Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Kelelawarnya yang Cari Jambu, Bukan Jambunya yang Cari kelelawar


__ADS_3

Demi menebus rasa bersalahnya karena telat pulang tadi malam, hari ini Cyra memutuskan pulang cepat.


Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Cyra lantas bergegas keluar kelas.


"Eh, Ra, tunggu!" teriak Zizi yang masih sibuk memasukkan alat tulisnya.


"Buruan! Aku harus langsung pulang! Hari ini jadwalku nginem,Zi!"


Meski sedang buru-buru, Cyra masih setia menunggu sang sahabat.


"Gimana, semalam Kak Ditya marah, nggak sama kamu?!"


Zizi segera mensejajarkan langkahnya setelah tadi sempat berlari mengejar ketertinggalannya.


" Sempat marah, sih, tapi tadi pagi udah baikan, kok! Dia juga minta maaf ke aku karena semalam sempat bentak aku," ujar Cyra.


"Syukur, deh! Aku takutnya kamu dimarahin lagi."


"Tadinya mau marah, sih. Tapi, pas aku jelasin alasan kenapa kita sampai pulang telat, dia langsung diam. Ya, udah aku buru-buru masuk kamar. Takutnya dia marah lagi. Hehe ...!" cengir Cyra.


"Terus, tadi pagi kamu berangkat naik apa?!"


Sejak pagi Zizi belum sempat ngobrol, sebab mereka sibuk nyontek tugas rumah pada temannya karena semalam keduanya sama-sama lupa mengerjakan PR meraka.


"Habis telpon kamu, aku langsung berangkat bareng Kak Ditya. Lumayan, lah ngirit sepuluh ribu buat naik angkot."


"Sekarang kamu enjoy, y naik angkot?!"


"Ya, gimana lagi, terpaksa! Demi dapat uang buat beli obat."


Zizi langsung paham dengan kata 'beli obat' yang Cyra maksud.


Ya, Cyra harus membeli obat untuk berobat mamanya agar cepat sembuh.


Berhubung sekarang sudah tidak bekerja lagi, Cyra harus benar-benar ngirit uang saku yang diberikan Ditya setiap harinya.


Uang saku itu dia kumpulkan untuk menebus obat-obatan yang diperlukan sang mama.

__ADS_1


Meski tanpa dia menebusnya pun, obat bakal tetap diberikan karena komunitasnya sudah menjamin. Hanya saja Cyra tidak mau terlalu membebani komunitasnya.


Sebisa mungkin dia akan membantu penyembuhan sang mama dengan uangnya sendiri sehingga uang yang seharusnya jadi jatah mamanya itu bisa untuk keperluan lainnya.


Awalnya memang sangat berat bagi Cyra.


Dia yang terbiasa hidup mewah dan berhura-hura, kini sebisa mungkin harus menahan diri untuk tidak jajan terlalu sering demi uang sakunya lekas terkumpul.


Kadang-kadang Cyra juga terpaksa membawa bekal. Beruntung dia punya sahabat baik seperti Zizi.


Gadis itu selalu membantunya dalam setiap kesulitan, bahkan sering mentraktirnya jajan sampai-sampai Cyra merasa malu sendiri.


"Pulang bareng aku saja, ya!" tawar Zizi.


Kini mereka sudah berada didepan sekolah. Keduanya sedang menunggu kendaraan yang akan membawa mereka pulang.


Bedanya, tadi Zizi sudah memesan taksi online, sementara Cyra menunggu angkutan umun berwarna biru muda yang trayeknya melewati jalan depan kontrakannya.


"Nggak, deh, makasih! Aku naik angkot aja! Aku harus mampir ke pasar dulu belanja sayuran buat persediaan beberapa hari ke depan."


Tadi pagi selepas sarapan, Ditya membelinya uang belanja untuk kebutuhan makan seminggu kedepan.


Sebenarnya jika tidak sedang ditunggu ponakan dirumah, Zizi mau-mau saja menemani Cyra belanja seperti biasanya.


Sayangnya sang pinakan masih dirumah dan suka rewel kalau tantenya tidak pulang-pulang.


Tidak berselang lama setelah kepergian taksi o line yang membawa Zizi pergi, angkot yang ditunggunya pun lewat.


Cyra langsung naik setelah menyetopnya dengan melambaikan tangan.


"Pasar, ya, Pak!" ujar Cyra begitu pasar tradisional yang buka sampai sore itu tinggal dua ratus meter lagi didepan.


"Baik, Neng!"


Si Supir mengangguk.


"Cantik-cantik, kok mau kepasar, sih, Neng?!" ledek si Abang kernet yang umurnya seumuran suaminya.

__ADS_1


"Terpaksa, Bang! Daripada nggak makan," sahut Cyra tersenyum.


"Kan, bisa pesan onlen, Neng! jaman sekarang, kan gitu! Apa-apa tinggal pesan dari hape, ujug-ujug pesanan sampai depan pintu kamar," sambung si Abang kernet.


"Kata siapa, Bang, diantar sampai depan kamar?! Abang sok tahu, ah!"


"Benar, Neng!" timpal ibu-ibu yang juga hendak turun dipasar.


"Anak majikan Ibu contohnya. Dia pesan baju onlen, trus dikirim ke rumah. Nah, dari pintu rumah saja minta Ibu yang antar ke depan kamar."


"Haha ...! Iya, kan, Neng saya nggak salah tadi?!"


Si Abang kernet merasa senang jawabannya dibenarkan ibu-ibu pembantu rumah tangga tersebut.


Cyra pikir dia bukan pembantu, lha wong dandanannya sudah kayak majikan saja.


"Iya juga, sih! Ada yang suka seperti itu."


Cyra jadi ingat, dulu sewaktu masih tinggal dirumah besar, dia suka begitu saat membeli barang lewat pesan online.


Saat pengantar barang datang, biyungnya yang menerima dipintu rumah. Dan biyungnya juga yang ngantar sampai depan kamar, malah terkadang sampai dalam kamar.


"Jaman sudah banyak berubah. Dulu, jika mau atau butuh sesuatu kita yang harus pergi membeli ke penjual. Tapi, sekarang kebalik. Justru penjualnya yang datang ke pembeli. Hadeuh!!"


Si Abang kernet geleng-geleng kepala.


"Iya, betul, Bang! Ibarat kampret(kelelawar), tuh, kampretnya yang nyari jambu, bukan jambunya yang nyari kampret. Nggak kayak sekarang ini, makanannya yang nyari-nyari alamat yang mau makan," kelakar si ibu-ibu tadi.


Sontak yang ada didalam angkot yang sejak tadi hanya jadi pendengar pun tertawa.


"Haha ...!"


Bisa saja, nih si ibu-ibu.


***


Ngomong-ngomong soal jambu, jadi ingat dikulkas kayaknya masih ada jambu.

__ADS_1


Nyari dulu, ah biar kaya kampret yang nyari jambu.


Eh, eh, terus aku sama kayak kampret, gitu?!😂😂


__ADS_2