
Cyra merebahkan tubuhnya disofa ruang tamu rumah kontrakannya masih dengan seragam sekolahnya. Hanya sepatu dan tasnya saja yang dia lepas dan dibiarkan tergeletak berserakan di lantai.
Perutnya terasa begah karena sudah menghabiskan satu gelas besar es jeruk dan satu piring penuh sphagetti yang dicampur udang bumbu asam manis dicafe tempat Ditya bekerja.
Ingatannya kembali cafe beberapa saat yang lalu.
Flashback on
Setelah mengantar pesanan Cyra dan Zizi, Ditya pun pamit undur diri untuk kembali bekerja.
Kondisi cafe yang tadinya cukup sepi kembali ramai pengunjung yang kebanyakan anak kuliahan yang baru pulang dari kampus.
Cyra memperhatikan Ditya yang tampak mondar-mandir melayani para pengunjung. Sesekali Laki-laki itu mengelap wajahnya dengan lengan kaos seragam cafe yang dikenakannya.
Wajah lelahnya berusaha tetap tersenyum ramah meski ada satu orang pelanggan yang memakinya karena dianggap tidak becus bekerja.
Pasalnya, pelanggan itu hendak berdiri dari tempatnya duduk. Namun, tubuhnya berbenturan dengan Ditya yang kebetulan sedang lewat disampingnya.
Sebenarnya, pelanggan itu yang salah karena bangun tanpa melihat kiri kanan. Tapi, sudah menjadi rahasia umum bahwa pembeli adalah raja. Meskipun salah, tetap saja raja yang berkuasa.
Akhirnya terjadilah keributan yang berakhir dengan Ditya disiram menggunakan kopi panas yang masih mengepul oleh pelanggan itu yang berlalu tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Cyra dan Zizi yang menyaksikan kejadian tersebut pun merasa kasihan. Terlebih Cyra, yang notabene istrinya.
Meskipun masih belum ada rasa cinta yang hadir diantara keduanya, namun rasa kasihan muncul dihati Cyra.
Dia pun berlari menghampiri Ditya yang sedang berusaha mengibaskan nampan yang dipegangnya berharap bisa mengurangi rasa panas terbakar diwajahnya akibat siraman kopi tadi.
"Kak Ditya nggak apa-apa? Mana yang luka, coba aku lihat!" tanya Cyra terdengar panik.
"Aku tidak apa-apa! Pulanglah!" jawab Ditya ketus.
"Tapi, Kak, kamu terlihat kesakitan. Ayo, kami antar ke dokter," sahut Zizi yang juga sudah disana.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa, pulanglah!!" perintahnya keras.
Cyra bukannya menuruti perintah Ditya, dia justru semakin mendekat kearah suaminya dan hendak memeriksa luka wajah Ditya.
Sebelum Cyra menyentuh wajahnya, Ditya sudah lebih dulu menepis tangan gadis itu dan berlari ke belakang.
Cyra yang ikut berlari mengejar dicegah oleh karyawan lain.
"Maaf, selain karyawan dilarang masuk!" cegah rekan kerja Ditya.
__ADS_1
"Tapi, aku adiknya! Aku mau lihat keadaannya!" keukeuh Cyra.
"Maaf!! Siapapun kamu, selain karyawan dan pegawai cafe dilarang masuk!" tegas orang itu.
"Sudahlah, Ra! Kita pulang saja! Kita tunggu dirumah, ok?!"
Zizi yang menyusul Cyra berusaha menenangkan.
"Tapi, Zi!"
"Sudahlah! Kita pulang sekarang! Tunggu dia dirumah!"
Zizi menarik tangan Cyra dan mengajaknya pulang.
Sebenarnya Zizi ingin menunggu kepulangan Ditya. Dia juga penasaran dengan wajah laki-laki itu. Namun, telpon masuk dari papanya Zizi. Gadis itu disuruh cepat pulang karena ada kepinakannya yang baru datang dari luar kota yang terus menangis mencari keberadaan aunty-nya.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa Zizi tidak bisa menemani Cyra menunggu kepulangan Ditya. Dia hanya mengantarkan Cyra saja dan langsung pulang ditarik oleh bunyi ponsel yang terus berdering menanyakan keberadaannya.
Flasback off
Ceklekk!!
Pintu terbuka dari luar, lalu masuklah Ditya yang terus meringis menahan panas perih diwajahnya.
"Kamu sudah pulang?!"
Cyra yang tadinya sedang rebahan pun sontak bangun menyambut Ditya.
Dituntunnya suaminya agar duduk disofa bekasnya rebahan.
"Mana yang luka, sini aku obati!"
Cyra langsung mengambil salep luka bakar diatas meja, salep yang sengaja dibelinya sepulang dari cafe.
Ditya malah menutupi wajahnya dengan telapak tangannya saat Cyra bermaksud mengolesi wajahnya.
"Aku tidak apa-apa!" tepisnya.
"Tapi, Kak, wajahmu memerah hampir melepuh. Kalau tidak segera diobati, nanti semakin parah, bujuk Cyra.
"Sudah kubilang aku ..."
Cyra langsung membungkam mulut Ditya dengan telapak tangan kirinya sementara tangan kanan langsung mengoleskan salep luka bakar ke wajah sang suami.
__ADS_1
"Ssstt ...! Diam! Jangan meringis kalau tidak sakit!" gertak Cyra.
"Kalau meringis itu tandanya sakit. Dan itu artinya harus segera diobati," omelnya.
Ditya pun langsung terdiam dan membiarkan sang istri yang mengomelinya mengobati lukanya.
Meskipun barbar, tapi rupanya istrinya perhatian juga.
"Sshh!!" ringis Ditya karena menurutnya Cyra terlalu kasar mengolesi lukanya sehingga malah menambah sakitnya.
"Pelan-pelan! rintihnya lirih.
"I-iya, sorry!"
Cyra pun memelankan gerakannya mengoles.
Deg!
Deg!
Jantung keduanya berdetak kencang saat mata mereka bertemu dan terkunci. Mungkinkah keduanya mengalami gejala sakit jantung?!
Apalagi, wajah keduanya kini lumayan dekat. Bahkan, napas keduanya pun bisa mereka rasakan satu sama lain.
"Su-sudah!" celetuk Cyra menyudahi gerakannya mengoles.
Dilepaskannya juga tangan kiri yang rupanya tanpa disadarinya terus membungkam mulut sang suami.
Diputusnya tatapannya yang sempat terkunci dengan mengalihkan pandangan kearah lain.
"Terima kasih!" ucap Ditya menggenggam tangan istrinya yang tadi digunakan untuk membungkamnya
"I-iya!"
Cyra merasa tersipu.
"Aku ke kamar dulu, ya, ganti baju," pamitnya.
Buru-buru dia bangkit dari duduknya dan segera beranjak menuju kamar.
Dipegangnya dadanya yang masih berdetak kencang dari biasanya setelah menatap wajah Ditya dari dekat barusan.
Sementara itu, di ruang tamu, Ditya juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Disentuhnya mulutnya yang tadi dibungkam Cyra. Dia pun tersenyum sendiri karena pipinya tiba-tiba menghangat, menambah rona merah diwajahnya yang terasa terbakar akibat siraman kopi.