Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Pesan yang Terlewat


__ADS_3

Minggu ini giliran Ditya yang kena jadwal beberes rumah dan masak.


Pagi-pagi sekali Ditya sudah berkutat dengan perkakas dapur. Dan pagi ini dia membuat menu nasi goreng sosis untuk sarapan.


Selesai memasak dan mencuci bekas peralatan dapur, Ditya menuju ke belakang untuk mencuci. Berhubung sudah ada mesin cuci, dia bisa mencuci sambil menyapu serta mengepel lantai, sementara mesin cuci berputar merontokkan daki yang menempel dipakaian yang sedang dicucinya.


Kira-kira dua jam lamanya Ditya beraktifitas, semua pekerjaan rumah pun sudah rapi.


"Ok, semua sudah beres! Sekarang tinggal aku mandi, terus sarapan, sudah gitu berangkat ke cafe," gumamnya pada diri sendiri.


Ditya pun menyambar handuk ditempat jemuran kemudian bergegas ke kamar mandi sebelun keduluan sama si Cici Meong.


Dua puluh menit kemudian, dia sudah rapi dengan kemeja putih baru dipadukan dengan celana bahan warna hitam.


Masih ingat tragedi kemeja putih yang kelunturan saat Cyra mencucinya beberapa hari lalu?!


Ditya akhirnya membeli kemeja baru karena kemeja yang kelunturan tidak bisa dihilangkan nodanya.


Ditya mencoba merendamnya dengan pemuti, namun yang ada kemejanya makin blontang-blanteng( B.Jawa-read- belang-belang) tidak karuan.


Sementara dasi kupu-kupunya sengaja dia simpan dalam saku. Rencananya akan dia pakai jika sudah tiba di cafe.


Ya. Hari ini adalah hari ulang tahun cafe tempatnya bekerja yang berdiri lima tahun lalu.


Meskipun terbilang cafe baru, tapi berkat sentuhan tangan Ditya, suasana cafe jadi sedikit berbeda dari cafe-cafe yang lain.


Tempat itu juga sering dipesan untuk acara-acara khusus yang kebanyakan oleh kaum muda milenial.


Ditengoknya jam dipergelangan kirinya. Pukul setengah tujuh pagi.


"Mana itu si Cici, sudah jam segini belum bangun. Ck, dasar bocah pemalas!"


Ditya mendumal sendiri.

__ADS_1


Diketuknya pintu kamar Cyra tiga kali. Masih tetap belum ada tanda-tanda kehidupan didalamnya.


Dibukanya pintu yang kebetulan tidak dikunci.


Ceklekk!


Pintu pun terbuka. Ditya melongokkan kepalanya kedalam kamar.


Dilihatnya Cyra masih bergelung dihangatnya selimut.


"Hai, bangun, pemalas!!"


Ditya menarik selimut yang digunakan untuk membungkus tubuh Cyra.


Bukannya terbangun, gadis itu justru menarik kembali selimut yang baru saja ditarik Ditya.


"Hmm, nanti, Yung! Lima menit lagi. Masih ngantuk, nih," gumamnya masih dengan mata terpejam.


"Whatt?!"


Memangnya dia mimpi apa, sih sampai-sampai dia mengira masih tinggal dirumah papanya?!


"Whatever, lah! Aku sudah bangunin kamu ini. Nanti kalau kamu marah-marah dikira aku nggak ngebangunin, awas!!" desis Ditya sambil keluar dari kamar Cyra.


Ditya jadi emosi sendiri.


Semalam Cyra sudah memintanya untuk dibangunkan jam enam pagi. Ada acara lomba-lomba di sekolah dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 tahun. Dan Cyra menjadi salah satu panitia lomba tersebut.


Ditya sudah menggedor-gedor pintu kamarnya berulang kali. Hingga pada akhirnya Ditya pun menerobos masuk ke kamar gadis itu untuk membangunkannya. Padahal, menurut perjanjian, antara keduanya dilarang memasuki area privacy mereka, yaitu kamar.


Akhirnya Ditya meninggalkan rumah, berangkat menuju cafe setelah meninggalkan catatan yang ditempelkan didepan pintu kamar Cyra.


Suara bising terdengar dari dalam kamar Cyra. Sambil terus memejamkan matanya, gadis itu meraba-raba meja nakas samping ranjang untuk mengambil ponselnya yang terus terdengar jeritannya membuyarkan impian sang gadis.

__ADS_1


"Hallo!"


Cyra menjawab panggilan dengan suara serak ciri khas bangun tidur.


" Kamu dimana?? Kenapa belum berangkat, sih?!"


Terdengar suara Zizi, tenan sebangku yang juga satu.panitia dengan Cyra.


"Dirumah, lah, dimana lagi? Memang kita mau berangkat kemana, sih?!"


"Whatt? Masih dirumah? Kamu baru bangun tidur?? Ya, ampun, Cyraaa!!" teriak Zizi membuat Cyra sontak menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Kamu lupa, hari ini hari apa? Hari ini sekolah kita ngadain lomba-lomba. Dan kamu jadi panitianya. Gimana, sih?!" gerutu Zizi gemerutuk.


Bikin tensi memang punya teman satu ini.


"Hah?!"


Cyra yang tadinya hampir menidurkan diri lagi pun terbangun.


"Oh, my God!! I'm very forget it! Ok, aku berangkat sekarang."


"Buruan! Jangan lupa mandi!" putus Zizi.


Setelah itu sambungan telpon pun putus.


Cyra menengok jam diponselnya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Gadis itu pun berlari kekamar mandi dengan terburu-buru.


"Kok, Kak Ditya nggak ngebangunin aku, sih?! Jadinya telat, kan?! Huh!!"


Cyra bersungut-sungut sambil mandi.


Sepuluh menit kemudian gadis itu sudah terlihat rapi meski rambutnya yang sebahu dibiarkan basah. Mana sempat dia ngeringin rambut pakai hair dryer. Sabunan saja kilat.

__ADS_1


Cyra pun menyetop taksi yang kebetulan lewat depan rumahnya, menuju ke sekolah.


Tak dihiraukannya panggilan dari Ditya di ponselnya yang terus berdering. Gadis itu juga melewatkan pesan dari Ditya yang ditulis dan ditempel di depan pintu saking terburu-buru.


__ADS_2