
"Aaakhh ...!!"
Terdengar teriakan dari salah satu kamar dilantai atas kediaman Purnama.
"Ngapain kamu tidur disini?! Pergi kamu!!" usir Cyra pada Ditya yang tengah bergelung dibawah selimut tebal diatas ranjang Cyra.
"Hei!! Banguuunn!!" teriak Cyra ditelinga Ditya yang langsung terlonjak kaget.
"Aiisshh ..., gak perlu teriak-teriak juga aku dengar," gerutu Ditya menggosok telinganya yang pengang.
"Ada apaan, sih?! Ganggu orang tidur aja," gerutu Ditya sambil membetulkan selimut, kembali tenggelam dibawahnya.
"Heh, bangun!"
Cyra menarik tangan Ditya untuk segera bangun dari ranjangnya.
"Enak aja tidur diranjangku. Pergi, wush ... wush ...!!" usirnya lagi.
Ditya pun terpaksa bangun dan turun dari ranjang. Didudukkannya tubuhnya disofa single disudut kamar.
"Semalam hujan disertai petir menyambar. Makanya aku yang tadinya tidur dilantai pindah keranjang, takut tersambar petir," jelas Ditya.
Ya. Ditya terbangun pada pukul satu dini hari tadi sebab mendengar bunyi petir bersahutan. Hujan mengucur deras membuat hawa dingin menyeruak masuk kedalam kamar.
Alhasil, kamar yang tadinya dingin oleh pendingin ruangan itu bertambah dingin akibat hujannderas diluar.
Ditya yang mulai merasa kedinginan pun langsung pindah keranjang Cyra yang lumayan besar dan masuk kedalam selimut. Dia tidak terpikirkan mematikan pendingin dan menggantinya ke mode hangat.
Karena merasa ngantuk dan lelah, akhirnya Ditya pun kembali pulas disebelah Cyra apalagi setelah berada dibawah selimut yang membuatnya nyaman dan hangat.
"Cy!" panggil Ditya.
Cyra yang hendak menuju kamar mandi pun urung.
"Kamu bilang barusan?!"
"Cy!" ulang Ditya.
"Cy, cy, emangnya aku cici meong apa?! Sesukanya aja manggil orang," sungut Cyra sebal.
Gadis itu paling tidak suka kalau ada orang yang memanggilnya Cycy. Karena pasti ujung-ujungnya dia akan disamakan dengan nama kucing tetangga sebelah yang suka nyelonong masuk rumah dan nyuri ikan didapur yang hendak dimasak Bi Inah.
"Hmm ... bagus juga ide kamu. Cycy Meong, nama yang pas buat gadis badung kayak kamu," gumam Ditya tersenyum mengejek.
"Whaatt?!" Cyra melotot.
"Nggak usah melotot begitu, aku colok mata kamu baru tahu rasa."
Ditya bangun dari duduknya dan berjalan masuk kekamar mandi gadis itu untuk membersihkan diri.
Lima belas menit kemudian, dia keluar dengan wajah yang sudah segar. Ditya hanya mencuci mukanya saja, tidak mandi, sebab dia tidak bawa baju ganti dari kost-kostan.
__ADS_1
Ditya mendekati Cyra yang sedang asyik memainkan ponselnya diranjang.
"Cy!" panggilnya.
Cyra masih asyik dengan chatnya sehingga tidak mendengar panggilan Ditya.
"Cy!" panggilnya sekali lagi.
"Apaan, sih?! Sudah dibilangin jangan panggil aku Cycy, juga," dumalnya.
Dilemparkannya ponselnya diranjang sebelah dia duduk.
"Apaan?!" tanyanya judes.
Kedua tangannya dilipat didepan dada.
" Mulai sekarang, kamu adalah istriku. Jadi, bersikaplah yang baik dan sopan pada suamimu. Meskipun aku sendiri tidak menginginkan pernikahan seperti ini," Ujar Ditya menjatuhkan diri keranjang, duduk didepan istri kecilnya.
"Kamu pikir aku mau apa nikah sama kamu?! Ogah!! Kalau bukan karena paksaan dari Papa, aku nggak bakalan mau nikah sama kamu," ujar Cyra sewot.
"Mulai sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Apapun yang terjadi nanti, jangan lagi membebani papamu. Cukup selama ini kamu membebaninya."
Ditya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum memutar kenop pintu, laki-laki itu berbalik.
"Hari ini aku mau pulang ke kostan. Terserah kamu mau ikut atau tetap disini," ujarnya kemudian.
"Kalau mau pulang, mah pulang aja. Ngapain pakai kasih tahu segala. Yang pastinya aku nggak mau pulang sama kamu," sahut Cyra lalu masuk kekamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
Ditya pun melakukan hal yang sama. Dia pun keluar dan menutup pintu kamar Cyra. Hanya bedanya Ditya menutupnya dengan pelan.
"Yah, lumayan, Mas!" jawab Ditya tersenyum.
" Pantesan semalam kita nggak dengar suara orang minta tolong, ya, Yang. Semalam diluar hujan badai. Harusnya dikamar sebelah juga ada gempa, kan?!"
Kinanti mencubit lengan suaminya yang sedikit frontal.
"Aww ..., sakit, tahu, Yang!" rintih Alfian mengusap lengannya yang sakit akibat cubitan istrinya.
"Nggak usah didengerin ucapan Kakak Ipar kamu. Otaknya kadang suka gesrek dia," ujar Kinanti.
"Tapi iya juga, sih. Biasanya kalau ada pengantin baru, apalagi kalau malamnya ada hujan badai, biasanya dikamar pengantin itu suka ada gempa lokal dan ada orang yang teriak sebab ketimpa benda berat yang bikin orang itu memar-memar. Hehe ...!" sambung Kinanti nyengir.
"Hahaha ...! Kamu bisa aja, Yang. Gara-gara nikah sama aku, tuh pasti. Otakmu jadi ikutan gesrek," komentar Alfian.
"Hahaha ...!"
Sepasang suami istri itu pun berjalan meninggalkan Ditya yang kini mukanya merah padam mendengar olok-olok dari kedua kakak iparnya.
***
"Kau yakin tidak mau tinggal disini?!" Pak Bayu pada Ditya.
__ADS_1
Saat ini mereka semua sedang sarapan dimeja makan.
"Yakin, Pak! Saya akan tetap pulang kekostan. Terserah Cyra mau ikut saya ke kostan atau tetap disini dengan Bapak. Saya tidak akan memaksa. Saya justru tidak yakin jika Cyra ikut dengan saya, sebab ...," jawabnya menggantung sambil melirik Cyra.
"Sebab apa?!" tanya Alfian penasaran.
"Sebab Cyra sudah terbiasa hidup nyaman. Saya tidak yakin dia bisa hidup susah bersama saya, Mas," jawab Ditya.
" Bagaimana menurutmu, Ra?"
Kali ini Kinanti yang bertanya.
"Aku ...,"
Cyra bingung harus jawab apa, membuat yang lain penasaran.
Ditya pun penasaran dengan jawaban Cyra. Dalam hati dia berharap Cyra akan menjawab tetap tinggal dengan keluarganya.
Sebab, jika dia tetap tinggal dirumah, maka Ditya tidak perlu mengontrak rumah. Dia bisa tetap tinggal dikostan seperti biasanya. Dan itu akan mengurangi biaya pengeluarannya.
Jika dia yang harus tinggal disini, dia sungkan kalau semua hal ditanggung mertuanya. Walau bagaimanapun dia masih punya rasa malu dan ... sedikit gengsi.
"Aku akan tetap tinggal," jawab Cyra lirih.
"Tidak!" sergah Pak Bayu cepat.
"Kamu sudah menikah sekarang. Sudah sepatutnya kamu ikut kemanapun suamimu pergi. Aku sudah lepas tanggung jawabku sekarang. Kini kamu tanggung jawab suamimu. Dimanapun, kemanapun dan apapun yang terjadi, mau susah atau senang kau harus ikut dan hidup dengannya," terang Pak Bayu.
"Justru dengan kamu tidak memilih tinggal disini, Papa sangat hargai keputusanmu. Dengan begitu kalian bisa latihan hidup mandiri."
Pak Bayu menatap Ditya dan mengangguk setuju.
"Tapi, Pa," protes Cyra.
"Kalau Kak Fian dan Kak Kinan saja boleh tinggal disini, kenapa aku tidak?! Ini nggak adil!"
"Kakakmu anak laki-laki yang akan memikul tanggung jawab terhadap kehidupan Papa. Sementara kamu sudah jadi tanggung jawab suami kamu sejak kalian menikah. Jadi, terserah suami kamu. Kalau dia setuju tinggal disini, ya silakan! Papa senang kalian mau berkumpul disini. Tapi, kalau dia memutuskan untuk tinggal dikostan, ya itu berarti kamu yang harus ikut dia. Semua keputusan ada ditangan suamimu."
"Kau benar-benar yakin tidak mau tinggal disini?!" tanya Pak Bayu memastikan.
"Yakin, Pak!" jawab Ditya mantap.
"Jangan panggil Bapak lagi. Kau sudah menjadi anakku, sekarang. Panggil Papa saja sama seperti yang lain."
"Baik, Pak, eh, maksudku, Papa!"
"Baik! Kalau begitu, bawalah Cyra bersamamu. Dia tanggung jawabmu sekarang. Hanya pesan papa, didiklah dia selayaknya istri pada umumnya. Sayangi dia seperti Papa menyayanginya."
"Baik, Pa! Jiika Papa sudah mengikhlaskan putrimu hidup sederhana denganku," ujar Ditya.
"Maaf, jika mungkin kedepannya aku tidak bisa membahagiakan Cyra seperti Papa serta Mas dan Mbak membahagiakan dia selama ini."
__ADS_1
"Aku tidak mau ikut dia, Pa!" Aku mau tetap disini sama Papa dan Kak Fian. Aku nggak mau pergi," protes Cyra seraya bangkit meninggalkan sarapannya yang belum habis.
***