
"Kamu?!"
"Kak Ditya?!"
ucap keduanya secara bersamaan.
"Kamu ngapain disini? Sama siapa?!" tanya Ditya menyelidik.
"Mau makanlah! Aku kesini diajak Zizi. Tuh, dia baru dari toilet!"
Cyra menunjuk Zizi yang baru keluar dari toilet.
Cyra berusaha menutupi kegugupannya dengan bersikap sedikit nyolot.
"Oh, hai, Kak Ditya!" sapa Zizi begitu kembali ke meja.
"Aku sengaja ngajakin dia buat makan siang di sini! Kebetulan banget, nih Kakak yang layanin. Hehe ...!" cengirnya.
"Kalian mau makan apa?"
Akhirnya Ditya pun menanyakan pesanan dua sahabat itu.
Meskipun dalam hatinya dia masih ada sedikit tanda tanya. Untuk apa Zizi mengajak istrinya makan disini?!
"Emm, aku pesan nasi sama cumi pedas manis, terus aku juga mau ayam bakar bumbu Bali. Untuk minumnya es alpukat aja."
"Kamu mau pesan apa?"
Ditya beralih menatap Cyra.
"Emm, aku udang asam manis sama sphagetti tawar aja. Minumnya es jeruk. Udah, itu aja.!"
Ditya langsung mengernyitkan kening saat Cyra menyebutkan pesanannya.
"Mana ada sphagetti tawar dibuku menu?! Yang ada juga sphagetti bolognese dan carbonara," tukas Ditya.
"Tapi aku maunya yang tawar. Kalau nggak bisa ya, udah nggak usah!"
__ADS_1
"Huft!!"
Ditya menghembus napas kasar.
"Ok! Aku coba tanya ke bagian dapur, bisa apa nggak. Kalau tetap nggak bisa, mau ganti menu apa?"
Ditya berusaha sabar menghadapi kemauan sang istri.
"Kalau nggak bisa, nggak usah! Nggak jadi pesan!" keukeuh Cyra.
"Jangan gitu, dong, Ra! Jangan persulit Kak Ditya, dong!" nasihat Zizi.
Gadis itu jadi merasa tidak enak karena sudah menyusahkan Ditya.
Sengaja mengajak Cyra makan dicafe tempat Ditya bekerja agar dia tahu pekerjaan suaminya, tapi Cyra malah bertingkah.
"Ya, udah! Ditunggu!"
Ditya akhirnya pergi meninggalkan meja Cyra dan Zizi dengan perasaan sedikit dongkol.
"Kamu, kok, gitu, Ra! Kasihan, kan suami kamu," dengus Zizi.
"Iya! Pembeli adalah Raja. Tapi nggak kayak kamu juga, kali. Kamu, tuh Raja yang nyebelin," dumal Zizi.
"Kok, malah jadi kamu yang nyolot, sih?! Orang Ditya-nya aja nggak apa-apa, kok."
"Itu karena dia ngehargai kamu bukan cuma sebagai pembeli, tapi juga sebagai istrinya. Dia cuma mau nyenangin hati kamu aja."
"Kenapa kamu jadi ngebelain dia terus, sih?! Atau ... jangan-jangan, kamu suka lagi sama Ditya?!" tuduh Cyra seenaknya.
"Eh!! Siapa bilang?! Ngaco kamu!"
Zizi tidak terima dengan tuduhan sahabatnya itu.
"Lah, itu dari tadi kamu belain dia terus. Apa namanya coba kalau bukan su ...,"
"Kalian kenapa, sih dari tadi berdebat terus. Kalian nggak sadar sudah mengganggu ketenangan pelanggan lain?!"
__ADS_1
Belum juga Cyra menyelesaikan kalimatnya, Ditya mendatangi meja kedua ABG putih abu-abu itu.
Cyra dan Zizi sontak menghentikan perdebatan, saat dilihatnya hampir semua mata melihat kearah mereka dengan pandangan tajam menusuk karena merasa terganggu.
"Eh, maaf!" cicit Zizi pada semua orang.
Sedangkan Cyra hanya mengangguk dan meringis malu.
"Makanya, kalau mau berdebat itu lihat sikon. Nggak semua tempat itu bisa dijadikan untuk debat. Kalau mau debat, sana digedung DPR! Itu pun bukan debat nggak guna kayak kalian ini. Dialogin, tuh masalah negara yang sedang menghadapi wabah kecoa yang nggak kelar-kelar! Gimana cara ngatasi dan ngilanginnya biar negara aman."
Ditya pun meletakkan pesanan kedua gadis didepannya sambil nyerocos.
"Ah, Kak Ditya bisa aja! Kalau mau wabah ini cepat teratasi dan selesai, nggak usah diberita-beritain terus, dong! Biar masyarakatnya nggak berpikiran negatif terus sama tuh, coro. Nah, kalau udah nggak ada beritanya, kita bisa bebas gerak kemana aja. Aku yakin, si coro bakal pergi dengan sendirinya. Kenapa, karena dia merasa udah nggak ditakuti lagi. Haha ...!" kelakar Zizi.
"Hust! Jangan asal ngomong kamu, Zi!"
"Ups! Sorry, Kak! Bercanda doang juga."
Zizi langsung menutup mulutnya dengan tangan kiri.
"Nih pesanan kamu, Ra! Sphagetti tawar sama udang asam manis. Untung kokinya mau bikinkan."
Ditya menyorongkan piring sphagetti pesanan istrinya ke depannya.
"Lagian, emang apa enaknya makan makanan tawar begitu?!" celetuk Zizi.
Cyra tidak menggubris Zizi maupun Ditya.
Dia justru asyik menuangkan udang asam manis yang penuh bumbu ke dalam piring Sphagetti lalu mengaduknya dengan garpu.
"Emm, enak, kok!" ujar Cyra begitu satu suapan sphagetti masuk kemulutnya.
Zizi dan Ditya pun melongo dibuatnya dengan kelakuan Cyra yang aneh menurut mereka.
"Ada-ada aja kamu, Ra!" ujar Zizi.
"Dasar aneh!" gumam Ditya.
__ADS_1
"Ini bukannya aneh, tapi cerdas! Kita bisa makan makanan dengan sesuai keinginan, meski di buku menu tidak ada."
Cyra kembali menyuapkan sphagetti dan udang asam manis kemulutnya tanpa mengindahkan tatapan aneh kedua orang didepannya yang masih melongo. Terlihat sekali jika dia sangat menikmati makanannya.