
Pov Cyra
Disinilah aku sekarang. Disebuah kost yang hanya berukuran empat kali lima meter tempat dimana Ditya yang notabene sekarang menjadi suamiku itu tinggal.
Kamar yang luasnya bahkan lebih kecil dari kamarku yang berukuran enam kali enam meter persegi itu.
Ya. Setelah perdebatan panjang dimeja makan tadi pagi, akhirnya aku kalah. Aku terpaksa mengikuti Ditya yang ngotot tetap ingin tinggal dikostan ini. Apalagi papa seakan senang jika aku ikut pergi dari rumah.
Karena ini hari pertamaku tinggal dikostan dan bingung harus berbuat apa setelah ditinggalkannya beberapa menit yang lalu, akhirnya kuputuskan untuk merebahkan tubuhku dikasur milik Ditya yang tanpa ranjang.
Meskipun kasurnya cukup tebal, namun tetap saja rasanya kurang nyaman bagiku yang selama ini selalu tidur diranjang Queen size dengan kasur yang empuk, serta bantal dari bulu angsa yang lembut.
Pandangan mataku nanar menatap langit-langit kamar yang terlihat kelam dengan warna cat yang mulai pudar.
Mungkin seperti itulah gambaran hidupku saat ini.
Sejak insidenku dengan Andin beberapa waktu lalu, aku dikeluarkan dari sekolah.
Papa murka padaku. Bahkan semua fasilitas yang aku gunakan selama ini dicabutnya tanpa kecuali. Aku dikurung dalam kamar selama satu minggu.
Begitu hukumanku berakhir, aku yang waktu itu sudah merasa sangat bosan langsung pergi dari rumah menuju cafe Kak Fian, tempat biasa aku nongkrong.
__ADS_1
Entah itu karma untukku atau apa, aku tak tahu. Yang jelas, saat aku sedang asyik nongkrong dicafe, sebuah insiden terjadi lagi.
Seorang cowok mendekatiku dan merayuku. Aku berusaha menghindar namun cowok itu justru semakin menggangguku. Bahkan, cowok itu mulai berani menyentuh tubuhku.
Dari mulutnya tercium aroma menyengat yang aku yakini sebagai alkohol. Tubuhnya pun sedikit sempoyongan saat merayuku.
Aku berteriak minta tolong, namun semua orang tak ada yang berani menolongku karena laki-laki itu mengancam akan semakin menyakitiku.
Tiba-tiba dari arah belakangnya muncul sosok cowok lain yang langsung mencoba menolongku.
Perkelahian pun tak dapat terhindarkan. Kedua cowok itu terlibat baku hantam. Saat cowok yang berusaha menolongku itu berusaha menolongku, cowok yang menggangguku justru memukulnya dari belakang hingga cowok yang hendak membantuku itu terhuyung dan jatuh kearahku.
Aku yang tidak bisa menjaga keseimbangan pun langsung terjatuh bersama cowok itu berada tepat diatasku.
Raut mukanya sangat menakutkan. Aku yakin beliau tengah menahan amarahnya yang menggelegak. Terlihat dari kepalan tangannya dikedua sisi tubuhnya.
Dari kejadian itulah kini aku berstatus sebagai istrinya sekarang.
Padahal, sebelumnya papa akhirnya tahu jika cowok yang menindihku sebenarnya hendak menolongku.
Meskipun begitu, papa tetap bersikeras menikahkan kami meski kami sudah menolak.
__ADS_1
Ternyata ini memang rencananya agar aku lepas dari tanggung jawabnya yang menurutnya membebaninya itu.
Bahkan papa pun menyuruhku untuk mengikuti kemanapun suamiku pergi.
"Hufft!!"
Kembali kuhempaskan napas kasar sebagai pelampiasan kekesalan dan kekecewaanku pada papa. Tapi aku bisa apa? Baginya aku sudah terlalu banyak membuat masalah, si trouble maker.
Kepalaku berdenyut memikirkan akan nasibku yang entah akan seperti apa kedepannya?!
Kupejamkan mataku berharap dengan begitu sakit kepalaku hilang. Kucoba melupakan dan berusaha berdamai dengan keadaan meskipun sepertinya akan sulit bagiku.
Semakin lama kurasakan sakit kepalaku pun mulai berkurang, seiring kesadaranku juga menurun. Dan pada akhirnya aku tertidur.
Entah berapa jam aku tertidur. Aku baru sadar dari tidurku saat samar-samar terdengar suara gaduh disekitarku. Kubuka mataku perlahan untuk mengetahui kegaduhan apa yang terjadi.
Begitu mataku membuka sempurna, kulihat Ditya tampak sedang membuka kantong belanjaan dan menaruhnya di kulkas kecil disudut kamar dekat pintu kamar mandi yang juga terdapat kompor gas disana.
"Kau sudah bangun? Mandilah! Ini sudah hampir maghrib. Setelah itu kita makan," ujarnya saat melihatku terbangun.
Ditya tadi langsung pergi entah kemana begitu mengantarkanku ke kostan ini. Aku juga enggan untuk bertanya.
__ADS_1
Karena merasa perutku sudah sangat lapar, akupun mengikuti perintahnya untuk segera pergi mandi.
Aku sudah tidak sabar ingin makan begitu dia menyebutkan kata 'makan' barusan.