
Ditya duduk terkulai dikursi teras. Dia merasa begitu shock setelah mendengar penuturan Fani yang diangguki oleh Cindy.
"Jadi, Tante adalah mama kandungnya Cyra?!"
Cindy mengangguk.
"Tapi, setahuku mamanya Cyra itu sudah ..., maaf, meninggal karena tenggelam beberapa tahun lalu. Itu yang diceritakan Cyra padaku waktu itu."
Ditya seolah masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan Fani barusan.
"Memang betul! Dulu, saya pernah tenggelam dilaut saat usia Cyra masih 15 tahun. Tapi, saya selamat meski dengan kondisi mengenaskan. Tidak ada yang mau menolongku yang berpenampilan acak-acakan seperti orang gila. Hingga saya merasa benar-benar gila saking frustasi dengan keadaan diri saya saat itu. Entah kenapa, saya suka berteriak dan bicara sendiri. Meski dalam hati kecil saya selalu menyangkal jika saya itu gila. berhari-hari saya luntang lantung dijalanan tanpa belas kasih orang, hingga akhirnya petugas razia GEPENG dan ODGJ menangkap saya dan membawanya ke penampungan. Saya semakin stress karena harus tinggal dengan orang-orang itu. Saya jadi sering melamun, kadang ikutan berteriak dan menangis. Bukan karena saya gila, bukan! Karena saya sulit meyakinkan petugas razia jika saya tidak gila. Namun, mereka tetap menganggap saya gila dan memperlakukan saya sama dengan mereka yang benar-benar gila. Hingga akhirnya saya berhasil kabur dari penampungan dan bertemu dengan anak-anak punk itu."
Sejenak, Cindy menerawang kemasa-masa dia ditemukan oleh anak-anak punk dan dibawa ke Rumah Surga.
"Anak-anak punk itu memperlakukan saya jauh lebih baik dan lebih manusiawi daripada petugas penampungan meski tampilan mereka menakutkan. Di Rumah Surga, mereka merawat saya dengan telaten. Bahkan, mereka mendatangkan dokter untuk memeriksa saya. Sebenarnya saya selalu ingat apa yang saya lakukan. Tapi, saya juga tidak dapat menahan diri saat stress mulai datang. Akhirnya saya melampiaskannya dengan berteriak dan menangis. Kadang juga melamun seharian penuh."
Cindy berhenti cerita dengan napas sedikit tersengal.
Diambilnya gelas yang disodorkan Fani padanya dan menenggaknya hingga tandas.
"Hingga pada suatu saat aku melihat putriku datang ke Rumah Surga. Tapi, aku takut mendekatinya. Aku takut dia tidak mau menerima keadaanku yang seperti orang gila. Atau memang saya sudah gila??! Hihi ... !"
Cindy terkikik sendiri.
"Putriku mulai berusaha mendekatiku setiap datang kesana. Hanya saja saya berusaha menghindar. Saya takut jika putriku akan malu mempunyai mama yang kondisinya mengenaskan seperti itu. Dia juga sempat memperlihatkan foto keluarga saat kami liburan ke pantai dulu, foto yang diambil sesaat sebelum saya terseret ombak dan tenggelam. Saat itu saya langsung berteriak histeris karena saya benci dengan kejadian itu. Karena kejadian itu yang membuat saya dicap sebagai orang gila sehingga saya benar-benar merasa gila."
"Bu, ceritanya cukup sampai disini dulu, ya! Besok dilanjut lagi. Sekarang sebaiknya Ibu beristirahat saja dikamar," bujuk Fani manakala nada cerita Cindy sudah berapi-api dan matanya mulai memerah.
Fani takutnya Cindy akan kembali stress jika mengingat semua yang dialaminya selama ini.
"Tidak apa-apa! Ibu baik-baik saja, Fani!"
"Tapi, Bu,"
"Tidak apa-apa!" keukeuh Cindy.
"Saya justru merasa lega menceritakannya sekarang. Meskipun dia orang baru bagiku, tapi saya merasa dia orang baik."
Cindy menunjuk Ditya yang duduk di seberangnya.
"Ternyata Putriku benar-benar menyayangiku. Segala upaya dia lakukan agar saya cepat sembuh. Berkat kegigihannya dan Zizi, temannya, saya merasa optimis untuk sembuh. Akhirnya saya diam saja saat para dokter memeriksaku sampai diijinkan boleh pulang."
__ADS_1
"Sudah berapa lama Ibu tinggal disini?!" tanya Ditya yang sedari tadi diam mendengarkan.
"Sudah satu minggu!"
"Satu minggu??" tanya Ditya kaget.
'Sudah satu minggu tapi Cyra tidak menceritakan apa-apa padaku. Boro-boro cerita soal mamanya sedari awal?!' gumamnya dalam hati.
"Iya! Awalnya Ibu juga heran kenapa dia justru mengajak Ibu tinggal disini dan bukan membawaku pulang kerumah besar. Tapi, Cyra bilang menunggu saat yang tepat. Jadi, sementara kami tinggal disini."
Cindy terlihat kecewa saat mengatakan hal tersebut.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu siapa? Kenapa seolah kamu kaget saat mengetahui ada kami disini? Atau ... kamu pasti pemilik kontrakan ini, ya?! Soalnya dia bilang mengontrak rumah dari temannya. Kamu temannya Cyra, kan?!" cecar Cindy sambil memindai tubuh Ditya.
"E, itu, iya!"
Ditya terpaksa berbohong.
Paling tidak sampai Cyra mau berkata jujur alasan kenapa dia menyembunyikan hubungan mereka pada ibunya.
"Lalu, kenapa kau membawa ransel besar sekali? Memangnya selama ini tinggal dimana?"
"Aku bekerja di Semarang, Bu! Baru dua bulan ini. Dan sekarang pulang kesini. Maaf, jika sebelumnya mengagetkan kalian. Kupikir Cyra tinggal sendiri, jadi aku bisa pulang kesini dan menempati kamar yang satunya tanpa memberitahunya lebih dulu."
Ketiga orang yang sedang duduk diteras itu tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hanya Fani yang tangannya sibuk mengetik huruf dilayar ponselnya dan mengirimkannya pada seseorang disertai beberapa pesan audio.
Rupanya diam-diam Fani merekam setiap kata yang diceritakan Cindy pada Ditya.
Fani sebenarnya heran dengan sikap mamanya Cyra tersebut.
Baru pertama kali bertemu dengan orang asing, tapi dengan mudah dan lancarnya dia bercerita tentang kehidupan yang dialaminya selama tiga tahun terakhir. Padahal, sejauh ini hampir semua orang yang ditunjuk untuk membujuknya agar mau cerita selalu mengalami kegagalan. Bahkan, pada Cyra yang notabene anaknya sendiri pun sangat sulit terbuka.
Lamunan ketiganya terputus dengan kedatangan sebuah mobil yang berhenti dihalaman rumah dan tampak dua gadis berseragam putih abu-abu yang turun dari mobil.
Cyra memasuki teras sambil tersenyum merekah, meninggalkan Zizi yang sedang mengambil sesuatu dimobil dijok belakang.
"Mamaaa!!"
Cyra langsung menghambur memeluk sang ibu dengan perasaan sayang.
__ADS_1
"Kok, Mama ada disini, sih?! Bukannya harus banyak istirahat dikamar."
"Hm!"
Cindy tersenyum simpul.
"Tadinya mau jalan-jalan, tapi tidak jadi karena ada ..."
Fani menunjuk seseorang yang dibelakangi Cyra.
Keduanya belum menyadari adanya Ditya yang duduk bersandar pada kursi yang menempel pada tiang teras.
Dari arah halaman memang tidak terlihat, sebab terhalang tiang.
"Baru pulang, Ra?!"
Deg!
Cyra merasa mengenali suara yang baru saja menyapanya.
Mungkinkah??
Dengan perlahan, Cyra memutar tubuhnya melihat kearah sumber suara.
Matanya seketika membulat penuh begitu dilihatnya sosok yang ada didepannya kini.
"Ka-kamu?! Eh, K-kak Ditya?!" tunjuknya dengan mulut sedikit menganga saking terkejutnya.
"Iya! Kenapa, kaget?!" jawab Ditya berusaha santai.
Padahal, dalam dadanya tengah bergemuruh. Ada rasa kesal, marah, kecewa dan rindu jadi satu yang menggunung dan siap meledak, tapi berusaha ditahannya sekuat mungkin.
"Kapan sampai? Kok, tidak kasih kabar?!"
Cyra berusaha santai meskipun dia juga merasakan hal yang hampir sama. Bedanya, dia merasa takut akan ledakan kemarahan sang suami karena selama ini dia sudah membohonginya.
"Dua jam yang lalu, cukup untuk mendengarkan cerita ibumu."
"Maaf, aku tidak memberitahumu soal ini. Tapi, aku bisa jelasin, kok!" ujar Cyra lirih.
"Oh, tidak!!" gumam Zizi yang baru datang dengan membawa kantong kresek.
__ADS_1
Bahkan, kantong itu jatuh ke lantai saking kagetnya gadis itu melihat kehadiran Ditya.
"Semoga tidak terjadi ledakan hebat," gumamnya lagi.