinggal dirumah papa kamu lagi, tapi ..."


Zizi mendekatkan wajahnya ke telinga Cyra dan berbisik:


"Sekarang kamu tinggal dirumah kontrakan sederhana, tinggal berdua dengan seorang cowok, kan?!"


Cyra membelalak kaget mendengar penuturan Zizi yang tidak pernah dia sangka-sangka.


Cyra memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang.


Wajahnya langsung terlihat pucat pasi.


"Kok, kamu gugup gitu? Jadi, benar kamu sudah tidak tinggal lagi dirumah orangtuamu dan tinggal dikontrakan sederhana dengan seorang cowok?!" cecar Zizi.


"Kamu tahu darimana? Jangan asal ngomong, Zi!"


Cyra menjatuhkan tubuhnya dibangku bekas Mona duduk tadi.


Dahinya berkeringat, padahal hari masih pagi dan matahari belum sepanas saat siang hari yang mampu mengeluarkan keringat sebanyak itu.


"Eh, kamu kenapa, Ra?! Kamu sakit?! Kok, muka kamu pucet dan keringetan gitu?!"


Zizi terlihat cemas melihat keadaan sahabatnya itu.


"Maaf, ya, Ra! Tadi aku nggak ada maksud sinis ke kamu. Habisnya kamu marah-marah, sih jadi aku emosi."


Zizi meminta maaf.


"Ak-aku belum sarapan. Tadi buru-buru berangkat mau ketemu kamu," jawab Cyra jujur.

__ADS_1


Cyra memang sengaja melewatkan acara sarapan paginya karena ingin buru-buru menemui Zizi.


Tapi bukan itu yang membuat Cyra pucat dan berkeringat, melainkan ucapan Zizi barusan yang membuatnya shock.


"Aku juga minta maaf, ya! Nggak seharusnya aku marah-marah ke kamu," ucapnya menyesal.


"Ya, udah, kita ke kantin, yuk! Mumpung masih belum masuk kelas," ajak Zizi kasihan.


"Nggak, Zi! Aku nggak apa-apa, kok!" tolak Cyra.


"Tapi muka kamu pucet banget, lho, Ra!"


"Beneran, Zi, aku nggak apa-apa! Nanti aku bakal sarapan, kok, tapi nggak sekarang. Sekarang aku mau tanya serius sama kamu. Kamu tahu darimana soal yang tadi??"


Cyra menggenggam jemari Zizi meminta penjelasan.


"Se, sebenarnya papa kamu yang cerita waktu aku nemuin beliau buat ngasih tahu soal utang kamu ke aku. Waktu itu aku bener-bener lagi butuh duit banget buat beli ponsel baru. Kamu tahu, kan ponsel aku rusak dan aku lagi ngincer merk baru??! Nah, kebetulan hari itu hari terakhir promo, jadi aku terpaksa meminta Om Bayu buat ngelunasin utang kamu. Nah, pas aku tanya kenapa kamu nggak pernah naik mobil lagi ke sekolah, dan kenapa kamu sampai berhutang segitu banyaknya ke aku, papa kamu bilang kamu sudah tidak mendapat fasilitas itu lagi. Pas aku tanya apa alasannya, Om Bayu nggak jawab. Beliau cuma bilang biar kamu mandiri. Udah, cuma itu doang, kok!" terang Zizi.


"Terus, soal aku tinggal dikontrakan sama cowok, kamu tahu dari siapa?!"


"Oh, kalau soal itu, sebenarnya barusan Mona yang ngadu ke aku. Awalnya aku nggak mau nanggepin dia. Yaa, kamu tahu, lah siapa Mona. Tukang gosip! Mana mungkin aku percaya sama dia?! Tapi, pas dia ngirim ini ke aku, aku jadi penasaran. Emang bener, ya yang dikatakan Mona kalau kamu ..."


Zizi memperlihatkan video dimana Cyra sedang keluar dari kontrakan bersama Ditya dan berangkat berboncengan naik si Putih yang tumben-tumbenan hari ini jalannya cepat. Padahal, biasanya lamban sekali seperti siput sawah.


"Mona bilang, dia sudah beberapa kali mergokin kamu dirumah itu dan selalu keluar bareng sama tuh cowok."


Memang sudah sejak seminggu yang lalu Cyra selalu meminta diantar Ditya ke sekolah. Alasannya biar dia bisa menghemat uang. Yang awalnya buat ongkos taksi online, sekarang bisa dia pakai untuk beli bensin si Putih.


"Ra! Kok, diam?! Beneran apa enggak soal yang Mona barusan ngomong ke aku?!"


Belum juga Cyra menjawab, bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring pagi itu.


Kriiingg!!


"Ra! Jawab dulu, dong!"


Zizi menarik tangan Cyra saat gadis itu hendak pergi ke kelas tanpa menjawab pertanyaannya.


"Eee, itu ... . Sebenarnya, yang Mona bilang ke kamu itu semuanya benar!" jawab Cyra lirih.


"Whatt?? Seriusan kamu?!"


Cyra mengangguk pelan.


"Baiklah! Berhubung sekarang sudah bel masuk, aku anggap kamu punya utang penjelasan ke aku. Nanti, sepulang sekolah aku ikut pulang ke kontrakan kamu untuk dengar penjelasan darimu, ok?!"

__ADS_1


Zizi pun terpaksa menunda pembicaraan karena deringan bel tanda masuk kelas. Dia harus bersabar hingga pulang sekolah, menunggu penjelasan dari Cyra mengenai kabar mengejutkan yang baru saja didengarnya dari Mona si biang gosip, juga dari Cyra, sahabatnya.


__ADS_2